Hadits Manajemen 6: Meninggalkan Perbuatan Keji

Hadits keenam pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan ترك الفُحش (meninggalkan perbuatan keji). Pembahasan ini menekankan kembali pentingnya menjauhi al-fuhsy (perbuatan keji).

Hadits tersebut diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, dia mengabarkan sifat mulia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah orang yang keji dan bukan pula orang yang menyengaja berbuat keji.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Definisi Perbuatan Keji

Ada yang mendefinisikan Al-Fuhsy sebagai sesuatu yang dibenci oleh tabiat manusia dari amal-amal lahir yang hina, sebagaimana diingkari oleh akal dan dianggap buruk oleh syariat. Tabiat manusia tidak menyukai perbuatan itu, akal pun mengingkarinya, apalagi syariat Islam.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat ke-37 tentang sifat orang-orang yang baik yang akan mendapatkan kebaikan dan masuk surga:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf.” (QS. Asy-Syura [42]: 37)

Ayat ini menyebutkan salah satu sifat orang yang baik adalah menjauhi perbuatan keji.

Dampak Sifat Keji

Al-Fuhsy (sifat keji) adalah sifat yang tercela dan buruk. Allah Tabaraka wa Ta’ala mensucikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari sifat ini. Kita semua diperintahkan untuk mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena beliau adalah teladan yang baik:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, benar-benar ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Orang yang memiliki sifat keji dibenci oleh Allah dan dibenci oleh makhluk. Orang yang dekat maupun jauh tidak menyukai orang yang memiliki sifat keji, mereka akan lari dan tidak mau dekat dengannya.

Di antara sifat keji adalah lisannya yang buruk. Yaitu mengungkapkan perkara-perkara yang jelek dengan ungkapan-ungkapan yang terus terang atau kasar, disertai kekejian dalam ucapan, seperti mencaci dan menghina. Hal ini tetap termasuk sifat jelek, meskipun perkataan yang diucapkan mungkin benar dan sesuai dengan kenyataan.

Bahaya Kekejian dalam Ucapan dan Perbuatan

Ibnu Hajar Rahimahullahu Ta’ala menegaskan:

أَنَّ مُلَازَمَةَ الشَّرِّ وَالْفُحْشِ مِنَ الْكَبَائِرِ

“Sesungguhnya terus-menerus dalam keburukan dan kekejian  termasuk dosa besar.”

Ibnu Hajar Rahimahullah berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan betapa buruknya kedudukan orang yang keji di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَلنَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena mereka takut dari kekejiannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang dijauhi oleh manusia karena takut akan kekejiannya—ucapannya kasar, kotor, suka mencela, dan mudah menyakiti—adalah orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalil kedua yang menguatkan bahwa al-fuhsy bukan bagian dari Islam adalah perkataan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah:

أَنَّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ لَيْسَ مِنَ الْإِسْلَامِ فِي شَيْءٍ، وَأَنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ إِسْلَامًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Sesungguhnya perbuatan keji dan menyengaja berbuat keji sama sekali bukan dari Islam. Manusia yang paling bagus Islamnya adalah yang paling bagus akhlaknya.

Islam berlepas diri dari perbuatan keji. Apalagi jika ada seorang dai yang menyeru kepada Islam, tetapi ucapan-ucapannya kasar, kotor, dan jorok, hal itu dipastikan bukan dari Islam, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad Rahimahullah.

Terlebih lagi, mencela pemerintah atau pemimpin dengan ucapan yang kotor, itu bisa dipastikan bukan dari Islam. Walaupun dia seorang penceramah.

Kedzaliman adalah Kegelapan

Penulis, Dr. Abdullah bin Ibrahim, membawakan hadits dari Abdullah bin Amr ibnul Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلَا التَّفَحُّشَ وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْبُخْلِ فَبَخِلُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا

“Kedzaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di hari kiamat. Dan hati-hati kalian dari perbuatan keji (al-fuhsy), karena sesungguhnya Allah tidak mencintai perbuatan keji dan tidak pula menyengaja berbuat keji (at-tafahhusy). Dan hati-hati kalian dari sifat bakhil (asy-syuhh), karena sesungguhnya sifat bakhil itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat bakhil memerintahkan mereka untuk memutus silaturahim, lalu mereka memutusnya. Dan ia memerintahkan mereka untuk bakhil (kikir), lalu mereka kikir. Dan ia memerintahkan mereka untuk berbuat maksiat (fujur), lalu mereka berbuat maksiat.” (HR. Ahmad)

Kedzaliman adalah sesuatu yang menjegal siapa pun di hari kiamat. Ini merupakan peringatan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar umatnya menjauhi kedzaliman, baik dengan lisan maupun perbuatan. Kedzaliman, meskipun luput di dunia, tidak akan luput di akhirat.

Kedzaliman yang dilakukan kepada orang lain, jika orang yang didzalimi itu berdoa, doanya akan makbul (diterima).

Sebagai contoh, pada masa Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, beliau pernah didzalimi oleh Ahmad bin Abi Duad. Ketika Imam Ahmad mendakwahkan aqidah Ahlus Sunnah bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah), penguasa saat itu berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ahmad bin Abi Duad memasukkan Imam Ahmad ke penjara dan mencambuknya dengan cambukan yang bisa merobohkan unta, hingga tubuh Imam Ahmad harus dijahit.

Imam Ahmad bin Hanbal kemudian berdoa: “Ya Allah, dia dzalim kepadaku. Maka dengan sebab dia, aku dipenjara, penjarakan dia.” Doa Imam Ahmad yang terdzalimi dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnu Katsir Rahimahullah mencatat bahwa Ahmad bin Abi Duad sebelum meninggal terkena penyakit falij (lumpuh sebelah). Ketika ditanya tentang apa yang menimpanya, dia menjawab: “Aku terkena doa Imam Ahmad bin Hanbal.”

Dia bersumpah: “Demi Allah, tubuhku yang sebelah kanan, seandainya ada lalat hinggap di atasnya, saya rasakan seperti gunung-gunung meruntuhiku (saking sakitnya).” Sementara itu, tubuhnya yang sebelah kiri, dia bersumpah: “Demi Allah, tubuhku yang sebelah kiri, seandainya dicincang-cincang dengan senjata tajam, saya tidak merasakan sakit sedikit pun.”

Contoh yang lain, kisah Arwa binti Uwais. Ia adalah seorang wanita yang pernah menuduh salah seorang sahabat mengambil tanahnya secara paksa. Wanita tersebut akhirnya tertimpa doa dari sahabat tersebut, sehingga ia buta matanya.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ” (Kedzaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di hari kiamat). Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan peringatan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ

“Hati-hati dari perbuatan keji (al-fuhsy), karena sesungguhnya Allah tidak mencintai perbuatan keji dan keji yang dibuat-buat (at-tafahhusy).”

Bahaya Sifat Bakhil

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memperingatkan untuk menjauhi sifat bakhil (pelit/kikir):

وَإِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Hati-hati dari sifat bakhil, karena sesungguhnya sifat bakhil ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Muslim)

Sifat bakhil dapat membawa pada tiga kebinasaan:

  1. Mengingkari silaturrahim: Sifat ini memerintahkan mereka untuk memutus tali silaturahim, lalu mereka melakukannya.
  2. Bersikap kikir: Sifat ini memerintahkan mereka untuk bakhil (kikir), lalu mereka melakukannya.
  3. Berbuat maksiat: Sifat ini memerintahkan mereka untuk berbuat fujur (maksiat/dosa), lalu mereka melakukannya.

Islam yang Paling Utama

Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, Islam apakah yang lebih utama?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

أَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ

Orang-orang muslim yang lain dapat selamat dari lisanmu dan dari tanganmu.

Kemudian, orang tersebut atau orang lain berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, hijrah apakah yang paling utama?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

أن تَهجُرَ ما كَرِهَ ربُّكَ

“Engkau meninggalkan apa yang dibenci oleh Tuhanmu.” (HR. Ahmad)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ditanya mengenai Islam yang paling utama, bersabda: “Orang-orang Islam itu selamat dari lisanmu dan dari tanganmu.”

Apabila seseorang memiliki ucapan atau perbuatan yang jelek dan menyakiti kaum muslimin atau saudaranya, berarti keislamannya tidak baik. Sebaliknya, jika orang lain tidak merasa tersakiti dengan lisan dan tangannya, maka keislaman orang tersebut adalah baik.

Wajib bagi setiap muslim menjaga lisan agar tidak mengeluarkan ucapan yang jelek, buruk, atau menyakiti orang lain. Terlebih lagi dalam lingkungan kerja, menjaga lisan dan ucapan adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Lisan memiliki dampak yang sangat serius.

Akhlak Baik Memberatkan Timbangan Kebaikan

Diriwayatkan dari Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan hamba seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci orang yang keji dan orang yang berkata dengan kekejian.” (HR. At-Tirmidzi dan yang lainnya)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa timbangan amal di Hari Kiamat diberatkan oleh akhlak yang baik. Tidak ada sesuatu pun yang lebih memberatkan timbangan kebaikan hamba yang beriman daripada akhlak yang baik.

Al-Badzi’ yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah orang yang berbicara dengan keji dan ucapannya buruk, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi Radhiyallahu ‘Anhu.

Oleh karena itu, dianjurkan untuk berakhlak baik. Contoh akhlak yang baik adalah datang ke tempat kerja dengan senyum dan mengucapkan salam, berbicara dengan perkataan yang baik, menahan diri dari ucapan yang kotor, mencela, dan merendahkan orang lain.

Akhlak yang baik ditandai dengan wajah yang berseri-seri dan menahan diri dari menyakiti orang lain. Jika seseorang memiliki wajah yang cemberut atau masam, kemungkinan ia memiliki akhlak yang buruk atau sedang menghadapi masalah berat.

Ibnu Al-Mubarak menyatakan bahwa akhlak yang baik memiliki tiga pilar: wajah yang berseri-seri, menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain—dengan menahan lisan dan tangan—, dan selalu memberikan kebaikan.

Contoh Perkataan Yang Buruk

Penulis memberikan beberapa contoh perbuatan lisan yang buruk dan tercela:

Mencela dan Melaknat: Ada di antara manusia yang melatih lisannya untuk mencela, melaknat, atau memaki. Orang tersebut terbiasa mengucapkan laknat, baik melaknat orang, tempat, atau bahkan binatang. Perilaku ini menunjukkan akhlak yang buruk.

Merobek Kehormatan: Ada pula yang lisannya terbiasa untuk merobek kehormatan orang lain.

Mencela saat Bertikai: Ketika seseorang memiliki masalah atau pertikaian dengan saudaranya sesama muslim, keburukan akhlaknya akan terlihat. Lisannya tidak bisa ia tahan sehingga ia mencela saudaranya.

Perkataan yang keji adalah penyakit yang berbahaya dan keburukan yang luas. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan hal tersebut atas hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 33:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melampaui batas tanpa hak, (mengharamkan) berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan dalil padanya, dan (mengharamkan) berbicara tentang Allah dengan tanpa ilmu.’” (QS. Al-A’raf [7]: 33)

Poin utama (asy-syahid) dari ayat tersebut adalah kalimat al-fawāhish (perbuatan keji) yang Allah haramkan.

Maka, sifat yang terpuji ini dan perangai yang luhur ini (yaitu tidak berbuat keji, tidak berkata keji, dan tidak menyengaja berbuat keji) wajib dimiliki setiap muslim, khususnya pegawai yang bertugas mengurusi kemaslahatan kaum muslimin, saudaranya kaum muslimin. Jika ia memilikinya, ia akan menjadi makhluk yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 12 Jumadil Awal 1447 H / 3 November 2025. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang…

Hadits kelima pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah ini  membahas tentang “خير العمال أحسنهم أخلاقًا” (Sebaik-baik pegawai adalah…

Hadits keempat pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan menjaga kehormatan dalam mencari harta. Umat Islam sangat…

Perdalam Ilmu Zakat dan Fiqh Muamalah, Langganan Sekarang!

Subscription Form
Scroll to Top