Hadits Manajemen 7: Meninggalkan Perdebatan Sia-sia

Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang sia-sia, perdebatan, dan bantahan tanpa faedah).
Di lingkungan kerja atau kehidupan sehari-hari, sering terjadi dialog atau perdebatan yang meruncing. Penting mengetahui sikap yang tepat dalam masalah ini.
Diriwayatkan dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
“Aku menjamin dengan sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan (al-mira’) meskipun dia berada di pihak yang benar. Dan (aku menjamin) dengan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta (al-kadzib) meskipun dia bercanda. Dan (aku menjamin) dengan sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang akhlaknya baik.” (HR. Abu Dawud)
Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berbicara, hal itu pasti benar, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ ﴿٤﴾
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. (Ucapannya) itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjamin tiga jenis rumah di surga bagi orang yang mengamalkan tiga perkara:
1. Meninggalkan Perdebatan Walaupun Benar
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku menjamin dengan sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan (al-mirā’) meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud)
Apabila seseorang berbincang dengan orang lain yang tidak mau mengalah, padahal dia berada di pihak yang benar, hendaknya dia meninggalkan perdebatan tersebut. Ini dilakukan dengan harapan mendapatkan jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa rumah di tepi surga. Mendapatkan satu rumah di dunia sudah menjadi kebahagiaan, apalagi rumah di surga meskipun di tepinya.
2. Meninggalkan Kebohongan Walaupun Bercanda
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا
“Dan (aku menjamin) dengan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta (al-kadzib) meskipun dia bercanda.” (HR. Abu Dawud)
Orang yang menjaga dirinya dari berbohong, meskipun dalam candaan, dijamin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan rumah di tengah surga, yang kedudukannya lebih tinggi.
3. Memiliki Akhlak yang Baik
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
“Dan (aku menjamin) dengan sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang akhlaknya baik.” (HR. Abu Dawud)
Jaminan rumah di surga yang paling tinggi ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan akhlak yang baik dalam Islam.
Debat kusir, perdebatan, dan bantahan merupakan sebab dua belah pihak menjadi berpaling atau saling menjauh. Perdebatan juga menjadi jalan menetapnya kebencian di hati dua orang yang berdebat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan tentang bahaya perdebatan sia-sia ini.
Seseorang yang terus meniti jalan perdebatan yang sia-sia dan mengedepankan jidal (perdebatan) serta mira’ (bantahan) tidak akan mendapatkan taufik dan bimbingan untuk mencapai kebaikan. Keinginan utamanya hanyalah menang dan mendiamkan orang lain.
Gaya hidup yang selalu ingin menang ini dapat membuat hidup terasa seperti kompetisi yang melelahkan. Orang yang memiliki sifat ini akan cenderung tersesat setelah mendapatkan hidayah dan terpeleset ke jalan kesesatan. Musibah-musibah akan datang menimpa dirinya.
Penting untuk diperhatikan, Al-Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala pernah berkata:
الْمِرَاءُ فِي الدِّينِ يُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُورِثُ الضَّغَائِنَ
“Berdebat dalam agama itu dapat mengeraskan hati dan mewariskan kebencian-kebencian di hati.”
Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala juga pernah berkata:
مَا نَاقَشْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ، وَمَا نَاقَشْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي
“Aku tidak berdebat dengan orang alim (berilmu) melainkan aku pasti mengalahkannya, dan aku tidak berdebat dengan orang bodoh (jahil) melainkan ia pasti mengalahkanku.”
Hal ini karena Imam Syafi’i berdebat dengan ilmu, sehingga ulama lain akan kalah. Namun, orang jahil yang tidak memiliki kaidah, hanya mengedepankan ucapan tanpa malu dan tanpa ilmu, membuat Imam Syafi’i merasa dikalahkan.
Jidal Adalah Jalan Kesesatan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ
“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapatkan petunjuk yang ada pada mereka, melainkan ketika mereka diberi perdebatan (jadal).” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa jidal (perdebatan yang tercela) dapat menyesatkan suatu kaum.
Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacakan firman Allah Ta’ala dalam Surah Az-Zukhruf ayat 58:
…مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا…
“Mereka tidak membuat perumpamaan itu kepadamu melainkan hanya untuk berdebat (jadal).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 58)
Ayat ini berbicara tentang orang-orang musyrik yang membuat perumpamaan-perumpamaan hanya untuk tujuan mendebat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan membantah kebenaran.
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang keras permusuhan lagi suka mendebat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini merupakan pelajaran penting dalam pergaulan sehari-hari untuk menjauhi sifat keras dalam permusuhan dan gemar berdebat.
Diskusi yang Benar
Setelah menyebutkan jidal yang tercela, penulis memberikan nasihat tentang jenis diskusi (hiwar) atau dialog (munaqasyah) yang dibolehkan:
Diskusi menjadi baik apabila niatnya adalah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertujuan mencari kebenaran (al-haq), bukan untuk membela diri atau memenangkan pendapat sendiri. Hal ini didasarkan pada kaidah:
“Hikmah adalah barang hilang bagi seorang mukmin. Dan seorang mukmin adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkannya di mana pun ia menemukannya.”
Penulis memberikan perumpamaan: Jika seseorang memiliki unta yang hilang, lalu unta itu ditemukan oleh orang lain, tentu ia akan mengucapkan “Jazakallahu Khairan (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan)” kepada penemu tersebut.
Begitu pula dalam diskusi. Apabila seseorang sedang membahas suatu masalah dan ternyata kebenaran (al-haq) itu ada pada lawan bicara, ia harus menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Seharusnya ia berkata: “Jazakallahu Khairan, saya mencari kebenaran, dan kebenaran itu telah ada pada engkau sebelum saya, lalu engkau memberikannya kepada saya.” Kebenaran adalah barang yang baik yang sempat hilang, sehingga ketika ditemukan, wajib diterima dan disyukuri.
Nasihat Penutup Hadits Ketujuh
Penulis menasihati bahwa tidaklah patut seorang muslim menyibukkan dirinya dengan berdebat (jidal) dan membangkang (inad).
Sifat ini sering terjadi di antara para pekerja atau pegawai di tempat kerja. Apabila yakin bahwa perdebatan, dialog, atau diskusi yang diteruskan akan menghantarkan kepada perpecahan dan saling menjauh, maka sebaiknya minta untuk menghentikan majelis dan menangguhkan dialognya ke waktu yang lain.
Penghentian ini harus dilakukan sebelum perdebatan berakhir dengan saling membenci yang dapat merusak agama. Ini adalah manajemen yang bagus dalam berinteraksi: meninggalkan perdebatan yang sia-sia dan tidak bagus.
Ingat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjamin surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan kusir. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik untuk mengamalkannya.
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 12 Jumadil Awal 1447 H / 3 November 2025. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 6: Meninggalkan Perbuatan Keji
Hadits keenam pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan ترك الفُحش (meninggalkan perbuatan keji). Pembahasan ini menekankan…

Hadits Manajemen 5: Menjadi Sebaik-Baik Pegawai
Hadits kelima pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah ini membahas tentang “خير العمال أحسنهم أخلاقًا” (Sebaik-baik pegawai adalah…

Hadits Manajemen 4: Menjaga Kehormatan dalam Mencari Harta
Hadits keempat pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan menjaga kehormatan dalam mencari harta. Umat Islam sangat…
