Hadits Manajemen 16: Pegawai yang Tenang

Hadits enam belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Pegawai yang Tenang.
Pada kesempatan ini, kita membahas hadits ke-16 dengan tema pegawai yang tenang. Tema ini diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
لا تَغْضَبْ
“Abu Hurairah menuturkan bahwa seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Berikanlah aku wasiat.’ Beliau menjawab, ‘Jangan marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, tetapi beliau tetap menjawab, ‘Jangan marah.’” (HR. Bukhari)
Nasihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Jangan marah,” merupakan wasiat yang singkat dan nasihat yang ringkas. Namun, maknanya sangat luas dan komprehensif. Inilah salah satu keistimewaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu kemampuan mengungkapkan kalimat singkat dengan makna yang sangat luas.
Kemarahan sebagai Sumber Keburukan
Hadits ini menunjukkan bahwa kemarahan merupakan inti atau sumber keburukan. Sebaliknya, tidak marah merupakan inti dan sumber kebaikan.
Dalam sebuah kelas di Makkah, seorang syekh menceritakan suatu kejadian. Dua mobil mengalami kecelakaan di sebuah jalan. Pengemudi mobil yang ditabrak keluar dalam keadaan marah. Kemarahan itu wajar, tetapi yang tidak wajar adalah kemarahan yang tidak terkontrol.
Laki-laki itu membawa pentungan atau balok, lalu memukulkan benda tersebut ke mobil hingga penyok dan rusak. Ia mengucapkan kata-kata kasar tanpa kendali karena merasa dirugikan setelah mobilnya ditabrak dari belakang.
Pengemudi mobil yang menabrak itu ikut marah. Ia kemudian mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke kepala laki-laki yang memukul mobil tadi hingga meninggal dunia.
Dampak kemarahan itu sangat besar. Seandainya ia tidak marah, mungkin ia akan selamat. Mobil yang rusak masih dapat diganti, tetapi akibat kemarahan tersebut, nyawa melayang. Inilah salah satu dampak negatif kemarahan.
Meneladani Sifat Hilm Rasulullah
Ketika seorang laki-laki meminta nasihat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Jangan marah.” Beliau adalah manusia yang paling hilm, yaitu memiliki sifat santun dan tidak mudah marah, meskipun menghadapi orang-orang jahil.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghadapi orang-orang jahil dengan santun dan tidak marah. Sifat ini kemudian diwariskan kepada para sahabat, tabiin, dan generasi setelah mereka.
Sebagai dai, pegawai, dan siapa saja, hendaknya kita memiliki sifat hilm: tidak mudah marah dan mampu menahan amarah. Tidak marah akan mendatangkan kebaikan. Jika marah mendatangkan keburukan, tidak marah mendatangkan kebaikan.
Kisah Ibrahim bin Adham
Ibrahim bin Adham pernah berjalan di sebuah jalan. Pada masa itu, kaum salaf dikenal memiliki jenggot yang panjang. Seorang Yahudi yang membawa anjing kemudian berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Wahai Ibrahim, jenggot Anda lebih suci daripada ekor anjing saya, atau ekor anjing saya lebih suci daripada jenggot Anda?”
Orang Yahudi itu berusaha memancing kemarahan Ibrahim bin Adham. Perkataan seperti ini dapat menjadi ujian, terlebih karena disampaikan oleh orang kafir yang membawa anjing dan mengganggu seseorang dengan jenggotnya.
Jika seseorang disamakan dengan anjing, tentu ia akan marah. Namun, Ibrahim bin Adham menjawab dengan tenang, “Seandainya jenggotku masuk surga, jenggotku lebih suci daripada ekor anjingmu. Akan tetapi, jika jenggotku masuk neraka, ekor anjingmu lebih suci daripada jenggotku.”
Akhirnya, orang Yahudi itu mengucapkan syahadat dan masuk Islam setelah melihat akhlak seorang Muslim. Akhlak tersebut merupakan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menasihati umatnya agar tidak marah.
Hal itu tidak mengherankan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling hilm, tidak mudah marah. Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan beliau dengan sifat dan akhlak yang paling indah serta menyeru beliau untuk menghiasi diri dengan akhlak yang luhur.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf [7]: 199)
Ayat tersebut memerintahkan kita untuk memaafkan, memerintahkan kebaikan, dan berpaling dari orang-orang jahil, baik dalam perkataan maupun tindakan.
Perintah ini ditujukan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nabi Muhammad adalah teladan bagi kita.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah membalas dendam karena urusan dirinya. Jika dirinya diganggu, beliau tidak marah. Beliau marah ketika kehormatan Allah Subhanahu wa Ta’ala dilanggar.
لَيْسَ الشَّديدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّما الشَّديدُ الَّذي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah. Inilah makna kekuatan menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Menurut pandangan kebanyakan manusia, orang kuat ialah orang yang mampu melampiaskan kemarahannya, menang dalam gulat, atau mengalahkan orang lain karena tubuhnya kuat dan besar. Namun, menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, orang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah dan tidak melampiaskan kemarahannya.
Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan sifat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya.” (HR. Muslim)
Beliau sama sekali tidak pernah memukul apa pun. Ketika marah, sebagian orang memukul tembok atau benda lain yang tidak bersalah. Bahkan, ada yang berlatih memukul dengan merusak tanaman, seperti pohon pisang. Perbuatan itu tidak tepat karena tanaman memiliki manfaat. Memukul tembok atau pohon juga dapat mencederai tangan.
Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul wanita. Karena itu, tindakan kekerasan dalam rumah tangga sangat memprihatinkan, baik terhadap istri, anak perempuan, maupun perempuan lainnya.
Seorang perempuan yang menjadi istri menyerahkan dirinya kepada suaminya untuk mendapatkan perhatian, perlindungan, dan penjagaan. Namun, sebagian suami justru menyiksa dan memukulnya. Perbuatan tersebut merupakan tindakan yang tercela.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah memukul wanita. Beliau menjaga tangannya, meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kekuatan yang besar kepada beliau.
Dengan kekuatan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memecahkan batu dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kekuatan Rasulullah dan Larangan Memukul
Para sahabat tidak mampu memecahkan batu besar ketika penggalian parit dalam Perang Khandaq. Dengan izin Allah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mampu memecahkannya. Para nabi memiliki kekuatan, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul wanita ataupun pembantu.
Pembantu tidak boleh diperlakukan seolah-olah sebagai makhluk yang berbeda. Kedudukannya sama sebagai manusia. Perbedaan keadaan hanya terletak pada nasib dan pekerjaan. Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekayaan dan memudahkan seseorang dalam urusan hartanya, ia dapat membeli berbagai keperluan dan mendatangkan pembantu. Orang yang tetap memuliakan pembantunya adalah orang yang memiliki akhlak baik. Sebaliknya, orang yang memukul pembantunya menunjukkan kerendahan akhlak.
Aisyah menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul dengan tangannya, kecuali ketika berjihad di jalan Allah. Beliau tidak memukul wanita ataupun pembantu. Penggunaan kekuatan hanya dilakukan dalam jihad yang benar, bukan untuk melakukan kekerasan terhadap sesama Muslim.
Sangat memprihatinkan ketika sebagian orang mudah memukul saudaranya sendiri karena membela kelompok atau golongannya. Tangan seorang Muslim semestinya dijaga dan tidak digunakan untuk memukul kecuali pada tempat yang dibenarkan.
Rasulullah Tidak Membalas untuk Kepentingan Pribadi
Apabila disakiti secara pribadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak membalas dendam. Beliau baru bertindak apabila kehormatan Allah ‘Azza wa Jalla dilanggar. Tindakan beliau dilakukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.
Seseorang tidak boleh bertindak hanya karena dorongan kemarahan. Ia harus bersungguh-sungguh menahan diri agar tidak melampiaskan kemarahan dan kemurkaan. Jika kemarahan menguasai manusia, kemarahan itu yang akan memerintah dan melarangnya. Akibatnya, tindakan seseorang tidak lagi didasarkan pada kebaikan, melainkan pada kemarahan.
Menahan Kemarahan dan Menghilangkan Keburukan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-A’raf tentang meredanya kemurkaan Nabi Musa ‘Alaihis Salam. Setelah kemarahannya mereda, beliau mengambil lempengan-lempengan yang berisi wahyu.
وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الْأَلْوَاحَ ۖ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ
“Ketika amarah Musa telah reda, dia mengambil kembali lempengan-lempengan itu. Di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 154)
Orang yang bersungguh-sungguh mengendalikan kemarahannya akan mampu menyingkirkan keburukan yang ditimbulkannya. Keburukan itu hilang darinya seakan-akan ia tidak pernah marah. Meskipun menahan kemarahan sangat berat, kesungguhan dalam mengendalikan diri dapat menghilangkan akibat buruknya.
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf.” (QS. Asy-Syura [42]: 37)
Allah memuji orang yang mampu menahan kemarahan dan memaafkan manusia. Kedua sifat ini termasuk sifat orang-orang bertakwa yang disiapkan untuk memperoleh surga.
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran [3]: 134)
Ayat tersebut datang setelah perintah untuk bersegera menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disiapkan bagi orang-orang bertakwa. Di antara sifat mereka ialah mampu menahan amarah dan memaafkan manusia.
Marah: Tercela jika Melampaui Batas
Marah merupakan akhlak tercela, perilaku buruk, dan perbuatan hina. Kemarahan menjadi kunci bagi sebagian besar bencana dan penyebab berbagai musibah apabila melampaui batas serta keluar dari tujuan yang benar.
Sifat marah merupakan watak dasar manusia. Karena itu, tidak semua kemarahan tercela. Sebagian kemarahan dapat dipandang terpuji. Kemarahan yang buruk ialah kemarahan yang melampaui batas dan tidak sesuai dengan tujuan yang benar.
Definisi Marah dan Dampaknya pada Kehidupan
Menurut penulis, marah adalah mendidihnya darah dalam jantung sebagai upaya menolak gangguan atau membalas dendam kepada orang yang melakukan gangguan tersebut.
Dalam kehidupan nyata, tuntutan semakin meningkat, urusan semakin rumit, dan keburukan semakin banyak. Kemarahan mulai menjalar ke dalam jiwa dan mengalir dalam darah. Akibatnya, banyak orang berada dalam kemarahan yang terus-menerus, ketegangan yang mengganggu, serta kecemasan yang melelahkan.
Pada zaman sekarang, orang mudah marah karena tingkat stres yang luar biasa, tekanan ekonomi, dan lingkungan. Kemacetan juga menjadi salah satu pemicu. Seseorang yang telah membawa banyak pikiran dari rumah dapat semakin tertekan ketika menghadapi berbagai tugas dan gangguan di jalan.
Padahal, apabila seseorang tidak mudah marah, hidup terasa lebih nyaman. Memberi jalan kepada orang lain tidak akan mengurangi banyak waktu. Daripada terlibat pertengkaran, lebih baik mengalah. Ketika marah, jantung seakan-akan mendidih; itulah salah satu bentuk ujian.
Di jalan, seseorang dapat melihat pengendara yang melaju kencang dan mendahului orang lain dengan berbagai alasan. Ada yang dituntut pekerjaan, ada yang memang ugal-ugalan, dan ada pula yang sedang mengalami stres. Karena tidak mengetahui alasan mereka, seseorang sebaiknya tidak ikut terbawa emosi.
Kecepatan tidak perlu dibalas dengan kecepatan. Saling memacu kendaraan dan kejar-kejaran di jalan dapat membahayakan diri sendiri serta keselamatan orang lain. Banyak anak muda kehilangan masa depan karena kebut-kebutan. Mereka bukan pulang ke rumah, melainkan ke rumah sakit atau bahkan ke kuburan.
Di rumah sakit, terutama di unit gawat darurat, sering ditemukan korban tabrakan atau perkelahian. Kasus-kasus semacam itu menunjukkan bahaya kemarahan dan tindakan ceroboh di jalan.
Lebih memprihatinkan lagi, kemarahan tidak hanya terjadi pada anak muda. Orang yang sudah tua pun masih dapat mudah marah. Kehidupan pada zaman sekarang dipenuhi tekanan sehingga hati menjadi gelap, jiwa gelisah, dan saraf menegang.
Kemarahan yang Menular kepada Anak-Anak
Menurut penulis, fenomena kemarahan kini mulai terlihat bahkan pada anak-anak. Tantrum tidak hanya dilakukan anak-anak melalui teriakan dan berguling-guling. Orang tua pun dapat menunjukkan perilaku serupa. Penyakit tersebut seakan-akan menular kepada anak-anak.
Para ulama menyebutkan bahwa penyakit menular itu telah berpindah kepada anak-anak kecil dan bencananya telah sampai kepada mereka. Sebab serta dampaknya tampak pada diri mereka, seakan-akan sifat marah itu mereka serap bersama air susu ibu.
Kemarahan orang tua dapat ditularkan kepada anak-anak. Ketika telepon seluler diambil sebentar, sebagian anak langsung berteriak dan marah. Kemarahan tersebut menjadi penyakit yang harus diobati.
Kesabaran Pegawai dalam Menghadapi Gangguan
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan agar tidak marah. Nasihat ini secara khusus berlaku bagi pegawai. Seorang pegawai tidak sepantasnya cepat marah terhadap sesuatu yang didengarnya dari orang lain selama menjalankan tugas.
Sebagian manusia bersikap kasar dan keras kepala. Karena itu, pegawai lebih utama untuk bersabar dan menanggung gangguan yang diterimanya. Tidak semua orang memiliki perangai yang baik dan lembut.
Ketika menghadapi orang yang kasar, pegawai hendaknya menahan amarah dan mengharapkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla. Menahan amarah dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah akan memberikan pahala atas kesabaran tersebut.
Seseorang dapat memohon kepada Allah agar diberi pahala ketika mampu menahan kemarahan, meskipun sebenarnya ia mampu meluapkannya. Menahan kemarahan merupakan perwujudan sifat-sifat penduduk surga.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, dari” (QS. Ali Imran [3]: 133)
Allah menyediakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]: 134)
Ketenangan Pegawai Berasal dari Kemampuan Menahan Amarah
Hadits ke-16 berkaitan dengan pegawai yang tenang. Ketenangan itu muncul karena kemampuan menahan amarah dan emosi. Orang yang mampu menahan emosi dan amarah akan menjadi pribadi yang tenang.
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meminta nasihat. Beliau menjawab, “Jangan marah.” Orang itu mengulangi permintaannya, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap menjawab, “Jangan marah.”” (HR. Bukhari)
Menghadapi Kemarahan Orang Lain
Nasihat ini tidak hanya berlaku di kantor, tetapi juga di rumah dan di jalan. Kemarahan mudah menular, terutama ketika seseorang masuk ke lingkungan yang panas dan penuh emosi. Orang yang semula sabar dapat ikut terbawa suasana.
Dalam menghadapi kemarahan, seseorang perlu menahan diri, baik secara internal maupun eksternal. Terkadang seseorang menjadi tidak sabar karena melihat perilaku temannya atau menghadapi pekerjaan yang memancing emosi.
Mencintai Kebaikan bagi Sesama Mukmin
Kemampuan menahan amarah berkaitan dengan akhlak yang baik. Ketika melihat saudara sedang marah, seseorang tidak sepatutnya langsung merespons kemarahannya. Bisa jadi terdapat latar belakang yang membuatnya marah, seperti masalah keluarga atau kelelahan. Kita pun berharap orang lain memaklumi keadaan ketika kita sedang marah.
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Iman seseorang belum sempurna sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika dia tidak menyukai salah satu akhlaknya, niscaya dia akan menyukai akhlaknya yang lain.” (HR. Muslim)
Seorang mukmin tidak boleh membenci mukmin yang lain. Dalam konteks rumah tangga, seorang suami tidak boleh membenci istrinya hanya karena salah satu akhlaknya. Jika ada akhlak yang tidak disukai, hendaknya dia tetap melihat dan meridai akhlak baik yang lain.
Jika seorang kawan yang biasanya tenang tiba-tiba marah, hal itu dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang dihadapinya. Kita perlu memakluminya karena kondisi manusia dan keimanan dapat mengalami naik turun. Kita pun ingin dimaklumi ketika sedang berada dalam keadaan yang tidak baik.
Menikmati Kelebihan dan Menyabari Kekurangan
Dalam berinteraksi dengan kawan, termasuk di kantor, kita perlu melihat kelebihan dan kekurangannya. Nikmati kelebihannya dan bersabarlah terhadap kekurangannya. Jika seseorang hanya sesekali marah, kita dapat memakluminya. Namun, orang yang selalu marah memerlukan penanganan yang berbeda.
Kekuatan Sejati adalah Menahan Amarah
Orang yang mampu mengontrol dirinya adalah orang yang tidak melampiaskan kemarahannya. Kekuatan sejati bukanlah kemampuan memenangkan perkelahian, melainkan kemampuan menahan diri ketika marah. Orang yang mampu menahan diri ketika marah menunjukkan kematangan jiwa.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pakaian yang Baik dan Rapi
Hadits berikutnya cukup panjang sehingga pembahasannya ditunda hingga pertemuan berikutnya, insyaallah. Hadits tersebut membahas kebolehan memiliki pakaian yang bagus.
Dalam pekerjaan di kantor, pakaian hendaknya rapi dan disetrika. Pembahasan ini akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Ajaran Islam sangat luhur, dan semuanya terdapat dalam teladan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Demikian pembahasan kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pahala kepada kita semua serta ilmu yang bermanfaat. Wassalatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi wa barak wa sallam. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Senin, 19 Shafar 1448 H / 3 Agustus 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani
Bagikan Artikel
Tags
Artikel Terbaru
Kategori
Artikel Terkait

Hadits Manajemen 15: Sifat Kasih Sayang bagi Orang yang Beriman
Hadits lima belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Sifat Kasih Sayang bagi Orang yang Beriman....

Hadits Manajemen 14: Bersegera Memulai Aktivitas di Pagi Hari
Hadits empat belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang urgensi pergi di awal waktu untuk bekerja....

Hadits Manajemen 13: Semangat Menjaga Waktu
Hadits tiga belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: الْحِرْصُ عَلَى الْوَقْتِ (Semangat Menjaga Waktu). Tema...