Hadits Manajemen 11: Pegawai Yang Amanah dalam Bekerja

Hadits kesebelas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang pentingnya memelihara sifat amanah di dalam dunia kerja. Sifat ini merupakan pilar yang sangat penting bagi setiap pekerja atau karyawan.
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
إنَّ الخازِنَ المُسلِمَ الأمينَ الذي يُنفِذُ -ورُبَّما قال: يُعطي- ما أُمِرَ به، فيُعطيه كامِلًا موفَّرًا، طَيِّبةً به نَفسُه، فيَدفَعُه إلى الذي أُمِرَ له به: أحَدُ المُتَصَدِّقَينِ
“Sesungguhnya seorang bendahara muslim yang amanah, yang menunaikan —atau beliau [perawi] berkata: memberikan— apa yang diperintahkan kepadanya, lalu ia memberikannya secara sempurna, utuh, dan dengan kerelaan hati, kemudian menyerahkannya kepada orang yang diperintahkan, maka ia termasuk salah satu dari dua orang yang bersedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Aplikasi Sifat Amanah bagi Amil Zakat
Hadits tersebut memberikan panduan praktis yang sangat relevan bagi para pengelola lembaga amil zakat (LAZ) atau para amil secara umum. Sifat amanah di dalam mengelola pekerjaan memiliki cakupan makna yang sangat luas. Konsep amanah yang mendalam ini semestinya dapat menggetarkan hati orang yang beriman ketika seorang mukmin yang menyadari betapa beratnya tanggung jawab di dalam memikul amanah. Hal ini merupakan suatu perkara yang sangat besar. Langit yang tujuh lapis, bumi yang tujuh lapis, hingga gunung-gunung yang kokoh berdiri saja berlepas diri dan menolak untuk memikul amanah tersebut ketika ditawarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebaliknya, manusia justru mengajukan diri dan bersedia memikul tanggung jawab amanah tersebut karena kedzaliman serta kebodohannya terhadap konsekuensi yang akan dihadapi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu di pikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab[33]: 72)
Syarat-Syarat Meraih Pahala Setara Orang Bersedekah
Di dalam menjalankan tugas dan amanah yang berkaitan dengan pendistribusian harta, terdapat beberapa kriteria mutlak yang harus dipenuhi oleh seorang pekerja agar bisa mendapatkan pahala yang setara dengan orang yang bersedekah.
Sebagai contoh, jika ada seseorang yang dititipi uang sejumlah sepuluh juta rupiah untuk dibagikan kepada fakir miskin, lalu ia membagikan uang tersebut sesuai dengan instruksi yang diberikan tanpa dikurangi sedikit pun, maka ia berhak mendapatkan pahala yang setara dengan pemilik harta yang bersedekah tersebut.
Berikut adalah tiga syarat utama yang harus dipenuhi berdasarkan tuntunan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
1. Memiliki Sifat Amanah
Syarat pertama yang paling mendasar adalah pekerja tersebut harus memiliki integritas dan sifat tepercaya (amanah). Keutamaan pahala yang disebutkan di dalam hadits ini tidak akan diperoleh oleh seseorang yang tidak memiliki sifat amanah di dalam dirinya.
2. Menunaikan Tugas secara Utuh dan Sempurna
Syarat kedua adalah mendistribusikan apa yang diamanahkan secara sempurna, utuh, dan tidak dikurangi sedikitpun. Hak yang harus diterima oleh penerima wajib diserahkan secara lengkap.
Tindakan sebagian pegawai yang sengaja memotong atau mengurangi hak yang seharusnya diterima oleh para pekerja dengan dalih untuk kepentingan lembaga atau perusahaan merupakan hal yang dilarang. Contoh nyatanya adalah seseorang yang ditugaskan untuk membagikan gaji karyawan, maka ia tidak boleh memotong hak gaji tersebut secara sepihak karena tindakan itu hukumnya haram.
3. Melaksanakan Tugas dengan Sukarela
Syarat ketiga adalah menyerahkan hak tersebut dengan perasaan senang, lapang dada, dan sukarela. Terdapat fenomena dimana sebagian petugas merasa sempit dadanya saat harus menyerahkan barang atau harta amanah kepada yang berhak. Mereka bersikap seolah-olah harta yang dibagikan tersebut keluar dari kantong pribadi mereka sendiri, padahal harta itu murni merupakan titipan orang lain.
Akibat dari sempitnya dada tersebut, sebagian oknum sengaja menghalangi atau mengurangi hak penerima semampu mereka, sehingga penyalurannya menjadi tidak sempurna dan berkurang. Seseorang yang memiliki sikap buruk demikian secara otomatis gugur dari kriteria yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai salah satu dari orang yang bersedekah.
Kesempatan Meraih Pahala Sedekah bagi Pengelola Amanah
Melalui hadits mengenai bendahara muslim yang amanah, setiap muslim yang tidak memiliki kelebihan harta sebenarnya tetap diberikan kesempatan emas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendapatkan pahala sedekah. Syaratnya adalah menunaikan tugas pembagian tersebut secara sempurna tanpa dikurangi, serta dijalankan dengan perasaan senang dan sukarela.
Keberadaan lembaga amil zakat (LAZ) resmi pada masa sekarang menjadi sarana yang sangat memudahkan kaum muslimin untuk menyalurkan zakat secara amanah dan tepat sasaran. Para petugas amil yang bekerja di lembaga tersebut dan mendistribusikan hak umat dengan amanah akan masuk ke dalam keutamaan hadits ini, yaitu menjadi salah satu orang yang bersedekah.
Para ulama menjelaskan bahwa pengelola amanah yang jujur dan pemilik harta yang menitipkan sedekahnya memiliki kedudukan yang setara di dalam hal pahala:
وَهُوَ وَرَبُّ الصَّدَقَةِ فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ
“Dia (yang membagikan amanah) dan pemilik sedekah (yang menitipkan) memiliki pahala yang sama.”
Di antara keduanya tidak ada kelebihan pahala yang satu atas yang lainnya secara mutlak. Oleh karena itu, ketika seseorang menerima amanah dari orang yang berkecukupan untuk membagikan bantuan, hal itu harus dipandang sebagai peluang besar untuk meraih pahala sedekah yang utuh, bukan justru dipandang sebagai beban, atau bahkan disalahgunakan dengan cara mengurangi nominalnya demi memperkaya diri sendiri sebagaimana tindakan sebagian pengurus yang tidak bertanggung jawab.
Pertanggungjawaban bagi Pegawai yang Sukses
Seorang karyawan atau pegawai yang sukses adalah sosok yang memiliki akal cerdas dan lurus. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya mengemban tanggung jawab besar di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas tugas-tugas yang diwakilkan kepadanya.
Setiap bentuk pekerjaan dan pelayanan yang berkaitan dengan hak-hak manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Pegawai yang menyadari hal ini akan bekerja dengan penuh kehati-hatian karena ia tahu bahwa dirinya akan dihisab secara ketat apabila melakukan pelanggaran atau setiap kelalaian di dalam menjalankan tanggung jawab pekerjaan akan mendatangkan konsekuensi buruk bagi pelakunya. Sebaliknya, penunaian amanah secara semestinya sesuai dengan aturan yang berlaku akan mendatangkan pahala kebaikan yang melimpah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya memiliki dorongan keagamaan yang kuat di dalam dirinya untuk selalu melakukan kebaikan dan menjaga integritas. Agama Islam merupakan agama yang sempurna yang senantiasa mendorong pemeluknya untuk mewujudkan berbagai kemaslahatan bagi sesama dengan cara yang paling utama.
Perintah untuk menjaga dan menunaikan tanggung jawab ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa[4]: 58)
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 17 Syawal 1447 H / 6 April 2026 M. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 10: Memilih Perkataan yang Baik dalam Berinteraksi
Hadits kesepuluh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang pentingnya memilih perkataan yang baik di dalam berinteraksi....

Hadits Manajemen 9: Kriteria Manusia Terbaik dan Terburuk
Hadits kesembilan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan motivasi kepada karyawan untuk senantiasa melakukan kebaikan. Hadits...

Hadits Manajemen 8: Banyak Bicara Bukan Sifat Karyawan Unggul
Hadits kedelapan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan prinsip bahwa banyak bicara bukan merupakan sifat dari...