Hadits Ke-18: Senantiasa Tersenyum

Hadits delapan belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas mengenai pentingnya senantiasa tersenyum (دَائِمُ البَسْمَةِ). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan amalan-amalan ringan bernilai pahala sedekah yang besar. Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Amar makruf (menganjurkan kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemungkaran) yang engkau lakukan adalah sedekah bagimu. Petunjuk yang engkau berikan kepada seseorang yang tersesat adalah sedekah bagimu. Bantuan yang engkau berikan kepada orang yang buruk penglihatannya adalah sedekah bagimu. Menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan adalah sedekah bagimu. Menuangkan air dari embermu ke dalam ember saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Luasnya Makna Sedekah

Sedekah sering kali dipahami terbatas pada pengeluaran harta atau uang kepada orang yang membutuhkan. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan cakupan sedekah yang sangat luas melalui amalan nonmateri yang mendatangkan pahala besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Amalan pertama adalah tersenyum. Menampakkan wajah yang manis, ceria, dan tidak masam di hadapan saudara atau kawan terhitung sebagai sedekah. Sebaliknya, menunjukkan wajah cemberut saat bertemu orang lain bukan merupakan sedekah dan berpotensi menimbulkan dosa.

Amalan kedua adalah amar makruf dan nahi munkar. Memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran di mana pun berada merupakan bentuk sedekah. Sebagai contoh, mengingatkan rekan kerja yang kurang bersemangat atau menyia-nyiakan waktu kerja, karena kelalaian tersebut dapat berakibat buruk di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Amar makruf dan nahi munkar merupakan bagian dari sedekah. Menegur seseorang yang menyia-nyiakan waktu kerja saat memegang amanah, lalu mengarahkannya untuk berdzikir atau menunaikan shalat, terhitung sebagai sedekah. Upaya menegakkan amar makruf nahi munkar ini dapat diterapkan di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas, meskipun melalui perkara-perkara yang ringan.

Amalan ketiga,

وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ

“Petunjuk yang engkau berikan kepada seseorang di tempat yang tersesat bernilai sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Membimbing orang yang tersesat di suatu tempat atau jalan agar menemukan arah yang benar bernilai sedekah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Amalan keempat,

وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ

“Bantuan penglihatan yang engkau berikan kepada orang yang buruk penglihatannya bernilai sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Bantuan tersebut mencakup pertolongan kepada orang tua atau sesama yang memiliki pandangan rabun, seperti membantunya membaca ayat Al-Qur’an atau memperjelas apa yang tidak dapat ia lihat.

Amalan kelima,

وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ

“Engkau menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalanan bernilai sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Penyebutan batu, duri, dan tulang merupakan perumpamaan, bukan pembatasan. Setiap upaya menyingkirkan rintangan yang membahayakan pengguna jalan—seperti balok atau ranting—termasuk sedekah sekaligus bagian dari cabang keimanan.

Amalan keenam,

وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu bernilai sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Memberikan kemudahan air bagi orang lain, sekecil menuangkan air ke wadah miliknya, mengandung pahala sedekah yang besar. Sebagaimana program-program yang dilakukan oleh LAZ Rabbani.

Lihat: Program sedekah air

Orang yang membantu atau mempersiapkan orang lain berbuat kebaikan, seperti dalam program penyediaan air bersih, mendapatkan pahala yang serupa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap bantuan yang diberikan kepada sesama bernilai pahala besar.

Senyum sebagai Sedekah Terbesar bagi Diri Sendiri

Di antara sedekah paling utama yang dipersembahkan seorang mukmin untuk dirinya sendiri adalah tersenyum kepada orang lain. Kebaikan dan amal saleh pada hakikatnya membawa manfaat pertama kali kepada pelakunya sendiri sebelum sampai kepada orang lain. Senyuman yang tulus membahagiakan dan menyejukkan hati sesama, sekaligus mendatangkan ganjaran sedekah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dan tidak membutuhkan ibadah hamba-Nya. Manusia sendirilah yang membutuhkan ibadah tersebut. Ketika seseorang berinteraksi dengan ramah dan tersenyum kepada saudaranya, pahala besar langsung dicatat untuk dirinya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikenal sebagai pribadi yang senantiasa tersenyum kepada para sahabatnya. Beliau hampir tidak pernah bermuka masam. Ketika beliau sekali bermuka masam kepada seorang sahabat tunanetra, Allah Subhanahu wa Ta’ala langsung menegurnya sebagaimana tercantum dalam Surah ‘Abasa. Peristiwa tersebut menegaskan bahwa sifat dasar beliau adalah selalu menampakkan wajah ceria dan berseri-seri.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Jarir radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menghalangiku (untuk bertemu) sejak aku masuk Islam, dan beliau tidak pernah memandangku melainkan selalu tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari)

Seorang dai atau ustadz semestinya mudah ditemui oleh umat dan tidak bersikap eksklusif dengan pengawalan yang berlebihan. Penjagaan ketat berlapis-lapis dalam kondisi normal tidak sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pengawalan ketat hanya wajar bagi pemimpin negara atau dalam situasi darurat dan genting. Dai adalah manusia biasa yang menjadi milik umat, sehingga tidak pantas menuntut perlakuan berlebihan seperti di masa kolonialisme, misalnya santri yang harus berjalan merangkak atau melempar makanan ketika melayani. Islam melarang sikap-sikap berlebihan semacam itu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia paling mulia di dunia dan akhirat, namun beliau tidak pernah menyulitkan para sahabat yang ingin bertemu. Sahabat Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hal ini,

مَا حَجَبَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ أَسْلَمْتُ، وَلاَ رَآنِي إِلَّا تَبَسَّمَ فِي وَجْهِي

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menghalangiku untuk bertemu dengannya sejak aku masuk Islam, dan tidaklah beliau melihatku melainkan selalu tersenyum di hadapanku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut membuktikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum. Manusia biasa yang bukan siapa-siapa tentu jauh lebih patut meneladani beliau, bukan justru bermuka masam dan cemberut. Sunnah tersenyum ini sulit dilakukan oleh orang-orang yang berhati keras dan jauh dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, orang yang terbiasa tersenyum hidup bahagia serta mampu menularkan kebahagiaan kepada lingkungan sekitarnya.

Pentingnya Senyuman dalam Lingkungan Kerja

Penulis kitab menjelaskan bahwa sebagian karyawan seolah menutup saluran senyuman di kedua bibirnya. Mereka senantiasa bermuka masam dan dahinya berkerut saat berhadapan dengan orang lain. Sikap cemberut tersebut mengurangi rasa nyaman orang yang berinteraksi dengannya. Seseorang yang menerima pemberian uang dari orang yang berwajah cemberut tentu merasa tidak nyaman, sedangkan perjumpaan dengan orang yang murah senyum menghadirkan ketenteraman di hati meski tanpa pemberian materi.

Senyuman yang ceria memiliki peran besar dalam menampakkan kepribadian seseorang. Senyum merupakan salah satu indikator paling menonjol dari kepribadian yang baik dan unggul. Kesan pertama atas kebaikan pribadi seseorang terpancar kuat dari senyuman yang ia berikan kepada orang lain.

Pribadi yang baik senantiasa menampakkan senyuman. Senyum mampu menumbuhkan rasa percaya seketika dan menunjukkan niat baik seseorang kepada orang lain. Oleh sebab itu, senyuman memiliki pengaruh yang sangat besar dalam interaksi sosial.

Sebuah pepatah Tiongkok menyebutkan bahwa barang siapa yang tidak bisa tersenyum, hendaknya ia tidak membuka toko. Orang yang sulit tersenyum akan membuat pembeli enggan berkunjung. Pengalaman mendatangi toko dengan pelayan yang cemberut kerap membuat orang enggan kembali bertransaksi di tempat tersebut, sekalipun harga barangnya murah.

Sebaliknya, sambutan yang ramah dan penuh senyuman menghadirkan kenyamanan bagi pelanggan. Pelatihan pelayanan prima mengajarkan para staf untuk menyambut setiap tamu dengan sapaan hangat dan senyuman. Pelanggan merasa dihargai saat disambut dengan penuh keramahan.

Senyuman yang menyenangkan sangat dibutuhkan saat berhadapan dengan publik, termasuk bagi petugas di balik meja kasir. Pelayanan kasir yang ramah membuat proses transaksi terasa menyenangkan, sedangkan sikap yang ketus dan tidak ramah membuat pelanggan merasa tidak nyaman. Sikap ramah, cekatan, dan menyenangkan inilah yang membuat orang betah berbelanja.

Kesaksian Sahabat Jarir Mengenai Senyum Rasulullah

Sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu memberikan persaksian,

مَا رَآنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا تَبَسَّمَ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah melihatku melainkan beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari)

Pernyataan Jarir radhiyallahu ‘anhu tersebut menegaskan bahwa sepanjang kebersamaannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa menyambutnya dengan wajah yang berseri dan penuh senyuman.

Senyuman memiliki kemampuan untuk memikat hati seseorang. Selain memikat, senyuman juga dapat meruntuhkan dinding penghalang perselisihan serta meluluhkan rasa benci dan permusuhan. Hambatan hubungan antarsesama dapat terurai hanya dengan satu kali senyuman.

Pengaruh senyuman juga sangat terasa dalam kehidupan rumah tangga. Rasa jengkel antara suami dan istri dapat mereda seketika ketika disambut dengan senyuman hangat saat bertemu di rumah, berbanding terbalik dengan wajah cemberut yang memicu tanda tanya dan ketegangan.

Kenyamanan Berinteraksi dengan Pribadi Murah Senyum

Seseorang yang menjalankan pekerjaannya dengan senyuman senantiasa menghadirkan rasa nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Berinteraksi dan berbicara dengan pribadi yang murah senyum memberikan ketenteraman, berbeda dengan berada di dekat orang yang selalu berwajah masam yang menimbulkan rasa tidak nyaman.

Tersenyumlah! Karena senyuman terbukti mampu meningkatkan produktivitas saat menjalankan tugas. Mengawali pekerjaan dengan senyuman memberikan dorongan motivasi untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh, serta menjadikan beban tugas terasa lebih ringan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing dalam kebaikan serta memudahkan seluruh urusan dunia dan akhirat.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah. Kajian pada Senin, 24 Rabi’ul Akhir 1448 H / 5 Oktober 2026 M. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

Hadits tujuh belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang keindahan penampilan pegawai. Pegawai hendaknya berpenampilan indah,...

Hadits enam belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Pegawai yang Tenang. Pada kesempatan ini, kita...

Hadits lima belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Sifat Kasih Sayang bagi Orang yang Beriman....

Satu Langkah Kecil Anda, Banyak Perubahan untuk Mereka!

Scroll to Top