Hadits Manajemen 10: Memilih Perkataan yang Baik dalam Berinteraksi

Hadits kesepuluh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang pentingnya memilih perkataan yang baik di dalam berinteraksi.
Ketika seseorang memasuki sebuah kebun buah atau mendatangi toko buah, ia pasti akan memilih buah yang kualitasnya bagus dan meninggalkan buah yang busuk atau jelek. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para ulama memberikan gambaran bahwa dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seorang muslim juga dianjurkan untuk menyaring dan memilih kata-kata yang baik sebelum diucapkan.
Tuntunan ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya dari sahabat Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا
“Sesungguhnya di surga itu terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya dapat dilihat dari bagian luarnya.” (HR. Al-Baihaqi)
Mendengar penjelasan mengenai fasilitas surga yang sangat luar biasa tersebut, sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu bertanya untuk mengetahui kriteria calon penghuninya:
“Untuk siapakah kamar-kamar tersebut, wahai Rasulullah?”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memberikan jawaban mengenai tiga amalan utama yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan anugerah tersebut:
لِمَنْ أَلَانَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَبَاتَ لِلَّهِ قَائِمًا وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Untuk orang yang melembutkan perkataannya, orang yang memberikan makanan, dan orang yang senantiasa mendirikan shalat malam karena Allah pada saat manusia sedang tidur.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadits tersebut menerangkan tentang keberadaan gurfah di dalam surga. Secara bahasa, gurfah diterjemahkan sebagai kamar, namun para ulama menjelaskan maknanya sebagai kedudukan atau tempat tinggal yang tinggi dan sangat istimewa di surga. Keistimewaan tempat ini terletak pada dindingnya yang transparan, di mana bagian luar dan dalamnya saling tampak.
Amalan pertama untuk meraih tempat istimewa ini adalah orang yang perkataan nya baik. Amalan kedua adalah gemar memberikan makanan kepada orang lain, yang mencerminkan sifat kedermawanan dan kepedulian sosial yang tinggi melalui ibadah sedekah. Amalan ketiga adalah konsisten mendirikan shalat malam disaat manusia lainnya sedang terlelap tidur.
Hubungan antara Perkataan Lembut, Kesabaran, dan Gurfah
Melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan balasan berupa kedudukan yang tinggi di surga (gurfah) bagi hamba-Nya yang mampu menjaga tutur kata agar tetap lemah lembut. Ketetapan ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا
“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka.” (QS. Al-Furqan[25]: 75)
Gurfah merupakan balasan bagi hamba-hamba pilihan (Ibadurrahman). Karakter utama dari hamba-hamba pilihan tersebut juga dijelaskan pada bagian awal rangkaian ayat tersebut:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
“Adapun hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan[25]: 63)
Rangkaian ayat tersebut memberikan penjelasan yang sangat kuat bahwa bertutur kata dengan lemah lembut merupakan sifat dasar dari orang-orang yang saleh. Karakter ini lahir dari lubuk hati yang tulus, rendah hati, serta tunduk sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang yang saleh senantiasa berinteraksi dengan sesama makhluk menggunakan kelemahlembutan, baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan. Atas dasar sifat mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjanjikan balasan yang sangat istimewa berupa surga, bahkan ditempatkan di dalam gurfah (kamar-kamar tinggi yang indah).
Karakter Pegawai yang Mendapat Taufik
Seorang karyawan atau pegawai yang mendapatkan taufik adalah sosok yang pandai memilih kalimat serta ungkapan terbaik di dalam berbicara. Dari lisannya, tidak akan terdengar kecuali kata-kata yang indah dan baik. Ia sepenuhnya menghindari kata-kata yang kotor, jorok, maupun ungkapan yang dapat melukai perasaan orang lain.
Pegawai yang demikian memahami bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan sensitivitas. Oleh karena itu, ia sangat menjaga dan memperhatikan hati orang lain. Sebelum berbicara, ia menyaring dan memilih ucapan yang terbaik, layaknya seseorang yang sedang memilih buah-buahan yang bagus dan segar di toko buah serta membuang buah yang busuk.
Sikap ini selaras dengan prinsip tenggang rasa. Apabila seseorang merasa sakit ketika dicubit atau dihina, ia menyadari bahwa orang lain pun akan merasakan sakit yang sama jika diperlakukan demikian. Penjagaan terhadap lisan ini sangat ditekankan di dalam Islam, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa orang yang senantiasa memilih perkataan baik akan mendapatkan tempat tertinggi di surga-Nya.
Sifat Manusia yang Diharamkan dari Api Neraka
Selain jaminan surga, orang yang menjaga lisan dan sikapnya juga mendapatkan jaminan kebebasan dari siksa api neraka. Hal ini ditegaskan di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ
“Diharamkan atas api neraka setiap orang yang hayyin (tenang dan berwibawa), layyin (lemah lembut), santun, dan mudah dalam bermuamalah.” (HR. Tirmidzi)
Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa api neraka tidak akan menyentuh orang-orang yang memiliki empat sifat utama tersebut. Setiap muslim yang menghiasi dirinya dengan karakter-karakter mulia ini akan mendapatkan perlindungan dari siksa api neraka.
Kedudukan Tinggi di Sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sikap konsisten dalam menyaring dan memilih tutur kata yang baik akan mengantarkan seorang hamba pada kedudukan yang sangat mulia di akhirat kelak. Hal ini ditegaskan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan dihasankan oleh Syekh Albani dalam kitab Shahih At-Targhib nomor 1508.
Hadits tersebut bersumber dari sahabat Amr bin Abasah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ – وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ – رِجَالٌ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، يَغْشَى بَيَاضُ وُجُوهِهِمْ نَظَرُ النَّاظِرِينَ، يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ بِمَقْعَدِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Di samping kanan Ar-Rahman dan kedua tangan Allah adalah kanan ada orang-orang yang bukan para nabi dan bukan pula syuhada. Wajah-wajah mereka diliputi oleh cahaya putih yang memukau, sehingga para nabi dan syuhada merasa iri kepada mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka di sisi Allah Azza Wa Jalla.'” (HR. Thabrani)
Mendengar penjelasan mengenai kedudukan istimewa tersebut, para sahabat bertanya untuk mengetahui identitas golongan manusia yang beruntung itu:
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ جُمَّاعٌ مِنْ نَوَازِعِ الْقَبَائِلِ، يَجْتَمِعُونَ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ، فَيَنْتَقُونَ أَطَايِبَ الْكَلَامِ كَمَا يَنْتَقِي آكِلُ التَّمْرِ أَطَايِبَهُ
“Dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka?’ Rasulullah menjawab, ‘Mereka adalah sekelompok orang dari berbagai kabilah yang berbeda, yang berkumpul untuk berdzikir mengingat Allah, lalu mereka memilih-milih perkataan yang terbaik sebagaimana orang yang memakan kurma memilih kurma yang terbaik.'” (HR. Thabrani)
Golongan yang menempati kedudukan sangat tinggi ini bukanlah kelompok yang disatukan oleh hubungan nasab atau kekeluargaan. Mereka berasal dari latar belakang kabilah yang bermacam-macam, namun dipersatukan oleh aktivitas dzikir dan usaha bersama untuk senantiasa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karakteristik utama mereka adalah ketelitian di dalam menjaga lisan. Sebelum berbicara, mereka menyaring dan memilih kata-kata yang paling santun serta bermanfaat. Ilustrasi penyaringan kata ini persis seperti seseorang yang sedang disuguhi sekotak kurma, lalu ia memilih buah kurma yang paling bagus kualitasnya untuk dimakan dan menyisihkan kurma yang buruk. Upaya memilih tutur kata yang baik dan menahan diri dari ucapan buruk merupakan bentuk nyata dari latihan puasa lisan. Hakikat dari ibadah puasa adalah menahan diri. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada setiap muslim agar dapat mengamalkan tuntunan mulia ini, menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia, serta menempatkan kaum muslimin pada kedudukan yang tinggi di sisi-Nya kelak.
Di bulan Ramadhan yang mulia, umat Islam difasilitasi untuk menyibukkan diri dengan membaca Al-Qur’an. Langkah ini penting untuk diperhatikan karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya lisan yang tidak terjaga selama menjalankan ibadah puasa, Seorang muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa berkewajiban untuk menjauhi perkataan dusta. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan dusta adalah setiap ucapan yang diharamkan, termasuk di dalamnya perbuatan yang diharamkan. Mengenai hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan yang sangat keras:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan petunjuk tersebut, ibadah puasa tidak sekadar menahan diri dari makan, minum, serta hubungan suami istri di siang hari Ramadhan. Puasa juga menuntut komitmen yang lebih kuat untuk menjaga lisan dari ucapan yang keliru, buruk, dan berdosa, serta menahan anggota badan dari tindakan yang maksiat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa puasa terbagi menjadi dua dimensi, yaitu puasa jasmani dan puasa maknawi (ruhani). Saat fisik menahan lapar dan dahaga, aspek maknawi berupa lisan, telinga, serta mata juga harus berpuasa dari segala hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menarik Simpati Manusia Melalui Tutur Kata
Seseorang yang memiliki kualitas lisan yang terjaga akan selalu disukai oleh sesama manusia untuk dijadikan teman bermajelis. Hal ini menjadi salah satu metode terbaik untuk mendapatkan cinta dan simpati dari sesama, yaitu dengan memperhatikan cara berbicara serta isi pembicaraan.
Komunikasi yang ideal harus menggabungkan cara penyampaian yang santun dengan konten pembicaraan yang bermanfaat. Ketika dihadapkan pada dua pilihan karakter, yaitu seseorang yang berucap kasar dengan seseorang yang bertutur kata lemah lembut dan baik, setiap orang secara alamiah akan menjatuhkan pilihannya untuk lebih dekat dengan sosok yang lemah lembut.
Keindahan bermajelis dengan orang-orang yang menjaga lisannya diakui oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu melalui sebuah pernyataan yang mendalam:
لَوْلَا ثَلَاثٌ لَمَا أَحْبَبْتُ الْبَقَاءَ: لَوْلَا أَنْ أَحْمِلَ عَلَى جِيَادِ الْخَيْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمُكَابَدَةُ اللَّيْلِ، وَمُجَالَسَةُ أَقْوَامٍ يَنْتَقُونَ أَطَايِبَ الْكَلَامِ كَمَا يُنْتَقَى أَطَايِبُ التَّمْرِ
“Kalau bukan karena tiga perkara, niscaya aku tidak ingin hidup lebih lama di dunia ini: berkuda di jalan Allah (berjihad), bersusah payah mendirikan shalat di keheningan malam, dan duduk bersama orang-orang yang memilih tutur kata yang baik sebagaimana dipilihnya kurma yang paling bagus.”
Berdasarkan penuturan tersebut, berinteraksi dan ngobrol dengan orang-orang yang selalu menjaga lisannya dari ucapan kasar atau menyinggung perasaan mendatangkan kenyamanan dan ketenangan batin yang luar biasa. Sebaliknya, berkomunikasi dengan orang yang lisannya tajam hanya akan mendatangkan ketidaknyamanan serta sesak di dalam dada.
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 17 Syawal 1447 H / 6 April 2026 M. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 9: Kriteria Manusia Terbaik dan Terburuk
Hadits kesembilan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan motivasi kepada karyawan untuk senantiasa melakukan kebaikan. Hadits...

Hadits Manajemen 8: Banyak Bicara Bukan Sifat Karyawan Unggul
Hadits kedelapan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan prinsip bahwa banyak bicara bukan merupakan sifat dari...

Hadits Manajemen 7: Meninggalkan Perdebatan Sia-sia
Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang...