Hadits Ke-17: Keindahan Penampilan Pegawai

Hadits tujuh belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang keindahan penampilan pegawai. Pegawai hendaknya berpenampilan indah, rapi, dan baik.

Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah. Seorang laki-laki berkata, “Sesungguhnya seseorang suka mengenakan pakaian yang bagus dan sandal yang bagus.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”” (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada seluruh manusia tentang keindahan-keindahan Islam.

Islam tidak melarang keindahan dan kebersihan. Bahkan, Islam menyeru kepada segala bentuk keindahan yang sesuai dengan fitrah. Sesuatu yang tidak bersih, tidak rapi, dan tidak indah tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Islam mengajak umatnya menjaga keindahan, kerapian, dan kebersihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. (HR. Muslim)

Keindahan tidak terbatas pada bentuk fisik dan rupa semata. Memaknai keindahan hanya dari sisi fisik merupakan penyempitan makna. Cakupan keindahan lebih luas daripada itu.

Berhias, mempercantik, dan merapikan diri tidak bertentangan dengan zuhud di dunia. Zuhud berarti meninggalkan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat di akhirat. Dengan demikian, memperindah dan merapikan diri tetap sejalan dengan nilai zuhud.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersih dan paling harum. Beliau menyukai minyak wangi. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:

عن أنس رضي الله عنه ، قَالَ: مَا مَسِسْتُ دِيبَاجاً وَلاَ حَرِيراً ألْيَنَ مِنْ كَفِّ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةً قَطُّ أطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

“Aku tidak pernah menyentuh kain dibaj ataupun sutra yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aku juga tidak pernah mencium wewangian yang lebih harum daripada aroma Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Ibnu Jauzi rahimahullah berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hiasan ketika menciptakan manusia. Allah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Mata memiliki kenikmatan dalam memandang keindahan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersih dan paling harum. Beliau tidak pernah lepas dari siwak dan telah mencontohkan umatnya untuk bersiwak.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyukai jika tercium dari beliau bau yang tidak sedap. Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga kerapian dan kebersihan diri, mandi secara teratur, mengenakan pakaian yang rapi, serta memakai minyak wangi.

Seseorang yang menisbatkan dirinya kepada Islam dan berdakwah tidak semestinya tampil dengan pakaian yang kusut serta aroma yang tidak sedap. Hal itu tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku sangat kagum kepada seorang pemuda yang pakaiannya bersih dan aromanya harum.”

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengagumi seorang pemuda ahli ibadah yang pakaiannya bersih dan aromanya harum. Hal ini menunjukkan anjuran memakai minyak wangi. Membelinya dengan niat meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga termasuk bentuk mengikuti sunah. Minyak wangi tidak harus mahal; yang penting aromanya harum.

Berpenampilan Rapi Tanpa Berlebihan

Mengeluarkan uang untuk membeli minyak wangi juga merupakan sunah dan mendatangkan pahala. Uang sebesar Rp25.000 yang dikeluarkan untuk membeli minyak wangi berpahala, demikian pula penggunaannya.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah menceritakan tentang ayahnya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

“Aku tidak pernah melihat seseorang yang pakaiannya lebih bersih, lebih memperhatikan kebersihan diri, kumis, rambut kepala, dan rambut badannya, serta pakaiannya lebih suci dan lebih putih daripada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.”

Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam Ahlusunah waljamaah, memberikan teladan dalam mengenakan pakaian yang rapi. Beliau sangat memperhatikan kebersihan kumis, pakaian, dan menyukai pakaian berwarna putih.

Penampilan rapi tanpa berlebihan dan berhias diri tanpa membebani diri merupakan adab serta bimbingan Islam. Selama ini, sebagian orang menyangka kerapian dan keindahan penampilan berasal dari Barat. Padahal, Islam telah mengajarkannya.

Pada masa kecil, ketika masih duduk di sekolah menengah pertama dan belajar di sebuah pesantren dekat gunung, pernah ada seseorang yang bertanya ketika melihat santri mandi di kolam mata air, “Sudah budukan belum?” Pertanyaan itu menunjukkan anggapan bahwa pesantren dahulu identik dengan kondisi jorok.

Alhamdulillah, pesantren dan masjid sekarang sudah lebih bersih. Sebagian ikhwah juga melakukan gerakan membersihkan masjid-masjid yang kotor. Tempat ibadah harus bersih karena kebersihan menggambarkan Islam. Menampilkan Islam dengan baik merupakan tugas kaum Muslimin.

Penampilan rapi dan berhias diri tanpa membebani diri merupakan bagian dari adab serta bimbingan Islam. Islam menghendaki pemeluknya menjunjung tinggi kedudukan dan keindahan penampilan agar mudah dikenali di tengah manusia.

Islam tidak menghendaki seseorang mengejar keindahan penampilan tanpa kendali, mengambilnya tanpa pertimbangan, atau berhias diri tanpa takaran yang benar.

Syariat Islam mengajak kepada setiap keutamaan yang indah dan melarang segala keburukan yang tercela serta hina.

Siapa yang memperhatikan penampilannya tanpa berlebihan dan menjauhkan diri dari menyerupai orang-orang kafir, penampilannya akan menyenangkan orang-orang yang melihatnya.

Manusia pada umumnya tidak menyukai orang yang berpenampilan asal-asalan dan acak-acakan. Sebaliknya, mereka senang melihat orang yang berpenampilan rapi.

Berpenampilan menarik di hadapan manusia merupakan sesuatu yang dianjurkan. Hal ini didukung oleh sebuah riwayat dalam Al-Baihaqi dengan sanad yang hasan.

“Sesungguhnya, apabila Allah memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, Dia suka melihat bekas nikmat tersebut pada diri hamba-Nya.” (HR. Al-Baihaqi)

Apabila Allah memberikan kemampuan untuk membeli pakaian, seseorang boleh membeli pakaian yang dapat dikenakan dengan rapi tanpa merendahkan diri.

Nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba merupakan kenikmatan di atas kenikmatan karena dapat mendatangkan cinta Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa apabila Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba, Dia senang melihat pengaruh nikmat tersebut pada diri hamba itu.

“Sesungguhnya apabila Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, Dia menyukai apabila pengaruh nikmat tersebut terlihat pada dirinya.”

Termasuk kebaikan ialah seorang mukmin berpenampilan menarik. Ia menampakkan keindahan pada pakaian dan penampilannya di hadapan manusia sebagai bentuk menampakkan nikmat Allah, kekuatan Islam, serta keindahan dan kemegahan yang Allah berikan kepadanya.

Kesombongan dan berpenampilan menarik merupakan dua hal yang berbeda. Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang orang yang menyukai pakaian dan sandal yang bagus, apakah hal itu termasuk kesombongan yang menghalangi seseorang masuk surga.

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Hal ini menunjukkan perbedaan antara kesombongan dan berpenampilan menarik.

Berpakaian bagus dan berpenampilan menarik merupakan bagian dari keindahan yang mendatangkan cinta Allah. Adapun kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Kedua sifat tersebut terdapat pada Iblis. Ketika diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersujud kepada Nabi Adam, Iblis menolak perintah itu dan berkata, “Aku lebih baik darinya.” Ia merendahkan Nabi Adam dengan mengatakan bahwa dirinya diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.

Iblis menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Kesombongan merupakan sifat yang sangat berbahaya. Karena kesombongan itu, Iblis yang sebelumnya berada di alam malaikat bersama para malaikat Allah dihinakan sehina-hinanya dan dikeluarkan dari surga.

Berpakaian dan berpenampilan menarik bukanlah kesombongan. Seorang muslim boleh berpakaian rapi dan menarik, terlebih pegawai yang berhadapan dengan banyak manusia. Penampilan merupakan bagian dari kehidupan dan bukan bagian dari kesombongan.

Pegawai yang sukses dan mendapatkan taufik dalam pekerjaannya senantiasa memperhatikan penampilan dan perawakannya.

Hadits berikutnya membahas anjuran agar pegawai senantiasa tersenyum. Pembahasan tersebut dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan ini diharapkan mendatangkan manfaat, khususnya bagi kehidupan akhirat.

Penutup Hadits Ke-17

Pembahasan hadits ke-17 dicukupkan sampai di sini. Pertemuan berikutnya akan membahas hadits ke-18 tentang anjuran untuk selalu tersenyum.

Anjuran untuk Selalu Tersenyum

Anjuran untuk selalu tersenyum merupakan pelajaran penting. Jangan menjadi pegawai yang tidak memiliki senyum. Orang yang tidak tersenyum terhalang dari banyak kebaikan. Senyum memiliki manfaat dari sisi kedokteran dan psikologi: membuat tubuh sehat dan orang lain senang. Selain itu, senyum mendatangkan pahala.

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah.”

Orang yang tidak tersenyum biasanya memiliki banyak masalah.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah. Kajian pada Senin, 25 Rabi’ul Awal 1448 H / 7 September 2026. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Artikel Terkait

Hadits enam belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Pegawai yang Tenang. Pada kesempatan ini, kita...

Hadits lima belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Sifat Kasih Sayang bagi Orang yang Beriman....

Hadits empat belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang urgensi pergi di awal waktu untuk bekerja....

Satu Langkah Kecil Anda, Banyak Perubahan untuk Mereka!

Scroll to Top