-
DAYS
-
HOURS
-
MINUTES
-
SECONDS

Tunaikan Qurban Anda dari mana saja

Hadits Manajemen 8: Semangat Menjaga Waktu

Hadits kedelapan pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: الْحِرْصُ عَلَى الْوَقْتِ (Semangat Menjaga Waktu).

Tema ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan informasi bahwa banyak sekali manusia yang merugi dalam menyikapi dua nikmat ini. Sering kali saat sehat, manusia lalai untuk beramal, begitu pula saat memiliki waktu luang, ia lupa mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat.

Hakikat Waktu dalam Kehidupan

Penulis menjelaskan bahwa waktu adalah kehidupan itu sendiri. Waktu merupakan hakikat yang seharusnya menyadarkan orang-orang yang lalai dari kelalaiannya. Hari-hari terus berjalan dan akan berakhir, yang berarti berjalannya waktu juga menghabiskan fase-fase kehidupan manusia.

Ibnu Baththal Rahimahullahu Ta’ala memberikan penjelasan mengenai kalimat “banyak manusia” dalam hadits tersebut. Menurut beliau, orang yang mendapatkan taufik untuk menggunakan nikmat sehat dan waktu luang pada hal yang semestinya hanyalah sedikit. Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa “banyak manusia tertipu” secara otomatis menunjukkan bahwa hanya sedikit orang yang mampu memanfaatkan nikmat tersebut dengan benar.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerupakan manusia dengan seorang pedagang melalui penggunaan kata maghbun. Dalam istilah jual beli, ghobn berarti tertipu atau merasa rugi. Sebagai gambaran, seseorang yang membeli barang dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga pasar akan merasa sangat menyesal karena tertipu.

Kejadian semacam ini dalam urusan duniawi biasanya mendatangkan penyesalan yang luar biasa, bahkan sering kali diceritakan kepada orang lain karena rasa ruginya. Namun, sangat disayangkan banyak manusia yang bersikap biasa saja dan santai saat waktu sehat serta waktu luangnya terbuang sia-sia.

Banyak orang menghabiskan waktu luang hanya untuk aktivitas yang tidak penting di telepon seluler tanpa merasa rugi. Padahal, menggunakan kesehatan dan waktu luang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat adalah bentuk penipuan yang nyata terhadap diri sendiri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang adalah dua nikmat yang paling sering membuat manusia merugi.

Manusia sebagai Pedagang dan Modal Kehidupan

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerupakan manusia dengan seorang pedagang. Kesehatan dan waktu luang, yakni kondisi ketika seseorang tidak memiliki kesibukan yang menghalangi ketaatan, merupakan modal utama untuk meraih keuntungan dan kunci kesuksesan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Seseorang yang memanfaatkan kesehatan, kekuatan, serta waktu luangnya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dipastikan akan beruntung dalam perniagaannya dengan Allah. Sebaliknya, orang yang menggunakan kesehatan dan waktunya untuk bermaksiat akan mengalami kerugian besar karena telah menyia-nyiakan modal utama yang diberikan oleh Penciptanya. Orang yang menyia-nyiakan dua nikmat tersebut termasuk orang yang tertipu dan tidak mampu mengatur urusan hidupnya dengan baik.

Urgensi Waktu dan Sumpah Allah

Mengingat pentingnya kedudukan waktu, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah demi masa di dalam Al-Qur’an. Sumpah ini menunjukkan betapa besarnya urgensi waktu dalam kehidupan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ

“Demi masa.” (QS. Al-Asr[103]: 1)

Pelajaran berharga dari sumpah tersebut adalah waktu merupakan hal yang sangat krusial dan tidak boleh diremehkan. Setiap detik yang berlalu memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pemanfaatan waktu dan umur akan dimintai pertanggungjawaban secara terperinci di akhirat kelak. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Pertanyaan pertama berkaitan dengan umur secara keseluruhan. Bertambahnya usia berarti berkurangnya jatah hidup di dunia, sehingga seseorang harus semakin sadar bahwa ajal kian mendekat. Setiap orang akan ditanya mengenai aktivitas yang dilakukan selama hidupnya.

Pertanyaan kedua secara khusus menekankan pada masa muda, yaitu tentang bagaimana masa muda tersebut dihabiskan. Masa muda merupakan fase kekuatan yang harus diisi dengan ibadah dan kegiatan positif. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala termasuk golongan yang akan mendapatkan naungan istimewa dari Allah pada hari kiamat. Beruntunglah mereka yang memenuhi waktu mudanya dengan amal shalih dan menjauhi maksiat.

Orang tua memiliki peran besar dalam membimbing anak-anak sejak kecil agar tumbuh menjadi pemuda yang taat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keberhasilan bimbingan ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang tua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira mengenai kedudukan istimewa bagi pemuda yang saleh dalam haditsnya:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu dari tujuh golongan tersebut adalah:

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Masa muda merupakan fase krusial yang akan dimintai pertanggungjawaban secara khusus. Meskipun batasan usia muda sering dikaitkan hingga usia 40 tahun, setiap detik dalam masa tersebut sangat berharga untuk melakukan ketaatan.

Pertanyaan ketiga tentang harta, yang ditinjau dari dua sisi: dari mana ia memperolehnya dan ke mana ia menginfakkannya.

Pertanyaan keempat tentang ilmu, tentang apa yang telah diperbuat dengan ilmu tersebut.

Etika Kerja dan Profesionalisme Muslim

Pegawai yang cerdas dan berakal adalah mereka yang menyadari tanggung jawab besar terhadap waktu. Ia akan sangat bersemangat menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia. Waktunya digunakan untuk hal-hal bermanfaat, seperti membantu menunaikan kebutuhan sesama manusia dan menyelesaikan urusan muamalah mereka dengan cepat dan tepat.

Aktivitas membantu kebutuhan manusia merupakan amal yang mulia. Seorang pekerja yang baik akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak menyulitkan orang lain. Sangat disayangkan apabila terdapat oknum pekerja yang justru mempersulit urusan, seperti dalam pengurusan dokumen atau surat-menyurat, dengan tujuan mengulur waktu demi mendapatkan imbalan materi.

Menyia-nyiakan waktu sendiri maupun waktu orang lain tanpa faedah akan mendatangkan dosa di hari kiamat. Mentalitas yang sengaja mempersulit urusan yang seharusnya mudah merupakan cerminan buruk dari ketidakmampuan menghargai waktu. Seorang muslim sejati seharusnya mempermudah urusan orang lain dan tidak menjadi beban yang menghabiskan waktu sesamanya tanpa alasan yang dibenarkan.

Dosa Menyia-nyiakan Waktu Orang Lain

Seseorang yang mengurus kepentingan sesama namun sengaja memperlambat prosesnya hingga memakan waktu berpekan-pekan, padahal urusan tersebut bisa selesai dalam hitungan hari, telah melakukan perbuatan dosa. Hal ini dikarenakan ia telah menyia-nyiakan waktu orang lain yang sangat berharga. Fenomena ini sangat miris, terutama ketika seorang pegawai hanya berjalan ke sana kemari tanpa tujuan, sementara banyak orang menunggu untuk menyelesaikan urusan muamalah mereka.

Tindakan menyia-nyiakan waktu untuk isu-isu yang tidak penting hanya akan menghalangi dan merusak kemaslahatan manusia. Pegawai yang tidak disiplin membuat masyarakat kepayahan karena harus datang berulang kali secara sia-sia untuk mengurus dokumen seperti kartu tanda penduduk atau perkara lainnya. Perilaku ini telah merampas waktu berharga dari kehidupan orang lain tanpa manfaat sedikit pun.

Hambatan dalam Mengatur Waktu

Terdapat banyak hambatan yang dapat merusak pengaturan waktu seseorang. Setiap petugas atau pegawai yang mengemban amanah harus berusaha semaksimal mungkin menghindari hambatan-hambatan tersebut demi menjaga waktu. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa seorang mukmin harus memberikan manfaat bagi orang lain.

Di antara hambatan yang paling utama dalam mengatur waktu adalah sebagai berikut:

1. Tidak Adanya Tujuan dan Perencanaan

Seseorang yang tidak memiliki tujuan dan rancangan kerja dalam aktivitasnya akan mudah kehilangan arah. Sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan hadits, seorang muslim hendaknya memiliki perencanaan yang matang agar setiap detik yang dilalui bernilai ibadah dan produktif.

2. Rasa Malas dan Menunda Pekerjaan

Rasa malas dan kebiasaan menunda-nunda pekerjaa merupakan penghambat yang paling berat dalam manajemen waktu. Kebiasaan menunda hal yang seharusnya segera dikerjakan dapat merusak seluruh tatanan jadwal yang telah disusun. Menghargai waktu berarti menghargai kehidupan. Seorang muslim harus menghindari ketiadaan rencana, sifat malas, dan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Setiap pribadi wajib memiliki tujuan dan perencanaan yang jelas dalam menjalani hari-harinya. Sifat-sifat negatif tersebut harus dijauhi agar produktivitas dan keberkahan waktu tetap terjaga.

3. Mengatasi Sifat Lupa

Lupa merupakan salah satu penghambat utama dalam menyelesaikan urusan. Hal ini sering terjadi pada seseorang yang tidak mencatat target atau pekerjaan yang ingin diselesaikan. Dampak dari kelalaian mencatat ini adalah tersia-siakannya banyak kewajiban. Oleh karena itu, mencatat setiap rencana dan tugas dalam buku kecil atau catatan khusus merupakan langkah penting agar tanggung jawab tidak terabaikan.

4. Menghadapi Gangguan Orang Lain

Hambatan lainnya adalah gangguan atau interupsi dari orang lain yang mengajak pada kesibukan yang tidak penting dan tidak mendesak. Jika seseorang sedang menyelesaikan tugas kantor, lalu ada rekan yang mengajak pada hal yang tidak produktif, ia harus waspada agar tidak berpaling dari tujuan awal. Dalam kondisi tersebut, seseorang diperbolehkan memohon maaf dan menolak ajakan tersebut dengan penuh kesopanan.

Penting bagi setiap individu untuk belajar berkata “tidak” pada perkara yang dapat mengganggu prioritas pekerjaan. Terkadang, rasa sungkan membuat seseorang sulit bersikap tegas. Padahal, dalam pepatah Arab disebutkan bahwa keterusterangan membawa kenyamanan. Kejujuran mengenai kesibukan yang sedang dihadapi akan lebih menyelamatkan waktu dan tanggung jawab.

5. Menyempurnakan Pekerjaan

Salah satu penghambat kesuksesan adalah tidak menyempurnakan pekerjaan atau bekerja setengah-setengah. Perbuatan meninggalkan satu pekerjaan yang belum selesai untuk berpindah ke pekerjaan lain hanya akan mengakibatkan tidak adanya tugas yang tuntas secara berkualitas.

Ketidakkonsistenan atau kurangnya keberlanjutan dalam pengaturan waktu juga menjadi kendala besar. Seseorang yang diberikan amanah harus tetap konsisten (istimrar) hingga tugas tersebut selesai. Fokus dan ketekunan pada suatu bidang secara terus-menerus akan membentuk keahlian dan kemahiran pada diri seseorang.

6. Konsistensi dan Manajemen Berpikir dalam Bekerja

Konsistensi dalam sebuah bidang akan mengantarkan seseorang menjadi ahli di bidangnya. Sebaliknya, rasa malas dan pemikiran negatif hanya akan membuahkan hasil yang buruk. Pemikiran negatif serta buruk sangka kepada orang lain merupakan faktor utama munculnya berbagai masalah yang pada akhirnya hanya menghabiskan dan membuang-buang waktu secara sia-sia.

Setiap pribadi hendaknya berusaha untuk menikmati setiap pekerjaan yang sedang dilakukan. Apapun tugas yang diberikan, baik itu mengajar, menulis, maupun melayani muamalah di kantor, kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan untuk menikmati proses tersebut. Selain itu, sikap optimis dan berpikiran positif harus selalu dikedepankan dalam setiap situasi.

Kegagalan dalam suatu urusan tidak boleh menjadi alasan untuk menyia-nyiakan waktu dengan berlarut dalam kesedihan. Seseorang harus terus melangkah maju dan berusaha menemukan inovasi atau metode-metode baru guna menghemat serta mengefektifkan waktu setiap harinya. Penting untuk mencermati kembali kebiasaan-kebiasaan lama; jika terdapat kebiasaan yang terbukti hanya membuang waktu, maka kebiasaan tersebut harus segera ditinggalkan.

Salah satu contoh kebiasaan buruk yang harus dihindari adalah tidur kembali setelah waktu subuh. Waktu pagi adalah waktu yang penuh dengan keberkahan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud)

Mengisi waktu pagi dengan membaca Al-Qur’an atau langsung memulai aktivitas kerja jauh lebih utama daripada menyia-nyiakannya dengan tidur, karena keberkahan hidup sering kali dimulai dari bagaimana seseorang memanfaatkan pagi harinya.

Penunjang Produktivitas

Sebagai penunjang produktivitas, setiap orang disarankan untuk selalu menyiapkan buku catatan kecil. Mencatat ide-ide yang muncul secara tiba-tiba sangatlah penting, karena ide yang tidak segera dituliskan seringkali terlupakan begitu saja. Buku catatan tersebut juga berfungsi untuk mendokumentasikan target-target serta catatan penting dalam perjalanan hidup.

Dengan mencatat target pekerjaan, seseorang dapat memantau tugas mana yang sudah selesai dan mana yang belum. Perencanaan hari esok hendaknya dilakukan sejak malam sebelumnya. Memiliki rencana yang matang sejak malam hari atau setidaknya pada pagi hari akan menjaga kehidupan agar tidak berjalan sia-sia.

Setiap aktivitas harus memiliki alokasi waktu atau pengatur waktu yang jelas. Sebuah pekerjaan yang seharusnya selesai dalam tiga jam akan selesai dalam waktu tersebut jika diberikan batasan. Sebaliknya, jika waktu yang diberikan tidak terbatas, pekerjaan tersebut akan berlarut-larut. Oleh karena itu, penting untuk menyusun skala prioritas berdasarkan tingkat urgensinya dengan memulai dari perkara yang paling penting.

Seorang muslim hendaknya fokus pada satu pekerjaan hingga selesai dan tidak mengacaukan pikiran dengan mengerjakan banyak hal secara bersamaan. Kurangnya fokus sering kali mengakibatkan hasil yang tidak maksimal. Begitu pula dalam menuntut ilmu atau bekerja, gangguan dari aktivitas luar yang tidak berkaitan dapat merusak konsentrasi dan tujuan utama. Aktivitas yang tidak produktif harus dihentikan dan ditinggalkan.

Adab Berdiskusi dan Mengatur Diri

Dalam sebuah diskusi atau rapat, adab mendengarkan dengan baik sangatlah krusial. Seseorang harus menyimak pembicaraan hingga memahami maksud orang lain agar pendapat yang disampaikan tetap relevan dan nyambung. Ketidakpedulian saat orang lain berbicara, seperti asyik bermain telepon seluler, hanya akan memicu kesalahpahaman.

Kesalahpahaman yang timbul akibat kurangnya perhatian saat menyimak pembicaraan hanya akan menyebabkan pemborosan waktu yang tidak perlu. Mengatur diri sendiri dan lingkungan sekitar serta meminimalkan distraksi atau gangguan dari luar adalah langkah bijak dalam menjaga produktivitas.

Setiap individu hendaknya senantiasa bertanya kepada dirinya sendiri mengenai hal bermanfaat apa yang dapat dilakukan pada saat ini. Dengan membiasakan evaluasi diri secara berkelanjutan, waktu yang dimiliki akan senantiasa terisi dengan amal yang mendatangkan ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Salah satu caranya adalah dengan selalu membawa buku bacaan atau catatan kecil. Waktu-waktu menunggu, seperti saat berada di rumah sakit atau ketika mengurus administrasi, dapat diisi dengan membaca satu buku kecil hingga selesai. Dalam urusan janji temu, sangat penting untuk melakukan konfirmasi ulang melalui telepon atau pesan singkat sebelum waktu yang ditentukan. Memastikan kehadiran pihak lain dalam waktu yang cukup sebelum berangkat dapat mencegah pemborosan waktu akibat pembatalan mendadak, sehingga urusan lain dapat segera diselesaikan secara efektif.

Ketegasan dalam Mengelola Dokumen

Dokumen dan tumpukan kertas harus dikelola dengan tegas dan rapi. Seseorang tidak boleh membiarkan kertas-kertas bertumpuk di meja kantor atau di rumah tanpa pengaturan yang jelas. Kertas atau dokumen yang sudah tidak dibutuhkan sebaiknya segera disingkirkan atau dimusnahkan. Namun, perlu diperhatikan agar dokumen yang mengandung ayat Al-Qur’an atau hadits diperlakukan dengan penuh penghormatan dan tidak dibuang sembarangan.

Semua dokumen penting hendaknya disimpan di satu tempat yang jelas, teratur, dan rapi dalam kurun waktu satu minggu sekali. Selain itu, setiap individu perlu meninjau kembali tujuan dan rencana harian pada setiap kesempatan.

Fleksibilitas dalam Menjalankan Jadwal

Meskipun perencanaan itu penting, seseorang tidak perlu merasa khawatir berlebihan jika tidak mampu melaksanakan seluruh rencana secara sempurna. Jadwal harian seharusnya berfungsi untuk membantu mempermudah urusan, bukan justru menjadi belenggu yang mengikat dan membebani pikiran.

Terkadang, pengaturan waktu perlu sedikit dikurangi agar seseorang memiliki porsi untuk beristirahat. Waktu istirahat dan liburan sangat bermanfaat untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan pikiran. Fokus utama dalam beraktivitas hendaknya diarahkan pada pekerjaan yang memiliki dampak atau hasil yang besar di masa depan.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah | Kajian pada Selasa, 17 Dzulqaidah 1447 H / 4 Mei 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Artikel Terkait

Hadits ketujuh pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang: تَرْكُ النِّقَاشِ الْعَقِيمِ وَالْجِدَالِ وَالْمِرَاءِ (Meninggalkan diskusi yang…

Hadits keenam pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah berkaitan dengan ترك الفُحش (meninggalkan perbuatan keji). Pembahasan ini menekankan…

Hadits kelima pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah ini  membahas tentang “خير العمال أحسنهم أخلاقًا” (Sebaik-baik pegawai adalah…

Satu Langkah Kecil Anda, Banyak Perubahan untuk Mereka!

Scroll to Top