Hadits Manajemen 5: Menjadi Sebaik-Baik Pegawai

Hadits kelima pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah ini  membahas tentang “خير العمال أحسنهم أخلاقًا” (Sebaik-baik pegawai adalah yang paling baik akhlaknya).

Hal ini didasari pada hadits muttafaq alaih dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhuma, yang berkata:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu bukanlah orang yang keji dan bukan pula orang yang suka melakukan kekejian. Dan beliau berkata, ‘Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling bagus akhlaknya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pelajaran dari hadits ini adalah bahwa orang yang paling baik di antara kaum muslimin adalah yang paling bagus akhlaknya.

Tafsir Akhlak yang Baik (Husnul Khuluq)

Akhlak yang bagus ditafsirkan oleh Abdullah Ibnu Al-Mubarak Rahimahullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi, yaitu:

طَلَاقَةُ الْوَجْهِ، وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ، وَكَفُّ الْأَذَى

“Husnul khuluq (akhlak yang baik) adalah wajah yang berseri-seri, menyebarkan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Akhlak yang baik tercerminkan pertama kali dalam wajah yang ceria dan berseri-seri. Ketika seseorang datang ke suatu tempat dan disambut dengan wajah yang ceria, ia merasa senang. Ini adalah efek baik dari akhlak yang bagus.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah meremehkan kebaikan walaupun sedikit,” dan “walaupun engkau menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” Selain itu, beliau bersabda:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu itu sedekah.” (HR. Tirmidzi)

1. Wajah yang berseri-seri dan ceria mendatangkan pahala dan keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang akhlaknya baik tidak mungkin memiliki wajah yang masam atau cemberut, melainkan suka senyum.

2. Menebarkan dan memberikan kebaikan, serta memberikan manfaat kepada orang lain, adalah ciri orang yang akhlaknya baik.

3. Menahan diri dari menyakiti orang lain, baik melalui lisan maupun perbuatan, merupakan bagian dari akhlak yang baik. Seseorang yang menahan lisannya dan tangannya dari menyakiti orang lain adalah orang yang baik.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang sifat seorang muslim:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari gangguan lisannya dan selamat dari gangguan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika lisan dan tangan seseorang terjaga dari menyakiti orang lain, tidak suka menggunjing, mencaci, dan perbuatannya tidak merepotkan atau membuat orang lain tidak nyaman, maka ia memiliki akhlak yang baik.

Menahan diri dari menyakiti atau mengganggu orang lain memiliki banyak bentuk, tidak hanya dengan lisan atau tangan. Misalnya, orang yang berakhlak baik akan memperhatikan apakah kendaraannya mengganggu orang lain, seperti knalpot yang memekakkan telinga.

Sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, wajib bagi setiap muslim memiliki akhlak yang baik karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus untuk menyempurnakannya. Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Malik)

Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah akhlak yang paling baik.

Ukuran Kebaikan Sejati

Kembali pada hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan orang yang keji (fahisyan) dan bukan orang yang suka melakukan perbuatan keji (mutafahhishan). Beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ukuran orang yang paling baik di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, bukan yang paling banyak mobil, rumah, atau hartanya.

Penulis Hafidzahullahu Ta’ala menyebutkan bahwa sifat yang paling urgen dan agung yang harus dimiliki oleh seorang pegawai, bahkan oleh setiap mukmin, adalah sifat akhlak yang bagus (husnul khuluq).

Akhlak yang baik diibaratkan seperti pakaian. Seseorang yang memakainya akan semakin indah, semakin baik, dan semakin bercahaya.

Seorang pegawai yang memiliki akhlak yang baik akan dicintai di antara manusia. Manusia lebih menyukai orang yang suka senyum, toleransi tinggi, dan tidak mempermasalahkan hal-hal sepele.

Cinta manusia terwujud dalam beberapa bentuk:

  • Jika tidak hadir, ia dicari-cari.
  • Jika sakit, banyak manusia yang menjenguk.
  • Jika terkena musibah, orang merasa sedih dan tergerak untuk menolong.

Sebaliknya, orang yang akhlaknya buruk malah didoakan kejelekan.

Orang yang memiliki akhlak yang baik seakan-akan membangun jembatan cinta antara dirinya dengan makhluk lain, yang membuat orang lain mencintainya.

Akhlak Agung dan Kesempurnaan Teladan

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Qalam ayat keempat:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Ayat ini mengabarkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di atas akhlak yang agung. Oleh karena itu, jika ingin memiliki akhlak yang baik, wajib mencontoh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena apa yang ada pada beliau adalah sempurna.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad)

Ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik sudah ada, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus untuk menyempurnakannya. Jika seseorang ingin menimbang baik atau tidaknya akhlak, timbangannya adalah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seseorang tidak mungkin bisa mengetahui akhlak yang baik kecuali dengan mempelajarinya. Ada orang yang salah pengertian, menganggap suatu akhlak baik, padahal keliru dan tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sebagai contoh, ada seorang sahabat mulia yang bernama Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu sepulang dari Syam. Beliau melihat rakyat di sana bersujud kepada pendeta tersebut. Muadz berpandangan bahwa tindakan itu bagus jika diperuntukkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika kembali ke Madinah, beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau bersujud.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang tindakan itu seraya bersabda:

فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Janganlah kalian melakukan hal itu. Kalau seandainya aku boleh memerintahkan kepada seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku akan perintahkan wanita bersujud kepada suaminya.” (H.R Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Ini adalah pelajaran penting bahwa akhlak juga harus dipelajari. Tidak semua akhlak yang dianggap baik oleh manusia dianggap baik menurut Islam. Namun, jika itu adalah akhlak Nabi dan akhlak Islam, pasti baik, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merekomendasikannya.

Contoh lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” (HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi)

Pandangan Islam menunjukkan bahwa laki-laki tidak bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya. Namun, sebagian orang menganggap bersalaman sebagai bentuk sopan santun yang baik, padahal ini tidak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Wajib bagi umat Islam mempelajari bagaimana akhlak Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling bagus akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penegasan ini datang dari sahabat mulia Anas bin Malik yang hidup 10 tahun mendampingi dan berkhidmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selama itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mencaci maki atau marah kepada Anas.

Muamalah yang dijalin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan dalam waktu yang singkat. Hal ini disaksikan oleh orang yang langsung berinteraksi dengan beliau, yaitu Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Seseorang dapat menilai karakter sejati orang lain dari orang yang berinteraksi dengannya setiap hari, seperti pembantunya.

Anas bin Malik telah berkhidmat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama 10 tahun, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah sekali pun marah, mencaci, atau berlaku kasar kepadanya. Oleh karena itu, Anas bin Malik berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bagus akhlaknya.”

Penulis Hafidahullah menyatakan bahwa akhlak itu seperti rezeki. Allah Tabaraka wa Ta’ala membagi-bagikannya di antara makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Maka barang siapa yang diberi akhlak yang baik, sesungguhnya dia telah diberi rezeki yang besar.

Akhlak ternyata adalah rezeki juga. Akhlak yang baik jauh lebih berharga daripada harta benda. Akhlak itu seperti rezeki yang dibagi oleh Allah.

Orang yang memiliki akhlak yang baik akan dekat dengan Allah, dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan dekat dengan hati manusia. Semua manusia akan menyukainya. Kedekatan ini bukan hanya dicintai manusia, tetapi utama adalah dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang yang memiliki akhlak baik, meskipun shalat malamnya atau sedekahnya tergolong biasa, dapat memiliki kedudukan tinggi dan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhirat. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Tirmidzi dari Jabir radhiallahu anhu:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai, dan yang majelisnya paling dekat denganku di hari kiamat, adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

Orang yang paling dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan majelisnya paling dekat adalah mereka yang tidak mudah marah, selalu tersenyum, tidak membesar-besarkan masalah kecil, menyebarkan kebaikan, serta lisan dan tangannya terjaga dari menyakiti orang.

Akhlak yang Baik Memberatkan Timbangan Amal

Dari Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tiada sesuatu pun yang lebih berat pada timbangan seorang mukmin di hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci orang yang keji dan suka berkata kotor.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Akhlak yang baik memiliki keutamaan tersendiri. Seseorang ingin timbangan amal kebaikannya banyak dan berat di hari kiamat, dan ternyata hal itu didapatkan dari akhlak yang baik. Meskipun seseorang tidak memiliki harta atau ibadahnya terlihat biasa saja, dengan akhlak yang baik, timbangan amalnya menjadi berat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci orang yang kata-katanya keji, jelek, dan buruk. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan: وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ (Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata kotor). Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing kita untuk berkata dengan perkataan yang baik.

Akhlak Baik Cerminan Kesempurnaan Iman

Akhlak yang baik sangat erat kaitannya dengan kesempurnaan iman. Dari Abu Darda radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istri mereka.” (HR. Tirmidzi)

Ini menunjukkan kaitan erat antara iman dan akhlak. Semakin baik dan sempurna iman seseorang, semakin baik pula akhlaknya. Salah satu cerminan kebaikan seseorang yang paling jujur adalah perlakuan terhadap istrinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah teladan orang yang paling baik kepada istrinya.

Akhlak yang baik merupakan sebab yang besar seseorang dapat masuk surga. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan orang ke surga. Beliau bersabda:

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan orang ke neraka. Beliau menjawab:

الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi)

Dua hal ini—mulut dan kemaluan—banyak menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Mulut (lisan) dapat menyebabkan pertengkaran dan permusuhan. Sebaliknya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menempatkan akhlak yang baik sebagai salah satu sebab utama masuk surga, menunjukkan bahwa orang yang suka memaafkan dan tidak mencari masalah adalah orang mulia yang ditunggu oleh surga.

Ciri Pegawai yang Sukses

Pegawai yang sukses adalah orang yang mempraktikkan akhlak yang terpuji dalam kehidupan sehari-hari, baik bersama rekan kerjanya maupun dengan para klien atau pihak yang dilayani.

Seorang pegawai yang sukses bersikap baik di depan kawannya, ceria, dan tidak mudah marah (humble). Ketika berhadapan dengan klien, ia tidak menyusahkan, melainkan melayani dengan senyum dan menyelesaikan urusan dengan mudah.

Motivasi utamanya adalah mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, bukan dari manusia atau pimpinan.

Penulis menutup pembahasan hadits kelima, “خير العمال أحسنهم أخلاقًا” (Sebaik-baik pegawai adalah yang paling baik akhlaknya). Akhlak yang mulia adalah kunci utama, meskipun terkadang mempraktikkannya di tengah masyarakat yang menganggap akhlak baik (seperti kejujuran) sebagai hal yang aneh atau asing, merupakan ujian yang besar.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 14 Rabi’ul Akhir 1447 / 6 Oktober 2025 M. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang…

Hadits keenam pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan ترك الفُحش (meninggalkan perbuatan keji). Pembahasan ini menekankan…

Hadits keempat pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan menjaga kehormatan dalam mencari harta. Umat Islam sangat…

Perdalam Ilmu Zakat dan Fiqh Muamalah, Langganan Sekarang!

Subscription Form
Scroll to Top