Hadits Manajemen 15: Sifat Kasih Sayang bagi Orang yang Beriman

Hadits lima belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Sifat Kasih Sayang bagi Orang yang Beriman.

Pembahasan mengenai topik ini sangat penting karena sifat kasih sayang kepada sesama makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan asas dari segala kebaikan, kenyamanan, serta ketenangan hidup.

Kehancuran dalam rumah tangga sering kali dipicu oleh hilangnya rasa kasih sayang di antara anggota keluarga. Demikian pula dengan sebuah perusahaan, tidak sedikit yang mengalami kehancuran akibat hilangnya rasa kasih sayang di lingkungan kerja. Dalam dunia dakwah, hilangnya kasih sayang juga dapat melemahkan perjuangan. Sebaliknya, sifat kasih sayang akan mendatangkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, prinsip ini harus dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Hadits yang dibahas kali ini merupakan hadits muttafaq ‘alaih yang bersumber dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau berkata:

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا‏.‏ فَقَالَ الأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا‏.‏ فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ ‏”‏ مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium Hasan bin Ali, dan di dekat beliau ada Al-Aqra bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Lalu Al-Aqra berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangnya dan bersabda, ‘Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari)

Melalui riwayat tersebut, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menunjukkan betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki sifat kasih sayang yang sangat luar biasa. Kasih sayang tersebut salah satunya dibuktikan melalui tindakan beliau mencium cucunya, Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu.

Tindakan mencium anak atau cucu merupakan bentuk nyata dari kasih sayang. Sifat ini sangat mulia dan merupakan bagian dari nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada hamba-Nya. Sifat kasih sayang yang tertanam di dalam hati seorang hamba akan menjadi jalan datangnya rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada dirinya.

Ketika Al-Aqra bin Habis At-Tamimi Radhiyallahu ‘Anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencium Hasan bin Ali, muncul rasa heran di dalam dirinya. Ia kemudian mengungkapkan bahwa dirinya memiliki sepuluh orang anak, namun tidak ada satupun dari anak-anak tersebut yang pernah ia cium semasa hidupnya.

Pernyataan Al-Aqra bin Habis At-Tamimi ini didengar langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan prinsip universal mengenai pentingnya rasa kemanusiaan melalui sabda beliau:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari)

Tindakan mencium anak atau cucu merupakan salah satu indikator nyata dari adanya rasa kasih sayang tersebut. Ungkapan Al-Aqra bin Habis At-Tamimi yang memiliki sepuluh orang anak namun tidak pernah mencium satu pun di antara mereka merupakan sebuah fenomena yang sangat tidak biasa bagi fitrah manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan peringatan bahwa ketiadaan kasih sayang yang dicontohkan melalui kedekatan dengan keturunan dapat menghalangi seorang hamba dari curahan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama makhluk merupakan nikmat besar yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap hamba perlu melakukan introspeksi diri secara mendalam untuk menilai keberadaan sifat mulia tersebut di dalam hatinya. Seseorang yang kehilangan sifat kasih sayang di dalam dirinya berada dalam kerugian yang sangat besar.

Hati yang Pengasih dan Ciri Kesengsaraan

Penulis kitab Al-Arba’una Al-Idariyyah menjelaskan bahwa seorang hamba yang dianugerahi hati yang dipenuhi rasa kasih sayang merupakan tanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menghilangkan berbagai bentuk kesusahan dari hidupnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan orang yang hatinya keras dan hampa dari rasa kemanusiaan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan sebuah hadits:

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ

“Tidaklah rasa kasih sayang itu dicabut melainkan dari orang yang sengsara.” (HR. Abu Dawud)

Hadits tersebut menegaskan bahwa hilangnya sifat pengasih merupakan ciri utama dari orang yang sengsara, celaka, dan akan menghadapi kesempitan dalam hidupnya. Sifat kasih sayang merupakan perkara penting yang harus senantiasa ditumbuhkan agar bisa tertanam di dalam dada setiap muslim.

Sifat kasih sayang dan kelembutan kepada sesama manusia diwujudkan melalui sikap berlapang dada. Sikap ini tercermin dari cara bermuamalah yang santun, tidak kasar, serta lemah lembut dalam ucapan maupun perbuatan. Perbedaan antara pribadi yang lembut dengan yang kasar akan sangat mudah dirasakan oleh lingkungan sekitar. Bersikap lembut menjadi indikator kebaikan, sedangkan bersikap kasar menjadi pertanda keburukan pada diri seseorang. Kelembutan tersebut juga berfungsi untuk menumbuhkan rasa cinta di antara sesama manusia serta membentuk pribadi yang pemaaf dan tidak mudah tersulut emosi.

Kelembutan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Menghadapi Sikap Kasar

Umat Islam dapat meneladani kesabaran dan kelembutan yang luar biasa dari pribadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu mengisahkan sebuah peristiwa saat beliau sedang berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengenakan selembar kain selendang. Tiba-tiba seorang Arab Badui mendekat lalu menarik selendang beliau dengan sangat keras hingga jepretan kain tersebut meninggalkan bekas kemerahan di leher mulia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tidak hanya melakukan tindakan fisik yang kasar, orang Arab Badui tersebut juga berseru dengan kalimat yang kurang sopan, meminta agar diberikan bagian dari harta Allah yang ada pada penguasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Menghadapi perlakuan kasar yang pada umumnya memicu kemarahan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru menoleh kepada orang tersebut lalu tersenyum. Setelah itu, beliau langsung memerintahkan para sahabat untuk memberikan sejumlah harta yang diminta oleh orang Arab Badui tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan teladan utama dalam menunjukkan sikap lemah lembut kepada sesama manusia, sehingga siapa pun yang melihat beliau akan merasa senang. Sifat mulia ini juga sangat nampak dalam cara beliau memperlakukan para istri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi)

Beliau merupakan orang yang paling baik dan penuh kasih sayang terhadap istri serta tidak mudah marah. Suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di rumah Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, salah seorang istri beliau yang lain mengirimkan makanan menggunakan sebuah nampan. Karena didorong rasa cemburu, Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menepis nampan tersebut hingga jatuh dan pecah. Menghadapi situasi yang emosional tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan contoh yang sangat luar biasa. Beliau justru memunguti serpihan nampan beserta makanannya dengan tenang sambil bersabda:

غَارَتْ أُمُّكُمْ

“Ibu kalian sedang cemburu.” (HR. Bukhari)

Sikap pemaaf dan penuh pengertian ini menjadi teladan penting untuk ditiru dalam kehidupan rumah tangga. Bentuk rahmat dan kasih sayang juga diwujudkan dengan selalu berbuat baik kepada keluarga serta menempatkan segala perkara pada tempatnya yang proporsional.

Risalah Islam sebagai Rahmat bagi Alam Semesta

Sifat kasih sayang merupakan inti dari risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada seluruh jin dan manusia tanpa terkecuali. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal tersebut di dalam Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya[21]: 107)

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah wujud rahmat yang dihadiahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk alam semesta. Oleh karena itu, menanamkan sifat rahmat di dalam diri merupakan perkara yang sangat mendasar. Hubungan antara kasih sayang makhluk dengan rahmat Pencipta dijelaskan di dalam sebuah hadits dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh zat yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya zat yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan lafaz di atas, serta diriwayatkan dan dishahihkan pula oleh Tirmidzi. Jalur penyampaian (sanad) hadits ini terus bersambung tanpa terputus dari para guru agama hingga mencapai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Sifat kasih sayang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mendatangkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya. Sebagai contoh penerapan praktis, Syekh bin Baz pernah mengeluarkan fatwa ketika terjadi musibah gempa bumi yang merusak di Yaman dan berdampak bagi banyak orang. Beliau membawakan hadits tentang keutamaan menyayangi makhluk bumi ini untuk menasehati kaum muslimin agar segera memberikan bantuan, sumbangan, dan sedekah kepada para korban musibah.

Langkah sosial tersebut didasari harapan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menurunkan rahmat-Nya. Keinginan untuk disayangi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala harus dibuktikan secara nyata melalui implikasi tindakan, yaitu dengan menanamkan sifat pengasih di dalam hati serta bergegas mengulurkan bantuan kepada orang-orang yang sedang membutuhkan.

Seorang hamba yang memiliki kelebihan harta hendaknya langsung memberikan bantuan kepada sesama. Namun, jika tidak memiliki kelebihan berupa materi, bantuan tetap dapat diwujudkan melalui lisan atau tulisan dengan memotivasi orang lain yang memiliki kemampuan agar bersedia menyumbang. Memberikan motivasi untuk membantu sesama saudara merupakan bentuk penerapan kasih sayang sesuai dengan batas kesanggupan masing-masing. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh zat yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya zat yang ada di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud)

Rahmat Islam terhadap Binatang

Ruang lingkup kasih sayang dalam ajaran Islam sangat luas karena tidak hanya terbatas pada sesama manusia, melainkan juga mencakup binatang seperti burung. Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ عُصْفُورًا فَمَا فَوْقَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا سَأَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا

“Barangsiapa membunuh seekor burung emprit atau yang lebih kecil dari itu tanpa hak, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan meminta pertanggungjawaban kepadanya atas pembunuhan burung tersebut.” (HR. An-Nasa’i)

Setiap orang yang membunuh binatang tanpa alasan yang dibenarkan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah ‘Azza wa Jalla mengenai alasan pembunuhan tersebut. Ketika para sahabat bertanya mengenai hak burung yang dimaksud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa hak burung yang halal adalah disembelih untuk kemudian dimakan:

أَنْ تَذْبَحَهَا فَتَأْكُلَهَا ، وَلا تَقْطَعْ رَأْسَهَا فَيُرْمَى بِهَا

“Engkau menyembelihnya lalu memakannya, dan janganlah engkau memotong kepalanya lalu membuangnya.” (HR. An-Nasa’i)

Proses penyembelihan hewan pun harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakitkan, yaitu dengan mengasah pisau hingga tajam agar hewan sembelihan dapat segera mati dengan tenang. Seseorang dilarang keras memotong kepala burung atau hewan lainnya secara sembarangan hanya untuk dibuang begitu saja. Tindakan mematikan binatang tanpa ada maksud untuk mengkonsumsinya menjadi indikator hilangnya rasa kasih sayang di dalam hati. Sementara itu, terhadap binatang yang haram atau tidak boleh dimakan, manusia wajib membiarkan mereka hidup sebagai sesama makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kasih Sayang terhadap Kucing dan Anjing

Kucing merupakan salah satu binatang yang dekat dengan kehidupan manusia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkategorikan kucing sebagai hewan yang suci melalui sabda beliau:

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Sesungguhnya kucing itu tidak najis. Ia termasuk hewan yang sering berkeliling di sekitar kalian.” (HR. Abu Dawud)

Secara fitrah, tampilan fisik kucing sering kali menumbuhkan rasa iba pada manusia. Memberikan makan kepada kucing merupakan amalan mulia yang dapat mendatangkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sifat pengasih yang tulus justru dibuktikan saat seseorang bersedia merawat dan memberi makan kucing-kucing liar atau kucing kampung yang kelaparan serta bertubuh kurus, meskipun tidak berniat untuk memeliharanya.

Perbuatan baik berupa memberi makan atau minum kepada binatang tetap bernilai pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keutamaan ini bahkan berlaku pula terhadap anjing, yang di dalam syariat Islam air liurnya dikategorikan sebagai najis berat dengan tata cara penyucian khusus, yaitu dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah.

Terdapat kisah nyata yang disampaikan dalam hadits mengenai seorang wanita pezina yang mendapatkan ampunan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wanita tersebut diampuni dosa-dosanya serta dimasukkan ke dalam surga hanya karena memberikan seteguk air minum kepada seekor anjing yang sedang kehausan di dekat sumur. Kisah tersebut menjadi bukti nyata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa membalas dan memuliakan setiap hamba yang memiliki sifat kasih sayang di dalam hatinya.

Sifat kasih sayang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Terlebih lagi, kasih sayang kepada sesama manusia, seperti orang-orang miskin, anak-anak kecil, anak yatim, para janda, ataupun orang tua yang sudah jompo. Seseorang harus menaruh rasa kasih sayang kepada mereka karena mereka termasuk golongan orang-orang yang lemah.

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kelebihan kepada seorang hamba, baik berupa kelebihan harta maupun kekuatan fisik, kelebihan tersebut harus digunakan untuk menyayangi makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui cara tersebut, seorang hamba dapat menjemput kasih sayang dari Allah. Tujuan utama dari penanaman sifat pengasih ini adalah agar memperoleh ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dimasukkan ke dalam surga-Nya. Surga dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba yang memiliki hati yang dipenuhi rasa kasih sayang, bukan orang-orang yang memiliki hati yang sombong.

Karakteristik Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Di antara bentuk kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat besar kepada umatnya adalah besarnya perhatian serta antusiasme beliau untuk tidak mewajibkan suatu perkara yang dirasa berat untuk diamalkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sama sekali tidak menghendaki umatnya berada dalam kesusahan atau kesulitan dalam menjalankan syariat.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkadang sengaja tidak merutinkan sebagian amalan sunnah secara terus-menerus. Sikap tersebut diambil bukan karena beliau membenci amalan sunnah tersebut. Beliau justru senantiasa menemukan ketenangan jiwa, kenyamanan, serta kebahagiaan hati di dalam melaksanakan ibadah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘Anhu mengenai ibadah shalat:

يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا

“Wahai Bilal, buatlah kami nyaman dengan shalat.” (HR. Abu Dawud)

Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa sangat nyaman di dalam beribadah, rasa kasih sayang kepada umat membuat beliau membatasi diri dalam beberapa amalan sunnah. Penulis kitab menjelaskan bahwa hal itu dilakukan karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam khawatir amalan sunnah tersebut nantinya akan diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga memberatkan umatnya. Contoh nyata dari sifat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini nampak pada pelaksanaan shalat tarawih secara berjamaah. Pada mulanya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan salat tarawih bersama para sahabat selama tiga malam berturut-turut di masjid. Namun, pada malam berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sengaja tidak keluar dari rumah untuk mengimami shalat berjamaah meskipun para sahabat telah berkumpul dan menunggu kehadiran beliau.

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penjelasan kepada para sahabat mengenai alasan beliau tidak keluar malam itu melalui sabda beliau:

خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ

“Aku khawatir salat malam ini akan diwajibkan atas kalian.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menginginkan umatnya merasakan kesejukan dan kenyamanan hati yang sama di dalam shalat, namun beliau tidak ingin umatnya terbebani jika amalan tersebut berubah status menjadi wajib.

Kondisi ini berbeda dengan sebagian orang yang belum memahami fikih agama dengan baik. Fenomena ini sering dijumpai pada orang-orang yang baru berhijrah dan baru mendapatkan ilmu agama. Mereka biasanya memiliki semangat yang sangat menggebu-gebu dalam menegakkan shalat malam maupun membaca Al-Qur’an. Namun, karena keterbatasan pemahaman fikih, mereka seringkali memaksakan standar semangat beribadah tersebut kepada anak-anak yang masih sangat kecil, kepada keluarga, atau kepada orang lain yang belum memiliki kesiapan mental serta semangat yang sama.

Memaksakan standar ibadah pribadi yang tinggi kepada orang lain, seperti mengharuskan anak-anak yang masih kecil untuk melaksanakan shalat malam dari pukul 01.30 hingga menjelang subuh, justru memicu dampak yang kontraproduktif. Anak-anak akan kehilangan semangat beribadah karena merasa kelelahan akibat ketiadaan hikmah dari orang tuanya. Penerapan syariat harus senantiasa merujuk pada keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak pernah menghendaki umatnya berada dalam kesusahan.

Fenomena ini sering kali terjadi pada sebagian ikhwan atau akhwat yang baru memperdalam ilmu agama. Mereka memiliki semangat yang sangat menggebu-gebu, lalu berusaha mempraktekkannya secara instan kepada diri sendiri serta lingkungan sekitar tanpa mempertimbangkan bahwa kondisi setiap orang itu lemah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki kekuatan fisik dan kesiapan hati yang sangat luar biasa dalam beribadah. Namun, beliau tidak pernah menyamakan standar kekuatan pribadi beliau dengan kemampuan umatnya demi menghindarkan mereka dari keberatan yang besar. Sifat kasih sayang ini yang membuat beliau tidak merutinkan shalat tarawih berjamaah agar amalan tersebut tidak berubah status menjadi wajib.

Bentuk rahmat ini juga tercermin dalam peristiwa penerimaan perintah shalat di malam mi’raj. Pada mulanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan shalat sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian berulang kali kembali untuk memohon keringanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala demi kemaslahatan umatnya, hingga akhirnya ketetapan tersebut diringankan menjadi 50 pahala dalam pelaksanaan 5 waktu shalat. Pemahaman terhadap besarnya perhatian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini akan semakin menumbuhkan rasa cinta seorang hamba kepada beliau.

Teguran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap Imam yang Memanjangkan Salat

Sifat kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga ditunjukkan melalui sikap tegas beliau terhadap tata cara pelaksanaan shalat berjamaah. Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima laporan mengenai adanya sebagian sahabat yang memanjangkan bacaan shalat secara berlebihan ketika menjadi imam bagi masyarakat. Mendengar hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa marah. Beliau tidak memuji tindakan tersebut, melainkan memperingatkan bahwa memperlama shalat secara berlebihan di hadapan jemaah umum justru dapat membuat manusia lari dari agama Islam.

Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bahwa semangat beragama yang tidak dibarengi dengan ilmu serta hikmah bukan mendatangkan kebaikan, melainkan justru memicu kemudharatan dan sikap kontraproduktif. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ

“Sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang membuat manusia lari.” (HR. Bukhari)

Sahabat yang mengimami shalat tersebut pada dasarnya memiliki niat yang baik agar dirinya serta para jemaah mendapatkan pahala yang banyak melalui bacaan yang panjang. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki cara pandang yang berbeda karena beliau tidak ingin umatnya merasa kesusahan. Seseorang yang baru berhijrah wajib terus belajar agar tidak melupakan kondisi riil orang-orang di sekitarnya akibat luapan semangat yang tanpa ilmu.

Sebagai solusi dan panduan bagi para pemimpin ibadah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan instruksi yang jelas mengenai batasan durasi salat berjamaah melalui sabda beliau:

فَأَيُّكُمْ مَا صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيَتَجَوَّزْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ ‏

“Siapapun di antara kalian yang shalat mengimami manusia, maka hendaknya ia meringankan nya. Karena sesungguhnya di tengah-tengah mereka ada orang yang lemah, orang tua, dan orang yang memiliki keperluan.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perhatian yang sangat detail terhadap kondisi para jamaah. Di dalam sebuah barisan shalat berjamaah, terdapat golongan orang-orang lemah yang akan merasa kesusahan jika berdiri terlalu lama, Orang tua yang berada di dalam barisan shalat berjamaah akan mengalami kesusahan apabila durasi salat terlalu lama. Begitu pula bagi jemaah yang sedang memiliki hajat atau keperluan mendesak, pikiran mereka akan terganggu oleh urusan tersebut jika shalat lama itu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat memperhatikan kondisi ini demi menjaga kemaslahatan umatnya.

Kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu menjadi salah satu pelajaran penting dalam masalah ini. Beliau terbiasa melaksanakan shalat Isya berjamaah di belakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi, kemudian kembali ke kampung halamannya untuk bertindak sebagai imam bagi masyarakat setempat yang belum menunaikan shalat Isya. Secara hukum syariat, hal ini diperbolehkan karena shalat kedua tersebut berstatus sunah bagi Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu.

Suatu ketika, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu membaca surah yang sangat panjang dalam shalatnya. Akibatnya, salah seorang jamaah merasa keberatan lalu memutuskan untuk memisahkan diri dan menyelesaikan shalatnya sendirian. Kabar tersebut akhirnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau kemudian menegur Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu dengan bersabda:

يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ؟

“Wahai Mu’adz, Apakah engkau ingin menjadi penimbul fitnah?” (HR. Bukhari)

Berdasarkan penjelasan para ulama seperti Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, kata fattan (fitnah) di dalam hadits tersebut bermakna tindakan yang menghalangi atau memalingkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Fenomena ini membuktikan bahwa semangat beribadah yang tidak dibarengi dengan ilmu justru dapat menghalangi orang lain dari kebenaran. Sebagaimana umat Islam dilarang bersikap bermudah-mudahan dalam urusan agama, sikap berlebih-lebihan atau terlalu keras juga berpotensi merusak keindahan Islam itu sendiri.

Dalam konteks dakwah sunnah, upaya pihak luar untuk merusak dakwah sering kali sulit berhasil. Namun, ancaman kerusakan justru kerap muncul dari dalam, yaitu dari individu-individu yang memiliki semangat tinggi tetapi minim ilmu, sehingga menerapkan sikap keras yang keliru. Sikap keras tanpa landasan ilmu merupakan suatu perkara yang buruk.

Tiga Golongan Penduduk Surga

Karakteristik hati yang penuh kasih sayang juga menjadi salah satu kunci penting untuk meraih surga. ‘Iyad bin Himar Al-Mujasyi’i Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan sebuah khotbah:

أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ

“Penduduk surga itu ada tiga jenis: pemimpin yang adil, suka bersedekah, dan mendapatkan taufik; seseorang yang pengasih lagi berhati lembut kepada setiap kerabat dekat maupun sesama muslim; serta orang yang menjaga kehormatan diri, menjauhkan diri dari meminta-minta, padahal ia memiliki tanggungan keluarga.” (HR. Muslim)

Melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan surga bagi tiga golongan tersebut. Setiap orang yang memiliki tanggung jawab, tugas, aktivitas, maupun pekerjaan tertentu, baik dalam skala kecil maupun besar, dituntut untuk memiliki sifat kasih sayang, kelembutan, serta keadilan terhadap bawahannya. Sifat kasih sayang ini sudah selayaknya dimiliki oleh setiap muslim, khususnya bagi mereka yang diserahi tanggung jawab terkait kemaslahatan hidup orang banyak.

Seorang petugas atau pejabat yang berwenang harus menunjukkan rasa kasih sayang kepada setiap orang yang memiliki keperluan terkait pekerjaannya. Ia wajib menunaikan kebutuhan orang tersebut serta memudahkan urusan muamalahnya. Seorang muslim dilarang keras menyusahkan sesama muslim dengan cara mengundur-ngundur waktu penyelesaian urusan mereka.

Sebagai contoh dalam urusan administrasi, perkara yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu satu jam tidak boleh sengaja diundur hingga tiga hari. Demikian pula urusan yang bisa selesai dalam sehari tidak boleh ditunda-tunda sampai satu bulan. Seseorang yang sengaja menyusahkan urusan kaum muslimin akan mengalami kesusahan dalam hidupnya. Hal ini didasarkan pada doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفَقْ بِهِ

“Ya Allah, siapa yang memimpin suatu urusan umatku lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan siapa yang memimpin suatu urusan umatku lalu ia berlaku lemah lembut kepada mereka, maka berlakulah lemah lembut kepadanya.” (HR. Muslim)

Orang yang memudahkan urusan kaum muslimin atas dasar rasa kasih sayang akan mendapatkan balasan kebaikan yang setimpal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menghiasi Diri dengan Akhlak Mulia demi Persatuan

Setiap hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dinasihatkan untuk senantiasa menghiasi diri dengan sifat kasih sayang dan kelembutan hanya dengan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Menghiasi diri dengan akhlak yang paling baik berfungsi untuk menghilangkan rasa kebencian di antara sesama, sehingga akan muncul rasa saling mencintai dan saling menyayangi yang dapat memperkuat unsur-unsur persatuan.

Sifat kasih sayang ini merupakan intisari risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan sifat ini dalam firman-Nya mengenai beliau:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya[21]: 107)

Pembahasan mengenai hadits ke-15 ini memberikan kesimpulan bahwa berkasih sayang merupakan sifat utama dari orang-orang yang beriman. Kehadiran rasa kasih sayang dan kelemahlembutan akan membuat segala sesuatu menjadi indah, sedangkan pencabutan sifat tersebut akan membuat segala sesuatu menjadi buruk.

Dalam institusi rumah tangga, keberadaan kasih sayang antara suami terhadap istri, istri terhadap suami, serta orang tua terhadap anak-anak akan menciptakan suasana rumah yang nyaman dan tenang. Sebaliknya, hilangnya kasih sayang akan menjadi penyebab utama hancurnya keharmonisan rumah tangga.

Prinsip yang sama juga berlaku di dalam sebuah perusahaan atau lembaga kerja. Banyak perusahaan yang mengalami kehancuran dan kerusakan akibat hilangnya rasa kasih sayang di dalamnya. Kondisi tersebut akan berbalik menjadi kesuksesan yang berkah apabila seorang direktur mampu berkasih sayang kepada bawahannya, dan demikian pula sebaliknya dari bawahan kepada pimpinannya.

Kehidupan yang dipenuhi rasa kasih sayang antar sesama akan melahirkan lingkungan yang harmonis serta aktivitas yang berjalan dengan baik. Sebaliknya, dalam dunia dakwah, hilangnya rasa kasih sayang akan menyebabkan dakwah menjadi lemah dan ditolak oleh masyarakat.

Sifat lemah lembut merupakan salah satu bentuk rahmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Prinsip agung ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 159)

Ayat tersebut menjadi petunjuk bahwa keinginan untuk disayangi oleh orang lain, baik oleh teman, sahabat, tetangga, maupun keluarga, harus diwujudkan dengan menghiasi diri menggunakan sifat rahmat ini.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Selasa, 21 Muharam 1448 H / 6 Juli 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

Hadits empat belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang urgensi pergi di awal waktu untuk bekerja....

Hadits tiga belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: الْحِرْصُ عَلَى الْوَقْتِ (Semangat Menjaga Waktu). Tema...

Hadits keduabelas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang berbuat baik kepada makhluk. Tema mulia ini didasarkan...

Satu Langkah Kecil Anda, Banyak Perubahan untuk Mereka!

Scroll to Top