Hadits Manajemen 9: Kriteria Manusia Terbaik dan Terburuk

Hadits kesembilan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan motivasi kepada karyawan untuk senantiasa melakukan kebaikan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi, serta dinilai shahih oleh para ulama sebagaimana tercantum di dalam kitab Shahihul Jami’ nomor 2603.
Hadits pendek yang penuh makna ini diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ؟ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ، وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang paling baik di antara kalian dari orang yang paling buruk di antara kalian? Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya. Sedangkan orang yang terburuk di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain tidak merasa aman dari keburukannya.” (HR. Tirmidzi)
Dua Karakter Manusia yang Bertolak Belakang
Hadits tersebut menjelaskan keberadaan dua kelompok manusia yang memiliki karakter sangat bertolak belakang di tengah masyarakat.
Golongan pertama adalah manusia terbaik. Kriteria manusia terbaik di dalam pandangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah sosok yang kehadirannya senantiasa diharapkan membawa maslahat. Seseorang akan merasa sangat tenang dan nyaman ketika berada di dekatnya karena lisan dan perbuatannya terjaga dengan baik, serta bebas dari kecenderungan berbuat buruk. Seseorang yang paling baik akan memancarkan kebaikan dari dalam dirinya, baik berupa senyuman yang tulus, nasihat yang bermanfaat, maupun keluhuran akhlak kepada sesama.
Sebaliknya, manusia terburuk adalah sosok yang tidak mendatangkan kebaikan sedikit pun, melainkan justru selalu memunculkan kecemasan bagi orang lain. Kekhawatiran tersebut dapat bersumber dari ucapannya yang tajam, kebiasaan menggunjing (ghibah), maupun tindakan yang selalu memicu konflik di tengah masyarakat. Orang lain tidak pernah merasa aman dari gangguan yang ditimbulkannya. Karakter inilah yang menempatkan seseorang pada kedudukan paling buruk di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Seorang mukmin sejati akan selalu berada di barisan terdepan dalam menebar kemaslahatan jika memiliki sifat utama ini. Karakteristik hamba pilihan tersebut ditandai dengan dominasi perbuatan baik yang jauh melampaui keburukannya, tidak pernah menyakiti orang lain, serta gemar berbuat baik kepada siapa saja tanpa membedakan kerabat dekat maupun orang asing.
Definisi Muslim, Mukmin, dan Muhajir Sejati
Di dalam kitab halaman 36, terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu mengenai hakikat dari seorang muslim dan orang yang berhijrah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan kaum muslimin lainnya dari bahaya lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan sabda tersebut, esensi dari hijrah adalah meninggalkan segala bentuk larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang mengaku telah berhijrah namun masih terus melakukan kemaksiatan pada hakikatnya belum melakukan hijrah secara sempurna, sekalipun telah mengubah penampilan fisik maupun gaya berpakaiannya agar terlihat sesuai dengan sunnah.
Kriteria ini juga dipertegas melalui hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
“Seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan manusia dari bahaya lisan dan tangannya, dan seorang mukmin adalah orang yang membuat manusia merasa aman atas darah dan harta mereka.” (HR. An-Nasa’i)
Hadits-hadits ini menjadi seruan dakwah yang kuat bagi setiap orang yang beriman untuk senantiasa menampakkan kebaikan nyata di dalam kehidupan sehari-hari demi meraih keutamaan tersebut, tanpa didasari oleh sifat riya.
Peringatan tentang Bahaya Lisan yang Menyakiti Tetangga
Hadits di dalam kitab halaman 37 yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu mengisahkan dialog antara seorang laki-laki dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا
“Seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang wanita yang dikenal karena banyak melakukan shalat, puasa, dan sedekah, hanya saja dia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” (Mishkat al-Masabih)
Mendengar penuturan tentang wanita yang rajin ibadah ritual namun suka menyakiti tetangganya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban yang tegas:
قَالَ هِيَ فِي النَّارِ
“Beliau bersabda, ‘Wanita itu di dalam neraka.” (Mishkat al-Masabih)
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketekunan dalam menjalankan shalat, puasa, dan kedermawanan yang tinggi bahkan hingga menanggung kebutuhan konsumsi satu masjid penuh pada hari Jumat menjadi tidak bernilai apabila lisannya tajam dan gemar menyakiti perasaan orang lain. Ketidakmampuan menjaga lisan dari menyakiti tetangga dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah dilakukan dan menyeret pelakunya ke dalam neraka.
Sebaliknya, laki-laki tersebut kemudian menyampaikan keadaan wanita lain kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَلَاتِهَا وَصَدَقَتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي بِلِسَانِهَا جِيرَانَهَا؟
“Laki-laki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada wanita lain yang dikenal sedikit shalat, puasa, dan sedekahnya. Ia hanya bersedekah dengan sepotong keju kering, namun ia tidak pernah menyakiti tetangganya dengan lisannya.” (Mishkat al-Masabih)
Mendengar penjelasan mengenai wanita yang kedua ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
قَالَ هِيَ فِي الْجَنَّةِ
“Beliau bersabda, ‘Wanita tersebut di dalam surga.” (Mishkat al-Masabih)
Meskipun kualitas ibadah sunnahnya biasa saja dan sedekahnya hanya berupa potongan keju kering karena keterbatasan hartanya, wanita ini memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu konsisten menjaga lisan dan tidak pernah menyakiti tetangganya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa keselamatan lisan merupakan jalan pintas menuju surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karakter Karyawan yang Jujur pada Diri Sendiri
Di dalam dunia kerja, seorang karyawan atau pegawai yang baik dan jujur kepada dirinya sendiri adalah mereka yang tidak membawa keburukan bagi lingkungan kerjanya. Karyawan yang unggul tidak akan menyakiti siapapun, baik melalui ucapan yang tidak pantas maupun perbuatan yang merugikan. Ia senantiasa memastikan bahwa rekan kerja dan lingkungan sekitarnya merasa aman dari segala bentuk gangguan yang dapat ditimbulkannya.
Pelajaran dari hadits kesembilan ini menegaskan bahwa standar manusia terbaik tidak semata-mata diukur dari kuantitas ibadahnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menahan diri untuk tidak menyakiti sesama.
Seseorang yang melimpah amalan shalat, puasa, dan sedekahnya dapat terancam masuk neraka apabila lisannya tajam dan gemar menyakiti orang lain. Sebaliknya, seseorang yang ibadah sunnahnya biasa saja namun mampu menjaga lisan dan perbuatannya dengan baik akan dijamin masuk ke dalam surga.
Oleh karena itu, menjaga lisan dan menahan diri dari menyakiti sesama, terutama dalam bermuamalah dengan tetangga dan masyarakat sekitar, merupakan kewajiban yang paling penting. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat-Nya dan memasukkan kaum muslimin ke dalam surga-Nya.
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Selasa, 14 Syaban 1447 / 2 Februari 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 8: Banyak Bicara Bukan Sifat Karyawan Unggul
Hadits kedelapan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan prinsip bahwa banyak bicara bukan merupakan sifat dari…

Hadits Manajemen 7: Meninggalkan Perdebatan Sia-sia
Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang…

Hadits Manajemen 6: Meninggalkan Perbuatan Keji
Hadits keenam pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan ترك الفُحش (meninggalkan perbuatan keji). Pembahasan ini menekankan…