Hadits Manajemen 12: Kewajiban Berbuat Baik kepada Makhluk

Hadits keduabelas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang berbuat baik kepada makhluk. Tema mulia ini didasarkan pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu. Maka, apabila kamu membunuh, membunuhlah dengan cara yang baik. Dan apabila kamu menyembelih, menyembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang di antara kamu menajamkan pisaunya dan membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR. Muslim)

Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan hambanya untuk menerapkan prinsip ihsan atau berbuat baik dalam setiap aspek kehidupan. Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai perintah membunuh dengan cara yang baik tidak boleh disalah artikan sebagai legalitas untuk membunuh sesama manusia secara sembarangan. Konteks membunuh yang dimaksud di dalam hadits ini adalah tindakan membunuh dalam peperangan yang sah, atau membunuh hewan-hewan tertentu yang memang diperintahkan atau diperbolehkan oleh syariat untuk dibunuh karena sifatnya yang mengganggu.

Di dalam syariat Islam, terdapat beberapa jenis binatang pengganggu yang boleh dibunuh, baik di tanah halal maupun di tanah haram. Salah satu contoh binatang tersebut adalah tikus, yang di dalam lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dijuluki sebagai fuwaisiqah atau si fasik kecil.

Penamaan tersebut sangat beralasan karena tikus merupakan binatang perusak yang gemar menggerogoti berbagai barang rumah tangga, merusak instalasi kabel dapur hingga berpotensi memicu korsleting listrik, bahkan dapat menyebabkan kebakaran akibat menyenggol benda-benda yang memiliki api.

Meskipun syariat membolehkan manusia untuk membunuh tikus demi menghindari kerusakan, tindakan tersebut wajib dilakukan dengan cara yang baik dan cepat tanpa disertai unsur penyiksaan. Seseorang dilarang keras menyiksa hewan tersebut secara perlahan sebelum mati.

Fenomena di masyarakat menunjukkan adanya sebagian orang yang merasa sangat terganggu oleh suara tikus di langit-langit rumah dalam jangka waktu yang lama, lalu melampiaskan kekesalannya dengan cara mencari racun atau memasang perangkap ketika seekor tikus masuk ke dalam perangkap karena tertarik oleh umpan makanan, sebagian jenis perangkap memang tidak langsung mematikan hewan tersebut. Pada kondisi inilah sering kali terjadi tindakan penyiksaan yang dilarang di dalam Islam. Seseorang yang merasa kesal tidak diperbolehkan menyiksa tikus yang terperangkap, seperti memukul bagian ekornya secara perlahan hingga merambat ke bagian kepala sampai mati.

Membunuh hewan pengganggu yang merusak memang diperbolehkan oleh syariat, tetapi tindakan tersebut harus dilakukan secara cepat dan tanpa penyiksaan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan prinsip ini:

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ

“Maka, apabila kamu membunuh, membunuhlah dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)

Prinsip membunuh dengan cara yang baik ini juga diterapkan oleh kaum muslimin dalam kancah peperangan. Di dalam peperangan, kaum muslimin dilarang keras merusak atau mencincang jasad musuh yang telah mati. Tindakan mutilasi jasad merupakan kebiasaan musuh-musuh Islam yang sering kali membuat jasad para syuhada rusak hingga sulit dikenali, kecuali dari tanda khusus seperti bagian jari jemari yang dikenali oleh pihak keluarga. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa musuh yang telah mati di medan perang tidak boleh dirusak jasadnya.

Adab Menyembelih Hewan secara Ihsan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan tuntunan yang jelas mengenai tata cara menyembelih hewan agar bernilai ihsan. Tuntunan tersebut mencakup dua hal utama:

1. Menajamkan Alat Sembelih

Sebelum melakukan penyembelihan, seseorang wajib menajamkan pisau yang akan digunakan. Menyembelih hewan seperti kambing, sapi, atau ayam menggunakan pisau yang tumpul akan sangat menyiksa dan menyakiti hewan tersebut. Menajamkan pisau bertujuan agar proses kematian hewan berlangsung dengan sangat cepat tanpa rasa sakit yang berkepanjangan.

2. Menenangkan Hewan Sembelihan

Penyembelih wajib membuat hewan yang akan disembelih merasa nyaman dan tenang. Berdasarkan penjelasan di dalam hadits-hadits yang lain, dilarang keras menyembelih seekor hewan di hadapan hewan-hewan lainnya yang sedang mengantre untuk disembelih.

Tindakan menajamkan pisau di hadapan hewan yang akan disembelih atau menakut-nakutinya juga sangat dilarang. Para ulama menyebut tindakan tersebut dapat membuat hewan mati dua kali, yaitu mati karena rasa takut yang mencekam sebelum kematian fisik akibat sembelihan.

Makna Kewajiban Ihsan dalam Pandangan Syariat

Penggunaan kata “kataba” di dalam hadits dimaknai oleh para ulama dengan arti yaitu mewajibkan. Dengan demikian, berbuat baik atau ihsan kepada segala sesuatu hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim.

Formulasi kata ini serupa dengan penggunaan kata “kutiba” yang bermakna diwajibkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183)

Secara bahasa, kata al-ihsan merupakan lawan kata dari al-isa’ah yang berarti berbuat buruk atau merusak. Seseorang yang konsisten melakukan perbuatan baik disebut sebagai muhsin. Kata ihsan itu sendiri merupakan bentuk nomina (masdar) dari verba ahsana-yuhsinu-ihsanan yang merepresentasikan konsep berbuat baik secara sempurna dan menyeluruh di dalam kehidupan. Secara tata bahasa, muhsin merupakan bentuk pelaku (isim fa’il) dari kata ihsan. Bentuk jamak dari kata tersebut adalah mahasin. Ketika orang Arab menggunakan istilah al-mahasinu fil ‘amal, hal tersebut merujuk pada amal-amal yang baik atau elok. Lawan kata dari mahasin adalah al-masawi yang berarti keburukan-keburukan.

Keutamaan melakukan kebaikan ini digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an sebagai salah satu sebab seorang hamba mendapatkan surga sebagai tempat kesudahan yang terbaik:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, serta menolak keburukan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’d[13]: 22)

Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Melalui ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan kriteria hamba yang berhak mendapatkan tempat kesudahan yang mulia di akhirat. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna menolak keburukan dengan kebaikan adalah membalas setiap perilaku buruk, baik berupa perkataan kasar maupun perbuatan jahat dari orang lain, menggunakan tutur kata dan sikap yang baik.

Penerapan prinsip ini di dalam kehidupan sehari-hari memang terasa berat. Kecenderungan manusia pada umumnya ketika menerima perlakuan buruk adalah terpancing emosi dan membalasnya dengan keburukan serupa. Namun, ayat ini menjadi pengingat yang sangat berharga untuk melatih kesabaran.

Seseorang yang mendambakan surga harus melatih dirinya untuk memenuhi empat kriteria utama di dalam ayat tersebut:

Memiliki kesabaran yang didasari niat ikhlas mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Konsisten menegakkan shalat.
Gemar menginfakkan sebagian rezeki yang dimiliki, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Mampu menahan diri untuk membalas perbuatan buruk orang lain dengan kebaikan.

Beratnya ujian dalam membalas keburukan dengan kebaikan tercermin di dalam kisah teladan dari ulama tabi’ut tabi’in, Ibrahim bin Adham rahimahullah. Pada suatu hari, ketika beliau sedang berjalan, seorang Yahudi yang sedang menuntun seekor anjing menghampiri dan melontarkan pertanyaan yang bernada menghina:

“Wahai Ibrahim, apakah jenggotmu itu yang lebih suci, ataukah ekor anjing ini yang lebih suci?”

Pertanyaan yang mengandung unsur provokasi dan penghinaan tersebut umumnya akan memicu kemarahan bagi yang mendengarnya. Namun, Ibrahim bin Adham rahimahullah yang hatinya telah dipenuhi oleh keimanan dan kebersihan akhlak tidak terpancing untuk membalas dengan makian serupa. Beliau justru memberikan jawaban dengan sangat tenang dan santun:

“Jika jenggotku ini nanti masuk ke dalam surga, maka ia lebih suci daripada ekor anjingmu. Namun, jika jenggotku ini ternyata masuk ke dalam neraka, maka ekor anjingmu itu jauh lebih suci daripada jenggotku.”

Sikap tenang dan keluhuran akhlak yang ditunjukkan oleh Ibrahim bin Adham rahimahullah tersebut memberikan dampak yang luar biasa. Orang Yahudi yang awalnya berniat menghina seketika merasa takjub, hingga akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan beliau. Kisah ini membuktikan bahwa membalas keburukan dengan kebaikan memiliki kekuatan yang besar dalam menyentuh hati manusia.

Manfaat Mengkaji Ilmu dan Janji Surga bagi yang Menjaga Lisan

Mempelajari Al-Qur’an, hadits, serta mengkaji kisah perjalanan hidup para ulama terdahulu bertujuan agar manusia dapat memperbaiki sikap serta perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman agama yang baik akan membentuk kepribadian yang matang, seimbang (balance), tidak ekstrem, dan tidak mudah tersulut emosi.

Kemampuan untuk membalas keburukan dengan perkataan yang santun dan baik merupakan perkara yang dijanjikan ganjaran surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sikap mulia ini hanya mampu diwujudkan oleh orang-orang yang memiliki keimanan kokoh serta senantiasa mengharapkan pahala di sisi-Nya. Hal ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

“Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Yusuf[12]: 22)

Melalui janji tersebut, setiap muslim hendaknya terus melatih diri agar senantiasa mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik dari lisannya.

Makna Etimologi Kata Ihsan dalam Bahasa Arab

Secara bahasa, kata “hasan” berasal dari kata “hasuna”. Di dalam penggunaan tata bahasa Arab, terdapat ungkapan hassantusy-syai’a tahsinan yang bermakna menghiasi atau memperindah sesuatu.

Sebagai ilustrasi, sebuah botol air minum yang polos akan terlihat biasa saja. Namun, ketika botol tersebut diberi label tulisan “laz rabbani” yang artistik dengan latar belakang gambar pemandangan gunung yang indah, botol tersebut menjadi lebih menarik dan bernilai estetika. Dengan demikian, kata “hasan” secara bahasa erat kaitannya dengan nilai keindahan, kebagusan, dan hiasan.

Yuk Sedekah Air Minum: Energi Kajian & Ibadah

Kaitan makna ini juga dapat dijumpai di dalam Al-Qur’an pada kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam. Imam Al-Azhari meriwayatkan penjelasan dari Abul Haitam mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ

“Dan sungguh, Dia telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkan aku dari penjara.” (QS. Yusuf[12]: 100)

Ucapan Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam menggunakan frasa “ahsana bi” tersebut memiliki makna yang sama dengan “ahsana ilayya”, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kebaikan serta kemuliaan yang sangat besar kepada beliau dengan menyelamatkannya dari jeruji penjara.

Dua Dimensi Makna Ihsan dalam Beramal

Mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu, para ulama membagi pengertian ihsan ke dalam dua dimensi makna utama.

Dimensi makna pertama dari ihsan adalah menyempurnakan atau membaguskan pekerjaan. Seseorang dikatakan berbuat ihsan apabila ia menunaikan tugas, aktivitas, atau pekerjaannya secara totalitas, penuh semangat, bertanggung jawab, dan menyelesaikannya hingga tuntas. Sebaliknya, mengerjakan suatu tugas secara setengah-setengah merupakan tindakan yang jauh dari nilai ihsan.

Sebagai contoh, seorang karyawan di sebuah instansi yang seharusnya fokus mengetik atau melayani masyarakat pada jam kerja, tetapi justru menghabiskan waktu kerja dengan bermain catur, minum kopi, dan merokok, tidak dapat dikategorikan sebagai seorang muhsin (orang yang berbuat ihsan). Seorang pekerja yang mendapatkan taufik akan menjauhi kelalaian tersebut dan memilih untuk bekerja secara profesional sebagai bentuk perwujudan ihsan di dalam mencari nafkah.

Adapun makna yang lain, ihsan diartikan sebagai tindakan memberikan kemanfaatan atau melakukan kebaikan secara umum. Segala bentuk aktivitas kebaikan yang mendatangkan kemaslahatan sangat dianjurkan dan dimotivasi di dalam syariat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tuntunan mulia ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan ihsan atas segala sesuatu.

Dua Klasifikasi Ihsan

Penulis menjelaskan bahwa bentuk ihsan di dalam Islam terbagi menjadi dua klasifikasi utama yang sangat penting untuk diketahui oleh setiap muslim.

1. Ihsan dalam Beribadah kepada Sang Pencipta

Ihsan jenis pertama ini merupakan pilar utama di dalam membangun hubungan langsung seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan batasan yang sangat jelas mengenai hakikat ihsan di dalam ibadah sebagaimana tercantum di dalam hadits kedua kitab Ar-Arba’un An-Nawawiyyah yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Berdasarkan definisi tersebut, tingkat ihsan dalam ibadah menuntut kehadiran hati yang khusyuk serta perasaan mendalam bahwa diri senantiasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika sedang mendirikan shalat atau duduk di dalam majelis ilmu, seorang hamba tidak lagi memikirkan urusan duniawi, melainkan fokus menghadapkan hatinya dengan penuh harap akan pahala dan rida-Nya.

Kesadaran spiritual yang kuat ini akan terus terbawa di dalam kehidupan sehari-hari di luar ibadah formal. Seseorang yang merasa senantiasa berada di bawah pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memiliki benteng pertahanan diri yang kuat untuk menahan serta mencegah dirinya dari kecenderungan melakukan perbuatan salah dan maksiat.

2. Ihsan kepada Sesama Makhluk

Ihsan jenis kedua ini berkaitan erat dengan dimensi sosial, yaitu upaya sadar untuk mendatangkan kemanfaatan di bidang keagamaan maupun keduniaan bagi sesama, sekaligus mencegah terjadinya keburukan yang dapat menimpa mereka. Bentuk nyata dari penerapan ihsan kepada makhluk dapat dikategorikan menjadi dua hal:

Pemberian Manfaat Keagamaan

Tindakan seorang guru mengaji yang dengan tulus mengajarkan cara membaca Al-Qur’an kepada murid-muridnya merupakan bentuk nyata dari berbuat ihsan. Langkah serupa juga dilakukan oleh para ulama dan dai yang konsisten berdakwah menyebarkan syiar Islam guna membimbing umat menuju jalan kebenaran.

Pemberian Manfaat Keduniaan

Bentuk ihsan ini mencakup seluruh aktivitas sosial yang meringankan beban sesama manusia, seperti menyalurkan santunan bagi fakir miskin serta anak-anak yatim yang membutuhkan bantuan finansial.

Selain itu, tindakan sederhana di jalan raya seperti membantu menyeberangkan orang tua yang berjalan lambat, membantu membawakan barang bawaan atau koper yang berat, hingga menuntun seseorang yang mengalami kesulitan saat hendak turun dari kendaraan juga merupakan wujud konkret dari penerapan ihsan kepada sesama makhluk yang sangat bernilai di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seluruh bentuk aktivitas kebaikan yang ditujukan kepada sesama manusia merupakan bagian dari ihsan. Penerapan nyata dari nilai ihsan ini dapat diwujudkan melalui berbagai macam tindakan sosial di dalam kehidupan bertetangga maupun bermasyarakat.

Beberapa contoh konkret dari penerapan ihsan kepada sesama makhluk antara lain:

Bantuan Materi dan Dukungan Moral: Ketika menjumpai tetangga yang mengalami kesulitan finansial atau kekurangan harta, seseorang dapat berbuat ihsan dengan cara menyalurkan bantuan berupa materi. Di samping bantuan fisik, pemberian dukungan moral (support) juga termasuk ke dalam bentuk kepedulian yang bernilai ihsan.
Pertolongan dalam Keadaan Darurat: Apabila mendengarkan tetangga yang mengalami kesakitan di malam hari seperti sakit perut yang hebat atau sakit gigi tindakan membantu mengantarkan mereka ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit merupakan wujud ihsan yang nyata. Kepedulian sosial semacam ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan bertetangga.
Membantu Meringankan Beban Fisik: Tindakan menyumbangkan tenaga untuk membantu sahabat yang sedang pindah rumah kontrakan atau pindah ke kediaman baru juga dinilai sebagai bentuk ihsan. Proses memindahkan perabot yang berat, seperti lemari buku, lemari dapur yang penuh piring dan gelas, meja, kasur, hingga pakaian ke atas mobil angkutan dan menurunkannya kembali di tempat tujuan, akan dicatat sebagai pahala kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mencegah Keburukan Agama dan Dunia

Selain mendatangkan kemanfaatan, dimensi ihsan kepada makhluk juga mencakup upaya mencegah terjadinya keburukan, baik di bidang keagamaan maupun keduniaan. Hal ini dilakukan oleh para ulama yang konsisten menjelaskan bahaya bid’ah, kekufuran, serta kesesatan demi melindungi umat. Sebagai contoh, memberikan peringatan kepada sahabat agar berhati-hati terhadap kelompok takfiri (kelompok yang gemar mengkafirkan sesama muslim tanpa hujjah yang syar’i) demi menjaga keselamatan akidahnya adalah tindakan yang sangat mulia.

Mencegah terjadinya bahaya fisik yang dapat mencederai manusia di tempat umum juga dikategorikan sebagai perbuatan ihsan. Contoh sederhananya adalah menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalanan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Menyingkirkan gangguan (seperti duri, batu, atau kayu) dari jalan adalah sedekah.” (Adabul Mufrad)

Tindakan menyingkirkan rintangan berupa batu, duri, maupun balok kayu dari tengah jalan bertujuan agar para pengguna jalan terhindar dari kecelakaan, dan hal ini merupakan cabang dari keimanan.

Ihsan sebagai Tingkatan Agama yang Tertinggi

Di dalam syariat Islam, ihsan menempati kedudukan yang paling agung. Tingkatan di dalam agama Islam terbagi menjadi tiga tahapan utama sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu:

Islam: Tingkatan pertama yang merepresentasikan seluruh bentuk amalan lahiriah (amalan zhahir).
Iman: Tingkatan kedua yang mencakup seluruh bentuk amalan batiniah (amalan batin).
Ihsan: Tingkatan ketiga dan yang paling tinggi, yaitu kondisi spiritual di mana seorang hamba beribadah dengan perasaan selalu diawasi dan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seseorang yang telah mencapai derajat ihsan akan memiliki kualitas keimanan yang sangat kokoh.

Pengaruh Ihsan dalam Menyempurnakan Amal

Keberadaan sifat ihsan di dalam segala sesuatu senantiasa mendatangkan kebaikan, menyempurnakan kualitas, serta menghadirkan keindahan pada hasil akhirnya. Seseorang yang telah berhasil mencapai derajat ihsan berada pada tingkatan spiritual yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan seorang hamba yang menerapkan prinsip ihsan di dalam beramal sudah pasti memiliki keikhlasan yang murni karena fokus utamanya hanyalah mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu, seluruh aktivitasnya dijalankan dengan mengikuti petunjuk Nabi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendefinisikan ihsan secara langsung melalui lisan beliau yang mulia:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut mengisyaratkan keadaan seorang hamba yang senantiasa merasa dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika beribadah. Perasaan seolah-olah berada langsung di hadapan Sang Pencipta akan menumbuhkan rasa takut yang diiringi pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kondisi batin yang demikian juga akan mendorong munculnya kesungguhan di dalam beribadah, sehingga seseorang terdorong untuk selalu membaguskan, menyempurnakan, serta menuntaskan amal ibadahnya demi mengharapkan pahala terbaik di sisi-Nya.

Ihsan sebagai Karakter Utama Para Nabi dan Rasul

Sifat ihsan merupakan karakter terpuji yang melekat pada diri para nabi dan rasul, sekaligus menjadi identitas utama dari hamba-hamba Allah yang ikhlas.

Pujian Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap sifat ihsan para nabi diabadikan di dalam Al-Qur’an. Mengenai Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (ihsan).” (QS. Ash-Saffat[37]: 79-80)

Pujian serupa juga disampaikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:

سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (ihsan).” (QS. Ash-Saffat[37]: 109-110)

Penerapan Ihsan dalam Perkara Agama dan Dunia

Prinsip ihsan wajib diwujudkan di dalam setiap aktivitas, baik yang berkaitan dengan urusan keagamaan maupun keduniaan. Hakikat ihsan tercapai apabila seseorang mampu menghadirkan kesadaran penuh bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengawasi dan melihat segala gerak-gerik yang dilakukannya.

Saat seseorang sedang bekerja, belajar, berdiskusi, maupun melakukan aktivitas harian lainnya, kehadiran rasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menandakan bahwa ia telah meraih derajat keagamaan yang tertinggi. Kesadaran ini menuntun seorang muslim untuk selalu berada pada kondisi kerja dan amal yang paling sempurna. Kualitas amal yang lahir dari prinsip ihsan ini akan mendatangkan kemaslahatan yang luas, baik kemaslahatan yang kembali kepada keselamatan dirinya sendiri maupun kemanfaatan nyata yang dapat dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.

Amalan yang dilakukan oleh seorang hamba dapat berupa amalan yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri maupun amalan yang manfaatnya dirasakan oleh orang lain. Contoh amalan untuk diri sendiri adalah ibadah shalat dan membaca Al-Qur’an. Manfaat dari kedua ibadah tersebut secara langsung akan kembali kepada pelakunya. Adapun contoh amalan yang manfaatnya meluas kepada orang lain adalah aktivitas mengajar ilmu agama dan bersedekah.

Ketika seorang muslim menjalankan kedua jenis amalan tersebut dengan senantiasa menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia telah mewujudkan bentuk dari sifat ihsan.

Tiga Keutamaan bagi Pelaku Ihsan

Orang-orang yang berbuat ihsan merupakan golongan manusia yang beruntung karena memperoleh bagian kebahagiaan yang sangat besar. Berdasarkan dalil-dalil di dalam Al-Qur’an, terdapat tiga keutamaan utama yang akan diperoleh oleh pelaku ihsan:

1. Memperoleh Kebersamaan Khusus dari Allah

Kebersamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa pertolongan, perlindungan, dan pembelaan akan selalu menyertai orang-orang yang berbuat ihsan. Kehadiran rasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam setiap ucapan, perbuatan, dan tingkah laku menjadi sebab utama datangnya pertolongan tersebut. Hal ini ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. An-Nahl[16]: 128)

Ketetapan ini juga dikuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat yang lain:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik (ihsan).” (QS. Al-Ankabut[29]: 69)

2. Mendapatkan Cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dapat dibeli dengan materi, melainkan diraih dengan cara konsisten menghadirkan sifat ihsan di dalam kehidupan sehari-hari. Dalil mengenai kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada pelaku ihsan sangat banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an, di antaranya:

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah (ihsan). Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)

Sifat mulia ini juga ditegaskan pada ayat-ayat lainnya:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. Ali Imran[3]: 148)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. Al-Ma’idah[5]: 13)

3. Pahala Amalannya Senantiasa Terjaga

Seorang hamba yang beramal belum tentu mendapatkan jaminan bahwa pahala amalnya akan terjaga di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, bagi pelaku ihsan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan bahwa seluruh pahala dari amal kebaikan yang telah dilakukannya tidak akan pernah disia-siakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan (ihsan).” (QS. Hud[11]: 115)

Hukum Timbal Balik Kebaikan

Apabila seorang muslim membiasakan diri untuk berbuat baik kepada sesama makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala selama hidup di dunia, tindakan tersebut akan membuahkan hasil yang pasti. Hasil nyata dari penerapan karakter ihsan kepada sesama makhluk adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya dengan melimpahkan kebaikan yang serupa kepada dirinya, baik selama menjalani kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Balasan kebaikan bagi pelaku ihsan tidak hanya didapatkan saat berada di akhirat kelak, melainkan juga diberikan secara langsung dan kontan selama menjalani kehidupan di dunia. Ketika seorang muslim mengulurkan bantuan untuk meringankan beban saudaranya yang sedang kesulitan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalas kebaikan tersebut di dunia sekaligus menyiapkan pahala yang besar di akhirat.

Sesungguhnya orang yang pertama kali merasakan manfaat dan faedah dari perbuatan ihsan adalah pelaku ihsan itu sendiri, bahkan sebelum orang lain merasakannya. Ia akan memetik buah kebaikannya secara langsung berupa kelapangan dada, ketenangan hati (sakinah), serta kenyamanan batin (thuma’ninah).

Sebagai contoh, seorang pekerja yang dalam perjalanan pulang melihat orang miskin yang belum makan, lalu memutuskan untuk memberikan uang untuk membeli makanan, seketika itu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengaruniakan rasa senang dan lapang di dalam dadanya.

Oleh karena itu, seorang kaya yang mendapatkan taufik justru akan berterima kasih kepada orang miskin yang menerima sedekahnya. Ia menyadari bahwa amal ibadah yang dilakukannya pada hakikatnya adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Kesadaran ini juga yang mencegahnya dari sikap sombong atau merasa lebih mulia daripada orang lain. Prinsip tersebut juga berlaku bagi seorang muzakki (pembayar zakat) yang saleh dan bertakwa ketika menunaikan kewajiban zakat mal dari sisa hartanya, seperti zakat emas dan perak yang telah mencapai nisab sebesar 2,5 persen. Pengeluaran zakat tersebut pada hakikatnya memberikan manfaat utama bagi sang muzakki sendiri. Melalui zakat, sisa harta yang dimilikinya akan terjaga, menjadi berkah, serta bertambah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai sifat sedekah yang tidak akan mengurangi nilai harta:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Penerapan Ihsan di dalam Rumah Tangga

Konsep ihsan ini juga harus diterapkan di dalam hubungan muamalah keluarga. Seorang suami yang berbuat baik dan menunaikan kewajiban nafkah kepada istrinya secara rutin akan menjadi pihak pertama yang memetik manfaat dari kebaikan tersebut sebelum sang istri merasakannya.

Melalui penunaian nafkah yang baik, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahi suami tersebut pahala yang besar, ketenangan hidup, serta kenyamanan di dalam rumah tangga. Dampak positif lainnya adalah tumbuhnya rasa cinta dan bakti yang lebih besar dari sang istri. Sebaliknya, sikap malas dan kikir di dalam memberikan nafkah kepada keluarga hanya akan mendatangkan keretakan hubungan serta ketidakharmonisan di dalam rumah tangga.

Seorang istri yang mengancam akan menggugat cerai karena suaminya enggan memberikan nafkah atau menolak memenuhi kebutuhan dasarnya menunjukkan adanya masalah di dalam pemenuhan hak keluarga. Ketika seorang suami menunaikan tanggung jawabnya dengan baik, manfaat utamanya sebenarnya akan kembali kepada suami itu sendiri, bukan kepada orang lain.

Hal yang sama juga berlaku pada tindakan istri yang salehah. Saat seorang istri bersolek atau berdandan khusus untuk suaminya, ia sedang menerapkan prinsip ihsan yang manfaatnya akan kembali kepada dirinya berupa pahala serta keharmonisan rumah tangga.

Semua perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia dapat dianalogikan dengan prinsip ini, yaitu pelaku kebaikan adalah pihak pertama yang memetik manfaatnya. Ketika seseorang bersedekah kepada fakir miskin, berbuat baik kepada anak, istri, maupun tetangga, ia harus menanamkan keyakinan bahwa dirinya sendirilah yang diuntungkan. Para ulama menegaskan:

إِنَّ أَوَّلَ مُسْتَفِيدٍ مِنَ الْإِحْسَانِ هُمُ الْمُحْسِنُونَ أَنْفُسُهُمْ

“Sesungguhnya orang yang pertama kali mendapatkan manfaat dari perbuatan ihsan adalah orang-orang yang berbuat ihsan itu sendiri.”

Kelezatan Ibadah sebagai Balasan yang Disegerakan

Di antara bentuk balasan kebaikan yang disegerakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia bagi seorang hamba yang menerapkan ihsan dalam ibadah adalah kemampuan untuk merasakan kelezatan ibadah.

Ketika seseorang mendirikan shalat hanya dengan tujuan agar kewajibannya cepat selesai tanpa disertai rasa pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia tidak akan merasakan ketenangan seusai shalat. Sebaliknya, saat shalat didirikan dengan penuh harap akan pahala serta kesadaran bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang memperhatikannya, shalat tersebut akan terasa sangat nikmat, mendatangkan kerinduan, serta membuat batin merasa tenang.

Tingkatan ihsan yang mulia inilah yang membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada sahabat Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘Anhu:

يَا بِلَالُ أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan mendirikan shalat.” (HR. Abu Dawud)

Bagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat, shalat merupakan sarana peristirahatan yang menenteramkan hati. Kondisi ini sangat berbeda dengan orang yang belum mencapai derajat ihsan, orang yang tidak memiliki iman, atau orang yang imannya lemah. Bagi mereka, shalat dirasakan sebagai beban yang berat sehingga mereka cenderung ingin meninggalkannya. Padahal, bagi orang yang beriman, shalat merupakan solusi utama untuk memperbaiki kondisi hati serta menyelesaikan berbagai problematika kehidupan.

Selain kelezatan di dalam ibadah, orang yang gemar berbuat ihsan kepada sesama makhluk juga akan dianugerahi kelezatan batin yang sangat besar. Kelezatan tersebut bahkan melebihi kepuasan yang didapatkan dari kepemilikan harta, takhta, maupun jabatan keduniaan lainnya.

Hal ini menjelaskan alasan para relawan yang membantu sesama tetap tampak ceria dan bahagia, meskipun menjalani kehidupan yang sederhana secara materi. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keceriaan dan kebahagiaan tersebut langsung ke dalam hati mereka.

Saat terjadi bencana alam, orang-orang yang bersegera datang untuk memberikan bantuan akan merasakan kehidupan yang sangat bermakna dan menyenangkan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kedudukan tinggi namun enggan berbuat ihsan kepada sesama sering kali menjalani kehidupannya dengan murung dan hampa.

Kebahagiaan sejati diraih dengan memperbanyak amal saleh. Di samping kelapangan dada, orang yang gemar berbuat ihsan juga akan mendapatkan bonus berupa doa-doa kebaikan dari manusia, serta senantiasa disertai taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap urusan dunianya. Tentu saja, di atas semua itu, pahala yang disediakan di akhirat jauh lebih besar dan kekal.

Kesimpulan dan Penutup

Kajian hadits ke-12 mengenai pentingnya berbuat baik kepada makhluk ini ditutup dengan sebuah kesimpulan yang sangat berharga. Seorang pegawai atau karyawan yang sukses dan menonjol adalah mereka yang selalu berbuat baik kepada rekan kerjanya serta bersikap santun kepada setiap orang yang bermuamalah dengannya. Pegawai yang memiliki karakter demikian akan selalu mendapatkan taufik, kemudahan, serta bimbingan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam setiap langkahnya. Demikian pembahasan hadits yang ringkas namun sarat akan makna mendalam ini.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 17 Syawal 1447 H / 6 April 2026 M. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Artikel Terkait

Hadits kesebelas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang pentingnya memelihara sifat amanah di dalam dunia kerja....

Hadits kesepuluh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang pentingnya memilih perkataan yang baik di dalam berinteraksi....

Hadits kesembilan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan motivasi kepada karyawan untuk senantiasa melakukan kebaikan. Hadits...

Satu Langkah Kecil Anda, Banyak Perubahan untuk Mereka!

Scroll to Top