Hadits Manajemen 19: Pentingnya Memperhatikan Hati

Hadits sembilan belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas mengenai pentingnya memperhatikan hati. Hadits ke-19 ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ath-Thabrani, serta dinyatakan shahih dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib nomor 2889. Hadits ini memberikan dorongan penting untuk senantiasa memperhatikan dan memperbaiki kondisi hati. Banyak orang lebih mengutamakan penampilan lahiriah, padahal penilaian Allah Subhanahu wa Ta megarah pada keadaan hati.

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat kepada jasad kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Perhatian terhadap masalah hati sangat penting. Keinginan untuk meraih kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ampunan-Nya, serta derajat yang tinggi menuntut setiap orang untuk menyucikan dan memperbaiki hatinya.

Kriteria Hati yang Suci (Naqiyul Qalbi)

Hadits ke-19 diberi judul Naqiyul Qalbi, yang bermakna hati yang suci, bersih, dan baik. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu.

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ”. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: “التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”.

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai manusia yang paling utama. Beliau menjawab, ‘Setiap orang yang hatinya makhmum dan lisannya jujur.’ Para sahabat bertanya, ‘Orang yang lisannya jujur telah kami ketahui, lalu apakah yang dimaksud dengan hati yang makhmum?’ Beliau bersabda, ‘Hati yang bertakwa dan suci, tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada kezaliman, tidak ada kedengkian, dan tidak ada hasad.’” (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Manusia yang paling utama di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan diukur dari paras yang tampan atau bentuk fisik yang bagus, melainkan orang yang memiliki lisan yang jujur serta hati yang makhmum, yaitu hati yang bertakwa, bersih dari dosa, kezaliman, kedengkian, dan sifat hasad.

Keutamaan seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menurut pandangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diukur dari kekuatan fisik, kekayaan harta, kendaraan mewah, maupun tingginya jabatan. Manusia yang paling utama adalah yang memiliki makhmumul qalbi dan lisan yang jujur.

Hati yang makhmum adalah hati yang bertakwa, yaitu hati seseorang yang senantiasa berusaha menjalankan seluruh perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Selain bertakwa, makhmum juga bermakna suci (an-naqi), yaitu hati yang bersih dari dosa, kezaliman, kedengkian (ghil), dan iri hati (hasad). Orang yang memiliki hati bersih dan suci merupakan manusia yang paling utama, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat rupa maupun jasad hamba-Nya, melainkan melihat hatinya.

Kedudukan Abu Bakar As-Siddiq

Manusia terbaik setelah para nabi dan rasul menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Abu Bakar As-Siddiq. Kedudukan tersebut ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh.” (QS. An-Nisa [4]: 69)

Berdasarkan Surah An-Nisa ayat 69, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa kedudukan siddiqin berada langsung setelah para nabi. Di antara para sahabat, sosok yang mendapat julukan As-Siddiqul Akbar adalah khalifah pertama, Abu Bakar As-Siddiq.

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, keutamaan Abu Bakar As-Siddiq melebihi sahabat lainnya bukan karena banyaknya kuantitas ibadah fisik. Sebagian sahabat lain memiliki ibadah yang sangat berat, seperti shalat malam menggunakan tali untuk bersandar atau berpuasa terus-menerus. Selain itu, banyak sahabat yang hidup serbakekurangan dan tinggal di Masjid Nabawi seperti Abu Hurairah, Suhaib Ar-Rumi, dan Uqbah bin ‘Amir. Abu Bakar As-Siddiq adalah seorang yang sangat kaya dan wafat di tengah keluarganya, namun kedudukannya tetap paling utama di antara seluruh sahabat.

Beberapa sahabat gugur di medan perang, seperti Umar, Utsman, dan Ali yang wafat terbunuh. Namun, kedudukan Abu Bakar As-Siddiq tetap lebih utama daripada mereka semua karena faktor kebersihan dan kekuatan hatinya. Abu Bakar bin Ayyash menyatakan bahwa Abu Bakar As-Siddiq mengungguli para sahabat lain bukan semata-mata karena banyaknya shalat atau puasa, melainkan karena keimanan, pembenaran (tasdiq), dan kesucian yang tertancap di dalam hatinya.

Seseorang yang ingin mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala harus mengutamakan penataan hati. Hal utama yang perlu diperhatikan bukanlah penampilan fisik, melainkan kualitas iman, kesucian hati, serta terbebasnya hati dari sifat dengki (hasad) kepada sesama.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan kriteria manusia yang paling utama, yaitu orang yang memiliki hati makhmum (bersih) dan lisan yang jujur.

كُلُّ مَحْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ

“Setiap orang yang hatinya bersih (makhmum) dan lisannya jujur.”

Kebersihan Hati sebagai Kunci Taufik Beramal Saleh

Penulis kitab Al-Arba’un Al-Idariyah mengatakan bahwa di antara faktor yang membantu seseorang untuk beramal saleh adalah kebersihan hati dari rasa dengki, hasad, dan kebencian terhadap sesama muslim. Kebersihan hati menjadi syarat agar seseorang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beramal.

Penyakit hati seperti kedengkian dan hasad dapat menghalangi seseorang dari taufik Allah untuk meraih kebaikan. Oleh karena itu, para pegawai hendaknya bersungguh-sungguh menjaga kebersihan hati agar senantiasa memperoleh taufik dalam menjalankan ketaatan.

Alangkah indahnya hati yang suci, bersih, dan bertakwa, tidak ada kedengkian dan hasad. Hati tersebut dipenuhi dengan rasa cinta, terutama cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta sesama kaum mukminin. Kebencian hanya diberikan kepada hal-hal yang dibenci sesuai syariat Allah, seperti kekafiran dan kemunafikan.

Hati yang selamat ini dinamakan qalbun salim, yaitu kondisi hati yang akan memberikan manfaat bagi pemiliknya di hari kiamat kelak.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ‎﴿٨٨﴾‏ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ‎﴿٨٩﴾

“(yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 88-89)

Qalbun salim adalah hati yang terbebas dari kesyirikan, kemunafikan, kekafiran, bid’ah, serta bersih dari rasa iri, dengki, hasad, dan kebencian terhadap sesama kaum muslimin.

Kisah Calon Penduduk Surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengabarkan sosok calon penduduk surga kepada para sahabat. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad beliau dan dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.

Anas bin Malik menceritakan bahwa saat mereka sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang laki-laki dari kalangan penduduk surga.” Kemudian muncullah seorang laki-laki dari kalangan Anshar dengan jenggot yang masih meneteskan air wudhu dan tangan kirinya memegang kedua sandalnya.” (HR. Ahmad)

Peristiwa tersebut berulang selama tiga hari berturut-turut. Setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan sabda yang sama, laki-laki dari Anshar itu muncul dengan kondisi yang persis sama.

Rasa penasaran membuat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengikutinya. Beliau beralasan sedang berselisih dengan ayahnya dan bersumpah tidak memasuki rumah ayahnya selama tiga hari. Abdullah lalu meminta izin menginap di rumah laki-laki tersebut demi mengetahui amalan hariannya, dan laki-laki itu menyetujuinya.

Selama tiga malam menginap, Abdullah tidak melihat laki-laki tersebut melaksanakan shalat malam. Hanya saja, setiap kali terbangun dan membalikkan badan di atas tempat tidurnya, ia selalu berdzikir dan bertakbir kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga bangun untuk melaksanakan shalat Subuh.

Selain kebiasaan berdzikir tersebut, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mencatat rahasia keutamaan lainnya, yaitu lisan laki-laki tersebut tidak pernah mengucapkan sesuatu melainkan kebaikan.

Setelah tiga malam berlalu, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash tidak mendapati amalan ibadah yang menonjol dari laki-laki tersebut, seperti shalat malam yang intensif. Beliau pun berterus terang bahwa sebenarnya tidak ada perselisihan antara dirinya dengan sang ayah. Kedatangannya semata-mata karena mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda hingga tiga kali mengenai calon penduduk surga.

“Akan muncul kepada kalian sekarang seorang laki-laki dari penduduk surga.”

Laki-laki yang sama muncul selama tiga hari berturut-turut setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda demikian. Abdullah berniat menginap untuk melihat amalan khususnya agar dapat mencontohnya. Namun, beliau tidak melihat amalan yang banyak, sehingga beliau menanyakan rahasia amalan yang dapat mengantarkan laki-laki tersebut pada derajat yang mulia.

Laki-laki itu awalnya menjawab bahwa dirinya tidak memiliki amalan khusus selain yang telah terlihat. Namun, ketika Abdullah beranjak pergi, laki-laki tersebut memanggilnya kembali dan menjelaskan bahwa hatinya tidak pernah menyimpan rasa iri, dengki, maupun prasangka buruk kepada sesama muslim atas kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka.

Mendengar penjelasan tersebut, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash mengakui bahwa kebersihan hati itulah yang mengantarkan laki-laki tersebut pada derajat yang tinggi, sebuah amalan yang sangat sulit untuk dilakukan. Kebersihan hati dari rasa benci dan hasad merupakan amalan utama yang menghantarkan seseorang menjadi penduduk surga.

Penetapan status seseorang sebagai penduduk surga atau neraka tidak boleh dilakukan sembarangan. Hal ini merupakan perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan disampaikan melalui wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang tidak diperbolehkan memastikan bahwa orang lain pasti masuk surga, meskipun amalan lahiriahnya terlihat sangat saleh.

Pengecualian hanya berlaku bagi orang-orang yang telah ditentukan secara tegas oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, di antaranya Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Radhiyallahu ‘Anhum. Demikian pula dalam penetapan penduduk neraka, hal itu hanya berlaku bagi pihak yang secara tegas disebutkan dalam dalil, seperti Abu Lahab dan Abu Jahal. Adapun selain mereka, tidak ada manusia yang berhak memastikan status surga atau neraka seseorang.

Keutamaan Hati yang Bebas dari Dengki

Melalui keterangan Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘Anhuma, diketahui bahwa sifat utama seorang calon penduduk surga adalah ketiadaan rasa iri dan dengki di dalam hatinya kepada siapa pun. Keutamaan besar ini diraih bukan karena banyaknya amalan lahiriah, melainkan karena kebersihan hati dari sifat hasad dan keinginan untuk berbuat curang.

Hati calon penduduk surga dipenuhi dengan rasa cinta dan persaudaraan terhadap sesama muslim. Seseorang yang memperbaiki hatinya—yang merupakan tempat perhatian Allah Subhanahu wa Ta’ala—akan dicintai oleh sesamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan rasa cinta di hati manusia terhadap orang yang senantiasa menjaga kebersihan hatinya dari kebencian.

Mudah-mudahan kita bisa meniru orang ini agar bisa mendapat peluang masuk surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan tanpa amal yang banyak, hanya dengan satu amalan, yaitu tidak ada rasa iri dan hasad di hati kepada sesama, serta tidak ada keinginan untuk menipu orang lain.

Hati tersebut diisi dengan mahabbah atau kecintaan kepada sesama kaum muslimin. Sebaik-baik manusia adalah orang yang mencintai saudaranya, menebarkan kecintaan, dan membangun persaudaraan. Orang seperti ini akan dicintai oleh sesama dan kawan-kawannya, serta kehadirannya selalu dirindukan dan disenangi karena ia telah memperbaiki hatinya yang menjadi tempat Allah Subhanahu wa Ta’ala memandang.

Ini adalah rahasia mengapa ada orang yang disukai dan dicintai oleh orang lain, sementara ada pula yang dibenci. Di antara rahasianya adalah orang yang disukai telah berusaha memperbaiki dirinya dengan menanamkan kecintaan kepada kaum muslimin di dalam hatinya dan menghilangkan segala bentuk kebencian.

Cara Mengikis Sifat Hasad dari Hati

Para ulama menjelaskan bahwa cara mengikis sifat hasad adalah dengan memperdalam iman, meyakini kehidupan akhirat, serta senantiasa mengharapkan pahala dari Allah. Ketika melihat orang lain memperoleh rezeki atau kelebihan yang tidak dimiliki, kesadaran dan ingatan akan hari akhirat dapat membentengi hati dari rasa iri.

Mengingat akhirat dan mempertebal iman merupakan cara yang ampuh untuk mengikis rasa iri dan dengki. Di samping itu, berdoa saat melihat orang lain memperoleh kenikmatan juga merupakan sarana yang diajarkan untuk membersihkan hati.

Hal tersebut meneladani Nabi Zakaria ‘alaihis salam ketika melihat Maryam mendapatkan rezeki berupa buah-buahan musim dingin pada musim panas, dan buah-buahan musim panas pada musim dingin. Ketika Nabi Zakaria bertanya tentang asal rezeki tersebut, Maryam menjawab bahwa karunia itu datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melihat kekuasaan Allah tersebut, Nabi Zakaria tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memohon anugerah yang sangat beliau harapkan, yaitu keturunan.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.’” (QS. Ali ‘Imran [3]: 38)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa saat melihat orang lain mendapatkan rezeki atau kelebihan, momen tersebut merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa. Selain dapat mengikis sifat iri dan dengki, doa yang dipanjatkan pada saat itu berpeluang besar dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya, ketika melihat seorang rekan mendapatkan kendaraan baru, hendaknya mendoakan kebaikan baginya sekaligus memohon kepada Allah agar dianugerahi rezeki serupa atau yang lebih baik. Melalui peristiwa tersebut, doa Nabi Zakaria pun langsung dikabulkan dengan beroleh putra bernama Nabi Yahya ‘alaihis salam.

Setan senantiasa berusaha menjauhkan manusia dari keutamaan dan kebersihan hati. Perlu disadari bahwa memelihara sifat hasad atas nikmat yang diterima orang lain pada hakikatnya adalah bentuk ketidakrelaan terhadap takdir dan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hasad tergolong sebagai dosa besar yang merusak.

Ditrankrip oleh Tim LAZ Rabbani dari kajian Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. Hafidzahullah. Kajian pada Senin, 22 Jumadil Awal 1448 H / 2 November 2026 M. Video kajian: YouTube LAZ Rabbani

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

Hadits delapan belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas mengenai pentingnya senantiasa tersenyum (دَائِمُ البَسْمَةِ). Rasulullah Shallallahu...

Hadits tujuh belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang keindahan penampilan pegawai. Pegawai hendaknya berpenampilan indah,...

Hadits enam belas pada kitab Al-Arbaun Al-Idariyah membahas tentang Pegawai yang Tenang. Pada kesempatan ini, kita...

Satu Langkah Kecil Anda, Banyak Perubahan untuk Mereka!

Scroll to Top