Hadits Manajemen 14: Bersegera Memulai Aktivitas di Pagi Hari

Hadits empat belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang urgensi pergi di awal waktu untuk bekerja.
Hadits ini bersumber dari seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bernama Sakhr Al-Ghamidi. Beliau meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya memanjatkan doa tersebut, tetapi juga mempraktikkannya dalam berbagai aktivitas. Apabila mengutus pasukan perang dalam skala kecil atau pasukan perang dalam skala besar, beliau senantiasa memberangkatkan mereka di awal siang, yaitu pada waktu pagi hari.
Perawi hadits ini, Sakhr Al-Ghamidi, yang oleh Imam Abu Dawud dijelaskan nama lengkapnya adalah Sakhr bin Wada’ah, merupakan seorang pedagang (tajir). Sebagai bentuk pengamalan terhadap petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia selalu mengirimkan barang dagangannya dan memulai aktivitas perniagaan sejak pagi hari. Berkat konsistensi tersebut, usahanya berkembang pesat sehingga ia menjadi kaya raya dan memiliki banyak harta.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Para ulama menghukumi hadits ini sebagai hadits shahih li ghairihi.
Keberkahan dan Semangat di Awal Hari
Melalui hadits yang mulia ini, terdapat informasi berharga bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon keberkahan secara khusus bagi umatnya yang beraktivitas di pagi hari. Langkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tidak menunda-nunda pekerjaan dan memilih menggerakkan pasukan di waktu pagi menjadi teladan nyata.
Sikap Shakhr bin Wada’ah yang menjemput rezeki di pagi hari membuahkan hasil berupa kelimpahan harta. Hal ini menjadi bukti konkret tentang pentingnya memanfaatkan waktu pagi serta urgensi bersegera dalam bermuamalah tanpa menunda-nunda hingga siang hari. Orang yang memulai aktivitasnya sejak pagi hari secara tidak langsung berada dalam cakupan doa kebaikan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Penulis memberikan keterangan tambahan mengenai kandungan hadits ini bahwa doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang penuh berkah tersebut mengandung jaminan bagi seorang mukmin untuk senantiasa memiliki semangat tinggi. Bersegera melakukan aktivitas di awal hari dinilai lebih nyaman dan lebih baik bagi kondisi fisik maupun psikologis seseorang.
Istilah bukur diartikan sebagai awal siang, yang merujuk pada waktu pagi hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan keberkahan pada waktu tersebut. Di antara pembagian waktu yang ada, seperti malam, pagi, siang, dan sore hari, waktu pagi merupakan saat yang paling utama dan paling ideal untuk membuka keran-keran aktivitas harian.
Doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar umatnya diberikan keberkahan di pagi hari menjadi dasar utama bagi setiap muslim dalam mengatur waktu.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud)
Berdasarkan petunjuk tersebut, segala jenis pekerjaan, baik sebagai pedagang, pegawai, petani, karyawan, maupun penuntut ilmu, hendaknya dilakukan sejak pagi hari. Setiap muslim harus meyakini bahwa doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan waktu pagi sebagai waktu yang penuh berkah. Keberkahan itu sendiri bermakna tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, jika seseorang menginginkan urusannya berkembang dengan baik dan tidak statis, ia harus memulai aktivitasnya di pagi hari.
Orang yang bersegera di pagi hari untuk bekerja akan mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam aktivitas yang dilakukannya.
Manajemen Tidur dan Produktivitas Kerja
Seseorang yang tidur di awal waktu pada malam hari, seperti langsung tidur setelah menunaikan shalat Isya, akan dapat bangun di awal waktu pada pagi hari berikutnya dalam keadaan segar dan penuh semangat. Kondisi fisik yang bugar tersebut memungkinkannya untuk menyelesaikan seluruh rutinitas harian dengan giat, bersungguh-sungguh, dan produktif.
Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki kebiasaan begadang malam. Begadang malam dapat menurunkan produktivitas, mengganggu kesehatan tubuh, menyebabkan bangun kesiangan, serta memicu kelelahan saat beraktivitas sehingga menghilangkan nilai keberkahan waktu. Hadits ini menjadi patokan dan kaidah penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebalikan dari orang yang tidur cepat adalah orang yang tidur terlambat atau begadang, yang berakibat pada keterlambatan bangun di pagi hari. Jika orang yang begadang tersebut dipaksa untuk bangun cepat, ia akan mengawali hari dalam kondisi lelah, letih, dan malas. Kondisi fisik yang tidak prima tersebut menyebabkannya kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan secara sempurna sesuai dengan tuntutan standar yang ada. Hal ini memberikan pengaruh negatif yang besar terhadap tingkat produktivitas dan kualitas kinerjanya pada siang hari karena rasa kantuk dan kelelahan yang mendera.
Keutamaan Suasana Pagi bagi Fisik dan Pikiran
Waktu pagi merupakan kunci utama untuk meraih keberhasilan, kesuksesan, serta kualitas kerja yang tinggi (jaudatul ada’). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan waktu pagi sebagai waktu yang istimewa.
Secara biologis, jasmani manusia berada dalam tingkat kekuatan dan stamina yang paling sempurna pada pagi hari. Semangat dan konsentrasi seseorang berada di puncaknya setelah tubuh mendapatkan hak istirahat yang cukup melalui tidur malam yang berkualitas.
Waktu pagi yang diawali setelah tidur malam yang sempurna tidak hanya mengembalikan kekuatan fisik, tetapi juga memberikan efek positif bagi kesiapan mental. Pikiran manusia berada dalam kondisi yang sangat jernih serta belum terdistraksi oleh berbagai macam urusan duniawi.
Di samping itu, waktu pagi memiliki karakteristik khusus berupa ketenangan dan kedamaian. Suasana tenang tersebut tercipta karena aktivitas manusia masih sangat sedikit dan pergerakan di luar rumah belum padat. Kondisi lingkungan yang hening ini sangat mendukung tingkat konsentrasi dalam bekerja maupun belajar.
Bagi orang-orang yang tinggal di lingkungan pedesaan, suasana tenang di pagi hari masih sangat terasa. Sementara itu, fenomena di kota-kota besar seperti Jakarta menunjukkan bahwa jalur transportasi sudah mulai padat sejak waktu subuh. Perjalanan yang dimulai lebih awal tersebut dinilai sebagai langkah yang baik karena bertepatan dengan waktu yang penuh berkah.
Keluasan Waktu dan Produktivitas Kerja
Pemanfaatan jam-jam pertama di pagi hari secara optimal memberikan dampak berupa keluasan waktu pada siang harinya. Seseorang yang memulai aktivitasnya sejak dini hari memiliki bentang waktu yang sangat longgar untuk menyelesaikan berbagai urusan hingga menjelang waktu dzuhur.
Sebaliknya, seseorang yang baru terbangun pada siang hari, misalnya pukul 10.00, hanya memiliki sisa waktu yang sedikit untuk produktif. Keterlambatan bangun tersebut juga berdampak buruk bagi kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
Berdasarkan landasan hadits tentang keutamaan pagi, setiap kepala keluarga hendaknya memberikan edukasi kepada anggota keluarganya. Anak-anak, adik, maupun kakak tidak boleh dibiarkan membiasakan diri tidur di pagi hari setelah subuh agar kehidupan mereka berkah dan terhindar dari kesulitan hidup.
اللَّهُمَّ بَارِك لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud)
Melalui manajemen waktu yang baik di pagi hari, banyak pencapaian serta target tugas harian yang dapat diselesaikan dengan hasil yang sangat sempurna. Rentang waktu dari ba’da subuh hingga pukul 12.00 siang merupakan waktu krusial yang harus dijadikan sebagai golden time atau waktu yang paling produktif bagi seorang muslim.
Agar dapat mengoptimalkan waktu pagi dengan prima, seseorang dituntut untuk segera tidur di awal malam demi mendapatkan istirahat yang cukup. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan keteladanan nyata dengan tidak membiasakan begadang tanpa keperluan yang syar’i. Beliau memiliki kebiasaan untuk langsung tidur setelah menunaikan shalat Isya.
Kebiasaan tidur di awal waktu ini juga berkaitan erat dengan pemenuhan hak-hak keluarga, khususnya hak seorang istri. Waktu malam setelah Isya merupakan momen yang seharusnya dialokasikan untuk kebersamaan bersama keluarga di dalam rumah. Aktivitas luar rumah yang kurang mendesak, seperti berkumpul atau sekadar minum kopi hingga larut malam, dapat menelantarkan hak istri sehingga memerlukan izin yang jelas.
Pola hidup Islami yang ideal menuntun seorang hamba untuk tidur cepat di awal malam agar dapat bangun pada sepertiga malam terakhir guna menegakkan shalat malam, meskipun hanya satu rakaat. Setelah memasuki waktu subuh dan menyelesaikan rangkaian ibadah berupa dzikir pagi serta membaca Al-Qur’an, waktu yang tersedia untuk menyelesaikan berbagai aktivitas kehidupan menjadi sangat lapang. Seseorang yang memiliki kebiasaan tidur setelah waktu subuh tidak akan mungkin bisa menjadi produktif. Orang yang menghabiskan waktu paginya dengan tidur terhalang dari mendapatkan keberkahan serta kehilangan keutamaan doa kebaikan yang dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud)
Kebiasaan tidur ba’da subuh tidak membawa keberkahan, melainkan justru berisiko menimbulkan kegemukan yang tidak sehat. Al-Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tidur di pagi hari setelah subuh dapat memicu datangnya berbagai macam penyakit bagi tubuh.
Oleh karena itu, dalam kondisi waktu yang normal, seseorang tidak selayaknya melakukan begadang malam tanpa adanya urusan yang mendesak. Lain halnya jika terjadi kondisi khusus, seperti sedang menunaikan safar (perjalanan jauh) hingga larut malam atau adanya aktivitas malam yang mendesak. Pada kondisi pengecualian tersebut, seseorang diperbolehkan tidur setelah subuh untuk mengembalikan kondisi fisiknya. Sebaliknya, menjadikan begadang malam sebagai rutinitas tanpa alasan yang syar’i merupakan ciri dari diri yang kurang baik.
Kecukupan Waktu dan Kesesuaian dengan Fitrah Makhluk
Orang yang berpagi-pagi dalam menjemput rezeki akan memiliki kecukupan waktu yang memungkinkannya untuk menuntaskan seluruh target pekerjaan dengan optimal. Seorang karyawan atau pekerja yang bersegera memulai aktivitas di awal hari mendapatkan keuntungan yang sangat besar berupa doa keberkahan dan kebaikan langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Beraktivitas di pagi hari merupakan sebuah tindakan yang lurus dan selaras dengan fitrah seluruh makhluk serta alam semesta. Hal ini sejalan dengan analogi yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai konsep tawakal dan ikhtiar seekor burung:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia berangkat pagi-pagi dalam keadaan perut lapar dan pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Berdasarkan hadits tersebut, burung menjemput rezekinya dengan cara keluar dari sangkar di pagi hari (taghdu). Jika seorang manusia justru memilih untuk tidur dan tidak bergerak di pagi hari, ia sedang bertentangan dengan fitrah yang berlaku bagi seluruh makhluk hidup.
Sikap bersegera melakukan pekerjaan di awal waktu menjadi bukti nyata bahwa seseorang memiliki tekad yang kuat serta semangat yang luar biasa.
Siapa saja yang memiliki keinginan kuat untuk meraih ilmu pengetahuan atau ingin menyelesaikan urusan pekerjaannya dengan sukses, hendaknya ia bergegas memulainya di awal waktu dengan memanfaatkan momentum pagi hari. Waktu pagi merupakan waktu emas yang harus dimaksimalkan untuk menuntut ilmu dan menyelesaikan berbagai kemaslahatan hidup. Kondisi pikiran manusia pada pagi hari berada dalam keadaan yang sangat segar dan belum dipengaruhi oleh berbagai macam beban pikiran. Banyak ulama memberikan nasihat agar proses menghafal Al-Qur’an serta murajaah dilakukan pada waktu pagi setelah subuh karena pada saat itulah kekuatan hafalan berada pada tingkat yang paling prima.
Selain untuk aktivitas belajar, waktu pagi juga sangat efektif digunakan untuk menjaga kesehatan fisik melalui olahraga. Pengalaman nyata menunjukkan bahwa terdapat seorang jemaah umrah berusia lanjut yang memiliki riwayat penyakit stroke selama bertahun-tahun. Rahasia kesehatan dan ketahanannya ternyata terletak pada kebiasaannya yang konsisten membaca wirid dan Al-Qur’an setelah shalat subuh, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama satu jam.
Kisah serupa juga ditemukan pada seorang murid pengajian yang telah berusia 83 tahun, namun masih mampu melakukan aktivitas bersepeda jarak jauh. Rahasia kebugaran fisik tersebut diperoleh dari kebiasaan tidur di awal waktu pada malam hari dan langsung berolahraga pada pagi hari tanpa tidur lagi setelah subuh. Gerakan fisik di pagi hari seperti jalan kaki, berjoging, atau bersepeda terbukti mampu menjaga kesehatan tubuh secara optimal.
Pagi Hari sebagai Cermin Keteraturan Hidup
Bersegera melakukan aktivitas yang bermanfaat pada pagi hari merupakan tanda dari kecerdasan, kesungguhan, serta keteguhan hati seorang hamba. Kebiasaan ini juga menjauhkan seseorang dari kelalaian, kemalasan, dan ketidakberaturan hidup (al-faudha).
Seseorang yang memiliki pola hidup teratur dapat dikenali dari kebiasaannya tidur cepat di awal malam dan tidak tidur lagi setelah subuh untuk langsung beraktivitas. Fenomena sebaliknya dapat dilihat pada sebagian orang yang menghabiskan malam dengan begadang untuk menonton atau bermain gaplek. Mereka baru kembali ke rumah menjelang waktu subuh saat orang-orang justru sedang bersiap menuju masjid. Kebiasaan tidur setelah subuh hingga siang hari berisiko tinggi menyebabkan tubuh menjadi sakit-sakitan, lemah, dan membuat ritme kehidupan menjadi berantakan.
Tubuh yang segar dan sehat hanya dapat diperoleh melalui istirahat malam yang cukup serta menghindari tidur setelah subuh. Seseorang yang memelihara kebiasaan begadang lalu tidur pada pagi hari hingga pukul 10.00 akan membuat kondisi fisiknya cepat layu, ibarat tanaman yang kekurangan air.
Korelasi Bangun Pagi dengan Keberhasilan Akademik
Penulis kitab Al-Arba’una Al-Idariyyah memaparkan bukti ilmiah yang memperkuat keutamaan bangun pagi bagi para penuntut ilmu. Sebuah laporan studi dari Universitas Texas menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara waktu tidur dengan pencapaian akademik mahasiswa.
Berdasarkan hasil studi tersebut, mahasiswa yang memiliki kebiasaan bangun pagi dan tidur di awal waktu berhasil meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) rata-rata yang tinggi, yaitu mencapai skala 3,5 dari nilai maksimal 4,0. Sebaliknya, kelompok mahasiswa yang sering tidur larut malam atau begadang hanya mendapatkan nilai IPK rata-rata pada skala 2,5.
Meskipun sebagian pelajar sering menerapkan sistem kebut semalam dengan begadang sebelum ujian, hasil studi membuktikan bahwa pelajar yang konsisten menjaga pola tidur yang cukup di malam hari serta melakukan murajaah di pagi hari memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi dan menjadi orang-orang yang sukses dalam studinya.
Hubungan Bangun Pagi dengan Produktivitas Kerja di Jerman
Pada tahun yang sama, yaitu tahun 2008, seorang profesor dari Universitas Heidelberg di Jerman bidang pendidikan juga melakukan sebuah studi yang relevan. Penelitian tersebut menemukan bahwa individu yang membiasakan diri bangun pagi antara pukul 05.00 dan 06.00 adalah orang-orang yang jauh lebih aktif serta produktif dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang memiliki kebiasaan begadang hingga larut malam.
Selain lebih aktif dan produktif, orang-orang yang mengoptimalkan waktu pagi juga memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengantisipasi dan menyelesaikan berbagai masalah.
Penulis kitab juga menambahkan bahwa sebagian besar dari orang-orang yang terbiasa bangun pagi tersebut berhasil mendapatkan peluang karir dan pekerjaan yang jauh lebih bagus daripada kelompok orang yang suka begadang dan menghabiskan waktu pagi mereka untuk tidur kembali.
Perbandingan Karakteristik Antara Orang Pagi dan Orang Begadang
Terdapat studi-studi lain yang menganalisis karakter orang-orang yang terbiasa begadang sampai larut malam atau melewati tengah malam. Hasil analisis menunjukkan bahwa banyak di antara orang yang suka begadang memiliki kemampuan inovatif dan tingkat kecerdasan yang baik.
Namun, penelitian tersebut memberikan catatan penting bahwa rekan-rekan mereka yang memiliki semangat untuk bangun di awal waktu, menjaga shalat subuh, tidak tidur lagi setelahnya, serta mengatur waktu tidur malam di awal waktu, memiliki keunggulan yang jauh lebih besar. Kelompok orang yang bangun pagi ini dinilai jauh lebih optimis dalam menjalani kehidupan dibandingkan dengan kelompok yang suka begadang, meskipun kelompok begadang tersebut memiliki kelebihan dari segi inovasi dan kecerdasan.
Keberkahan waktu pagi juga memberikan dampak yang sangat besar terhadap stabilitas emosional seseorang. Orang yang terbiasa menggunakan waktu pagi dengan baik memiliki emosi yang lebih stabil, sehingga mereka mampu menyelesaikan segala aktivitas dan tanggung jawab pekerjaan dengan perasaan yang tenang serta nyaman. Studi mendalam ini menegaskan bahwa ketenangan jiwa tersebut membantu seseorang menuntaskan tugas sesuai dengan harapan.
Kebiasaan Para Pemimpin Perusahaan yang Sukses
Kenyataan mengenai keutamaan waktu pagi ini juga diakui secara luas di dunia profesional. Banyak di antara para pemimpin perusahaan terkemuka atau Chief Executive Officer (CEO) tingkat dunia yang meraih kesuksesan besar, menyatakan bahwa mereka merupakan bagian dari orang-orang yang selalu konsisten bangun dan memulai aktivitasnya di awal waktu pada pagi hari.
Penulis menukil beberapa contoh figur sukses, di antaranya Jeff Immelt yang merupakan mantan CEO General Electric, serta Jack Dorsey yang dikenal sebagai salah satu pendiri Twitter. Keduanya terbiasa bangun pagi pada pukul 05.30.
Bagi seorang muslim, waktu bangun tidur seharusnya bisa lebih awal dari jam tersebut, yaitu sekitar pukul 04.30 atau bahkan pukul 04.00 untuk melakukan berbagai persiapan ibadah sebelum adzan subuh berkumandang. Fakta ini menunjukkan bahwa orang yang sukses dalam urusan dunia saja tidak ada yang bermalas-malasan. Hal tersebut sesuai dengan kaidah:
الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ
“Balasan itu tergantung pada jenis amalan yang dilakukan.”
Kebiasaan untuk tidak tidur setelah subuh merupakan pendidikan yang sangat berharga. Pengalaman masa lalu saat menempuh pendidikan SMP dan SMA menunjukkan bahwa tidur setelah subuh adalah kebiasaan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga yang lebih tua akan langsung menegur dan membangunkan jika ada yang kedapatan tidur pada waktu tersebut.
Contoh lain yang disebutkan oleh penulis adalah Indra Nooyi, mantan CEO perusahaan PepsiCo, serta Tim Cook yang merupakan CEO dari perusahaan Apple. Keduanya memiliki kedisiplinan yang luar biasa dengan terbiasa bangun tidur pada pukul 4.30 pagi
Begitu pula dengan Vittorio Colao, mantan CEO dari Vodafone Group, yang konsisten bangun pada pukul 06.00 pagi. Daftar ini masih mencakup banyak sekali nama orang-orang sukses lainnya yang berhasil di bidang masing-masing karena konsisten memanfaatkan waktu pagi.
Menularkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Keluarga
Pelajaran berharga yang dapat diambil pada hari ini adalah mengamalkan esensi dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud)
Ilmu yang mulia ini hendaknya ditularkan dan diajarkan kepada anak-anak serta seluruh anggota keluarga. Jangan sampai anak-anak serta orang-orang yang disayangi dibiarkan tidur kembali setelah melaksanakan shalat subuh.
Pembiasaan ini sangat penting, terutama bagi anak laki-laki, agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki masa depan suram. Setiap muslim harus menumbuhkan semangat untuk langsung memulai aktivitas bermanfaat sejak waktu subuh demi menjemput keberkahan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan.
Seseorang yang merasa mengantuk setelah subuh hendaknya mengalihkan rasa kantuk tersebut dengan melakukan aktivitas fisik, seperti berjalan kaki atau berolahraga. Kebiasaan tidur setelah subuh harus dihindari karena ditinjau dari berbagai sisi, kebiasaan tersebut berdampak buruk bagi kehidupan. Tidur pada waktu tersebut menyebabkan seseorang terhalang dari mendapatkan keberkahan, memicu datangnya berbagai penyakit, serta membuat kondisi badan menjadi lemas.
Sebaliknya, seseorang yang langsung melakukan aktivitas setelah subuh akan mendapatkan doa langsung dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Aktivitas di pagi hari juga menyediakan bentang waktu yang sangat luas untuk digunakan secara optimal. Rentang waktu dari ba’da subuh hingga pukul 12.00 siang merupakan waktu emas yang sangat produktif. Seseorang tidak boleh bersantai-santai pada waktu tersebut, melainkan harus menggunakannya sebaik mungkin untuk berbagai maslahat, seperti belajar, bertani, berdagang, ataupun mencari nafkah.
Pembahasan ini sekaligus mengakhiri penjelasan mengenai hadits ke-14 dari kitab Al-Arba’una Al-Idariyyah, yaitu hadits-hadits yang terkait dengan manajemen.
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Selasa, 19 Dzulhijjah 1447 H / 15 Juni 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terbaru
Kategori
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 13: Semangat Menjaga Waktu
Hadits tiga belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: الْحِرْصُ عَلَى الْوَقْتِ (Semangat Menjaga Waktu). Tema...

Hadits Manajemen 12: Kewajiban Berbuat Baik kepada Makhluk
Hadits keduabelas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang berbuat baik kepada makhluk. Tema mulia ini didasarkan...

Hadits Manajemen 11: Pegawai Yang Amanah dalam Bekerja
Hadits kesebelas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah menguraikan tentang pentingnya memelihara sifat amanah di dalam dunia kerja....