Hadits Manajemen 8: Banyak Bicara Bukan Sifat Karyawan Unggul

Hadits kedelapan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan prinsip bahwa banyak bicara bukan merupakan sifat dari seorang karyawan atau pegawai yang unggul, baik, dan istimewa.
Nasihat penting ini didasarkan pada sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya dengan derajat hasan. Hadits ini juga dicantumkan oleh Syaikh Albani rahimahullah dalam kitab Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah nomor 791.
Hadits tersebut diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan orang yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun (orang yang banyak bicara), al-mutasyaddiqun (orang yang sengaja melebarkan mulutnya saat berbicara agar terkesan fasih atau fasiq), dan al-mutafaihiqun (orang yang sombong).” (HR. Tirmidzi)
Adapun untuk golongan yang ketiga, para sahabat sempat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta kejelasan karena belum mengetahui maknanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ
“Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui makna ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, lalu apakah yang dimaksud dengan al-mutafaihiqun? Rasulullah menjawab, ‘Orang-orang yang sombong.” (HR. Tirmidzi)
Kemuliaan Pemilik Akhlak yang Baik
Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira mengenai keberadaan orang-orang yang paling beliau cintai. Pada hari kiamat kelak, kelompok manusia ini akan mendapatkan kedudukan yang sangat istimewa berupa tempat duduk atau majelis yang sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kedekatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan harapan terbesar bagi setiap muslim yang senantiasa mendambakan syafaat serta kesempatan untuk berjumpa dan melihat wajah beliau secara langsung di akhirat.
Kunci utama untuk mendapatkan kemuliaan tersebut adalah dengan menjadi pribadi yang paling baik akhlaknya. Tingkat keutamaan akhlak seseorang berbanding lurus dengan besarnya cinta yang diraih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta tingkat kedekatan posisi majelisnya dengan beliau. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing kaum muslimin untuk memperbaiki kualitas akhlaknya.
Sebaliknya, hadits ini juga menjadi peringatan keras karena mengabarkan adanya golongan manusia yang paling dibenci oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta ditempatkan pada posisi majelis yang paling jauh dari beliau pada hari kiamat akibat buruknya lisan dan sifat kesombongan yang mereka pelihara selama hidup di dunia. Harapan untuk dekat, melihat, serta duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhirat kelak akan menjadi sebuah kerugian yang sangat besar apabila perbuatan seseorang selama di dunia justru membuatnya menjauh dari beliau.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan informasi yang sangat jelas mengenai golongan manusia yang paling beliau benci dan posisi majelisnya paling jauh dari beliau pada hari kiamat. Golongan tersebut memiliki tiga sifat buruk, sebagaimana sabda beliau:
وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ
“Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan orang yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun, al-mutasyaddiqun, dan al-mutafaihiqun.” (HR. Tirmidzi)
Sifat yang pertama adalah ats-tsartsarun, yaitu orang yang banyak bicara tanpa manfaat. Sifat yang kedua adalah al-mutasyaddiqun, yaitu orang yang berbicara dengan cara yang dibuat-buat atau sok fasih hingga melebarkan mulutnya. Sifat yang ketiga adalah al-mutafaihiqun, yang diartikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai orang-orang yang sombong (al-mutakabbirun).
Kombinasi antara banyak bicara, sok fasih, dan memelihara sifat sombong menjadi penyebab utama seseorang dibenci serta dijauhkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kerugian nyata akan menimpa seseorang yang gemar berbicara sok tahu di dalam suatu majelis tanpa dilandasi ilmu, yang tujuannya semata-mata hanya ingin dipuji pintar atau dinilai hebat oleh orang lain.
Dampak buruk dari sifat banyak bicara tidak hanya berakibat di akhirat, melainkan juga mendatangkan kerugian di dunia. Bisa dirasakan, seseorang tidak akan merasa nyaman apabila memiliki teman yang berbicara secara berlebihan dan tidak proporsional. Segala sesuatu yang disajikan secara berlebihan, seperti halnya masakan yang diberi garam terlalu banyak, pasti tidak akan disukai.
Pergaulan yang didasari oleh motivasi ingin terlihat hebat, pintar, atau paling fasih secara berlebihan akan mendatangkan bahaya sosial. Sebaliknya, pembicaraan yang dilakukan secara wajar, akrab, dan proporsional merupakan hal yang sangat baik.
Sebagai contoh, ketika menerima kunjungan tamu, tuan rumah wajib menyambutnya dengan ramah, memberikan senyuman, serta mengajak mengobrol dengan akrab. Apabila sebuah kunjungan hanya disambut dengan sikap diam tanpa kata, tamu yang datang tentu akan merasa tidak dihargai dan enggan untuk berkunjung kembali. Komunikasi yang hangat dan penuh senyuman di dalam menyambut sesama muslim merupakan bagian dari akhlak yang mulia.
Etika Bicara bagi Karyawan dan Pegawai
Konteks yang dimaksud di dalam hadits ini secara khusus mengarah pada etika seorang karyawan atau pegawai di lingkungan kerja. Karyawan yang menghabiskan waktunya setiap hari untuk mengobrol tanpa ada keperluan yang penting atau mendesak merupakan cerminan dari sifat banyak bicara yang tercela.
Seorang mukmin secara umum, serta seorang karyawan secara khusus, yang memiliki kebiasaan banyak bicara tidak akan mendapatkan tempat di hati manusia. Sifat tersebut secara pasti akan menjatuhkan martabat, kadar, serta kedudukannya di mata rekan kerja maupun sahabat-sahabatnya, sehingga keberadaannya menjadi tidak lagi dihormati.
Mengenai bahaya dari sifat banyak bicara ini, terdapat sebuah nasehat berharga dari Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang disampaikan kepada Ahnaf bin Qais:
يَا أَحْنَفُ مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ
“Wahai Ahnaf, barang siapa yang banyak bicaranya, niscaya banyak pula kekeliruannya.”
Nasihat tersebut menjadi rahasia umum bahwa semakin banyak seseorang berbicara, maka akan semakin banyak pula peluang kesalahan yang diperbuatnya. Kenyataan ini berlaku bagi siapa saja, termasuk bagi seorang penceramah yang menyampaikan ucapan secara berlebihan, terlebih jika pembicaraan tersebut dilakukan tanpa landasan ilmu yang kuat.
مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ قَلَّ حَيَاؤُهُ، وَمَنْ قَلَّ حَيَاؤُهُ قَلَّ وَرَعُهُ، وَمَنْ قَلَّ وَرَعُهُ مَاتَ قَلْبُهُ
“Barang siapa yang banyak bicaranya, niscaya banyak pula kekeliruannya. Barang siapa yang banyak kekeliruannya, niscaya akan sedikit rasa malunya. Barang siapa yang sedikit rasa malunya, niscaya akan berkurang sifat wara’ (kehati-hatiannya). Dan barang siapa yang berkurang sifat wara’nya, niscaya akan mati hatinya.”
Pelajaran berharga yang dapat dipetik adalah bahwa muara dari kebiasaan banyak bicara yang tidak bermanfaat adalah matinya hati seseorang.
Ketakutan Kaum Salaf terhadap Bahaya Lisan
Generasi salaf yang saleh memiliki tingkat kekhawatiran yang sangat tinggi terhadap bahaya banyak bicara. Mereka sangat menjaga setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu memberikan penegasan mengenai pentingnya mengurung lisan:
وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، مَا عَلَى الْأَرْضِ شَيْءٌ أَحْوَجُ إِلَى طُولِ سِجْنٍ مِنَ اللِّسَانِ
“Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang lebih membutuhkan penjara yang lama selain daripada lisan.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa di antara seluruh anggota tubuh manusia, lisan merupakan bagian yang paling mendesak untuk ditahan, dijaga, serta dikurung dari ucapan yang tidak berguna. Menahan lisan agar tidak berbicara secara berlebihan merupakan kewajiban yang paling utama untuk menjaga keselamatan diri.
Sahabat Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu memberikan sebuah perumpamaan yang sangat logis mengenai keadilan dalam menggunakan anggota tubuh. Beliau memberikan nasihat:
أَنْصِفْ أُذُنَيْكَ مِنْ فِيكَ، وَإِنَّمَا جُعِلَ لَكَ أُذُنَانِ وَفَمٌ وَاحِدٌ؛ لِتَسْمَعَ أَكْثَرَ مِمَّا تَتَكَلَّمُ
“Berlakulah adil terhadap kedua telingamu daripada mulutmu. Sesungguhnya engkau dianugerahi dua telinga dan hanya satu mulut supaya engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”
Nasihat ini menjadi sebuah teguran bagi setiap muslim untuk senantiasa memperhatikan sikap dan kualitas percakapan sehari-hari. Seseorang yang kadar bicaranya jauh lebih dominan daripada mendengarnya dinilai telah berlaku tidak adil terhadap fungsi anggota tubuhnya sendiri. Struktur fisik manusia yang dibekali dua telinga dan satu mulut secara tersirat memberikan pelajaran hidup agar manusia memprioritaskan aktivitas mendengar daripada banyak berbicara.
Keutamaan Menjadi Pendengar yang Baik
Menerapkan prinsip “lebih banyak mendengar” saat berinteraksi dengan sesama memiliki kelebihan yang sangat besar, terutama dalam hal menyerap ilmu pengetahuan. Seseorang tidak perlu merasa malu atau takut dianggap bodoh ketika memilih untuk diam dan menyimak pembicaraan orang lain. Dengan melatih diri menjadi pendengar yang baik, wawasan dan pengetahuan seseorang akan bertambah secara signifikan.
Sebaliknya, dorongan untuk selalu mendominasi pembicaraan hanya akan memperbesar peluang ketergelinciran ke dalam kekeliruan, sebagaimana yang kembali ditegaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu bahwa orang yang banyak bicara akan banyak terjatuh dalam kesalahan, dan banyaknya kesalahan secara otomatis akan menumpuk dosa-dosa baru yang merugikan diri sendiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang memilih untuk diam akan terhindar dari berbagai kesalahan. Sebaliknya, orang yang gemar berbicara secara berlebihan sangat rentan tergelincir pada perbuatan membicarakan aib orang lain (ghibah) yang berujung pada dosa.
Dalam pergaulan sehari-hari, lisan yang tidak terjaga sering kali digunakan untuk merundung (bully) orang lain, seperti mengejek orang yang kurus dan tinggi dengan sebutan tiang listrik, atau mengolok-olok orang yang gemuk. Segala bentuk ucapan buruk tersebut merupakan contoh nyata dari banyaknya dosa yang dihasilkan akibat tidak menjaga lisan. Mengenai akibat buruk dari menumpuknya dosa, terdapat sebuah kaidah penting yang patut direnungkan:
وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Dan barang siapa yang banyak dosanya, maka neraka lebih berhak baginya.” (HR. At-Thabrani)
Mengingat bahayanya lisan tersebut, Ibnu Hibban rahimahullah memberikan bimbingan penting bagi orang-orang yang berakal:
الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَلْزَمَ الصَّمْتَ إِلَى أَنْ يَلْزَمَهُ التَّكَلُّمُ
“Wajib bagi orang yang berakal untuk melazimi diam sampai dia diharuskan untuk berbicara.”
Nasihat ini tidak berarti melarang seseorang untuk berbicara sama sekali. Seseorang dipersilakan untuk berbicara apabila hal tersebut memang menjadi suatu keharusan dan memberikan manfaat. Namun, jika tidak ada keperluan mendesak, memilih untuk diam adalah pilihan yang terbaik.
Kenyataannya, sangat banyak orang yang menyesali ucapannya, sementara hampir tidak ada orang yang menyesali sikap diamnya. Manusia yang paling malang dan mendapat ujian paling besar di dunia adalah orang yang diuji dengan lisan yang gemar berbicara tanpa arah disertai kondisi hati yang tertutup dari kebenaran.
Korelasi Kesehatan Fisik dan Ketenangan Jiwa
Para ulama terdahulu telah merumuskan konsep penjagaan diri yang sangat mendalam terkait hubungan antara fisik dan jiwa. Salah seorang ulama menyatakan:
رَاحَةُ الْجِسْمِ فِي قِلَّةِ الطَّعَامِ، وَرَاحَةُ الْقَلْبِ فِي قِلَّةِ الْآثَامِ
“Kenyamanan fisik terletak pada sedikitnya makan, dan ketenangan jiwa terletak pada sedikitnya dosa.”
Prinsip kenyamanan fisik melalui pengurangan porsi makan yang digagas para ulama ini sejalan dengan metode kesehatan modern yang dikenal sebagai puasa 16 jam (intermittent fasting).
Tubuh manusia secara alamiah membutuhkan waktu untuk beristirahat dari aktivitas mencerna makanan. Manfaat fisik ini sangat terasa ketika seseorang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, di mana tubuh terasa lebih ringan dan nyaman. Sebaliknya, konsumsi makanan yang berlebihan dapat memicu berbagai penyakit berbahaya seperti diabetes dan kolesterol tinggi.
Terkait hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah hukum fikih bahwa suatu makanan yang pada dasarnya berstatus halal dapat berubah hukumnya menjadi haram untuk dikonsumsi oleh individu tertentu apabila makanan tersebut terbukti secara medis dapat memperburuk kondisi penyakit yang dideritanya.
Adapun mengenai ketenangan jiwa, hal tersebut hanya dapat dicapai dengan cara meminimalkan perbuatan dosa. Setiap muslim dapat merasakan bahwa saat dirinya jauh dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan terjerumus ke dalam kemaksiatan, kondisi hatinya secara otomatis akan diliputi oleh rasa gelisah serta tidak tenang. Jiwa manusia tidak akan pernah merasa nyaman dan tentram, melainkan akan terus diliputi oleh berbagai ketakutan apabila dirinya berlumur dosa serta jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kenyamanan hati yang hakiki hanya akan diperoleh ketika seseorang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mengenai hubungan antara kondisi batin dan keinginan duniawi, para ulama menjelaskan sebuah kaidah penting:
رَاحَةُ الْقَلْبِ فِي قِلَّةِ الِاهْتِمَامِ
“Kenyamanan hati terletak pada sedikitnya keinginan (beban pikiran).”
Apabila ketenangan jiwa diraih dengan meminimalkan dosa, maka kenyamanan hati dapat dicapai dengan cara membatasi keinginan atau menahan hawa nafsu. Hati seseorang tidak akan pernah tenang dan nyaman jika terus-menerus memelihara keinginan duniawi yang tidak ada habisnya.
Kenyamanan hati akan terwujud saat seseorang menghiasi dirinya dengan sifat qanaah, yaitu merasa cukup atas segala pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, hati akan terasa sesak dan tidak nyaman apabila di dalam satu waktu seseorang memiliki terlalu banyak ambisi, seperti ingin melakukan perjalanan ke Malaysia, memiliki dua unit rumah di lokasi yang berbeda, mengoleksi berbagai kendaraan, menguasai tanah, hingga mengelola berbagai macam bisnis secara berlebihan.
Kunci utama untuk mengobati hati yang sesak tersebut adalah dengan meminimalkan keinginan duniawi. Selaras dengan prinsip ini, kenyamanan lisan juga akan diperoleh dengan cara membatasi pembicaraan yaitu hanya berbicara pada hal-hal yang mendatangkan kemaslahatan.
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Selasa, 14 Syaban 1447 / 2 Februari 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 7: Meninggalkan Perdebatan Sia-sia
Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang…

Hadits Manajemen 6: Meninggalkan Perbuatan Keji
Hadits keenam pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan ترك الفُحش (meninggalkan perbuatan keji). Pembahasan ini menekankan…

Hadits Manajemen 5: Menjadi Sebaik-Baik Pegawai
Hadits kelima pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah ini membahas tentang “خير العمال أحسنهم أخلاقًا” (Sebaik-baik pegawai adalah…